Minggu, 22 Desember 2013

SENYUM BODHISATTVA KSITIGARBHA

SENYUM BODHISATTVA KSITIGARBHA

Artikel Dharma ke-39, Desember 2013

Ivan Taniputera.
22 Desember 2013



Bodhisattwa Ksitigarbha
Tidak hanya tersenyum pada yang kaya
Melainkan juga pada yang miskin papa
Tidak hanya tersenyum pada orang mulia
Melainkan juga pada yang hina
Tidak hanya tersenyum pada yang cendekia
Melainkan juga pada yang hanya sedikit kecerdasan akalnya
Tidak hanya tersenyum pada yang menghormatinya
Melainkan juga pada yang mencelanya
Tidak hanya tersenyum pada yang baik budi
Melainkan juga pada yang buruk pekerti
Senyumnya menjangkau semua makhluk dan insan tanpa kecuali
Pada keenam alam dari neraka hingga tataran surgawi
Seluruhnya terjangkau senyum Sang Ksitigarbha
Bodhisattva mulia Penguasa Bumi tiada bandingannya
Alam neraka adalah Tanah BuddhaNya
Ikrar suci semenjak awal segala masa
Menabur kasih pada yang paling menderita
Tiada mengeluh sebelum terbebaskannya penghuni neraka tanpa sisa
Kini di muka bumi telah hadir alam neraka
Peperangan meraja lela korbankan banyak jiwa
Kekejaman membelah-belah penuh sembilu
Tiada lagi cinta kasih di dalam kalbu
Bunuh membunuh karena keyakinan, suku, ras, dan agama
Dibumbui kepentingan para bangsa adikuasa
Darah menetes di mana-mana
Apakah bedanya dengan kolam darah dan pohon pisau di alam neraka?
Neraka bukanlah khayalan adanya
Kini ia sungguh nyata
Dengan berbahan baku kebencian, keserakahan, dan pandangan salah manusialah yang membuatnya
Manusialah yang menurunkan neraka ke bumi
Namun Sang Ksitigarbha tetap hadir dengan senyumanNya
Menyirnakan segenap penderitaan manusia

Terpujilah Sang Bodhisattva Ksitigarbha
Terpujilah Sang Bodhisattva Ksitigarbha
Terpujilah Sang Bodhisattva Ksitigarbha

Selasa, 22 Oktober 2013

PAHLAWAN ITU BERNAMA THICH QUANG DUC

PAHLAWAN ITU BERNAMA THICH QUANG DUC

Artikel Dharma ke-38, Oktober 2013

Ivan Taniputera
22 Oktober 2013

Pengalaman ini terjadi waktu saya masih kuliah di Jerman. Karena tadi saya baru saja membongkar dokumen-dokumen lama, ingatan saya melayang pada pengalaman-pengalaman tatkala kuliah di Jerman. Oleh karenaya, saya bermaksud membagikan hal yang luar biasa ini. Suatu kali saat Hari Waisak saya diajak merayakannya oleh seorang teman kuliah saya yang merupakan warga negara Jerman keturunan Vietnam di vihara komunitas mereka. Pada kesempatan tersebut akan diadakan acara puja sarira. Saya waktu itu masih baru mengenal Agama Buddha, sehingga belum mengetahui apa yang disebut sarira tersebut. Sarira secara sederhana adalah sisa pembakaran atau kremasi jenazah orang-orang suci. Saya juga belum tahu sarira siapakah itu. Yang saya ingat, saat itu di vihara orang Vietnam diadakan pemutaran film mengenai seorang bhikshu yang membakar dirinya. Saya hanya melihatnya sepintas lalu saja. Nampak seorang bhikshu duduk bersila dengan tubuh diliputi kobaran api. Namun saya tidak begitu memperhatikannya.

Selanjutnya diadakan acara puja sarira. Saya menyaksikan ada sesuatu seperti sekeping tulang yang bisa berpendar dalam gelap seperti Fosfor. Teman saya mengatakan bahwa itu adalah sarira bhikshu Vietnam yang membakar dirinya seperti pada film tadi. Dia adalah pahlawan umat Buddha di Vietnam.

Bertahun-tahun kemudian setelah membaca berbagai buku Agama Buddha saya mengetahui lebih banyak mengenai bhikshu Vietnam tadi. Beliau bernama Thich Quang Duc. Saat itu Agama Buddha di Vietnam Selatan mengalami penindasan dan penganiayaan. Diskriminasi terhadap Agama Buddha berlangsung dengan sangat parahnya di bawah pemerintahan Presiden Ngo Dienh Diem yang merupakan penganut agama XXX. Meskipun merupakan minoritas para pendeta Agama XXX diperkenankan memiliki pasukan sendiri dan melakukan peralihan agama secara paksa. Umat Agama XXX dibebaskan dari kerja paksa. Gelombang protes meledak setelah pemerintah Vietnam Selatan yang didominasi penganut Agama XXX melarang pengibaran bendera Buddhis saat Hari Waisak, padahal beberapa hari sebelumnya penganut Agama XXX diizinkan mengibarkan bendera V*t*kan berwarna kuning dan putih guna merayakan ulang tahun pemuka agama agung mereka.

Ratusan umat Buddha bangkit berdemonstrasi menentang diskriminasi agama tersebut. Namun pemerintah menanggapinya dengan kekerasan. Sembilan orang jatuh sebagai korban.

Sebagai protes terhadap diskriminasi agama yang parah tersebut, Bhikshu Thich Quang Duc membakar dirinya sendiri hingga meninggal. Sebelum mengorbankan dirinya Thich Quang Duc menulis surat sebagai berikut:

"Sebelum menutup mataku dan mulai memvisualisasikan Hyang Buddha, aku dengan hormat memohon pada Presiden Ngo Dinh Diem agar membangkitkan pikiran belas kasih pada rakyat serta menerapkan keseteraan agama guna menjaga kuatnya pertahanan tanah air selamanya. Aku mengundang para arya, pembabar Dharma, beserta anggota sangha beserta umat awam agar berkumpul dalam kebersamaan mengadakan pengorbanan demi melindungi Agama Buddha."

Lalu saat hendak mengorbankan dirinya Thich Quang Duc duduk bersila sambil melafalkan nama Buddha. Beliau kini dihormati sebagai bodhisattva oleh umat Buddha di Vietnam.

Saya menyebut Thich Quang Duc sebagai pahlawan bukan karena Beliau sama-sama merupakan penganut Agama Buddha. Sama sekali bukan. Kendati Beliau bukan umat Buddha sekali pun, namun melakukan keberanian yang sama, saya akan tetap menyebutnya pahlawan. Saya menyebut Beliau sebagai pahlawan karena berani membela hak azasi manusia, yakni kesetaraan dalam beragama. Hanya sedikit saja orang yang berani bangkit berdiri melawan ketidak-adilan. Saya sendiri tidak memiliki keberanian seperti itu. Oleh karenanya, saya menaruh hormat pada Thich Quang Duc karena saya tidak memiliki keberanian seperti Beliau.

Di negara kita dan belahan dunia lainnya, diskriminasi agama dan lain sebagainya masih marak terjadi. Oleh karenanya, keberanian Thich Quang Duc ini perlu didengungkan kembali sebagai misi menghapuskan berbagai bentuk diskriminasi dan penindasan.

Satu hal lagi yang perlu diteladani Thich Quang Duc hanya mengorbankan dirinya sendiri. Ia tidak mengajarkan membunuh orang-orang yang memusuhi agamanya. Ia tidak mengenakan rompi bom bunuh diri dan menghampiri orang-orang yang menganiaya agamanya. Thich Quang Duc tidak melakukan hal itu, sehingga kita boleh menyebutnya sebagai aksi damai.

Marilah kita mengenang kembali kepahlawanan Thich Quang Duc dan berani berkata "tidak" pada ketidak-adilan, meskipun itu hanya bergaung dalam relung hati terdalam kita.

Informasi lebih banyak mengenai Thich Quang Duc dapat dibaca di: http://en.wikipedia.org/wiki/Thich_Quang_Duc

Selasa, 08 Oktober 2013

MERASAKAN JIKA DIRI KITA MENJADI INSAN LAIN

MERASAKAN JIKA DIRI KITA MENJADI INSAN LAIN

Artikel Dharma ke-37, Oktober 2013

Ivan Taniputera
8 Oktober 2013



Saya pernah membaca bahwa salah satu penyebab seseorang menjadi penjahat adalah kurangnya kemampuan merasakan penderitaan orang lain. Dengan demikian, mereka tidak sanggup merasakan bagaimana jika kejahatan tersebut menimpa diri mereka sendiri. Dalam praktik Lamrim terdapat meditasi yang membayangkan bagaimana jika seseorang menjadi makhluk-makhluk di enam alam kelahiran (sadgati). Sebagai contoh, seseorang membayangkan bagaimana penderitaan di alam hewan. Seekor hewan beban akan dicambuk dan dipaksa oleh majikannya agar membawa barang-barang yang berat. Jika tidak mau jalan, maka hewan itu akan dipukuli sedemikian rupa hingga kulitnya mengelupas dan terluka. Setelah tua mereka akan disembelih dan dimakan dagingnya. Kita membayangkan bagaimana jika diri kita atau orang tua kita yang mengalami seperti itu.

Penderitaan di alam neraka jauh lebih mengerikan lagi. Tidak ada sedikit pun kebahagiaan di sana. Menurut kosmologi Buddhis terdapat neraka panas dan neraka dingin. Ini menandakan adanya kondisi-kondisi ekstrim di sana yang menghalangi kebahagiaan kita. Kita membayangkan penderitaan para makhluk di sana. Bagaimana jika kita sendiri atau orang tua kita yang terlahir di alam neraka? Demikianlah hal ini diterapkan pada alam-alam kelahiran lainnya. Kita akan membangkitkan belas kasih kita pada mereka.

Enam alam itu sebenarnya tidaklah terpisah dengan dunia kita. Sesungguhnya setiap detik dan hirupan nafas kita senantiasa mengalami "kelahiran beserta kematian" di enam alam tersebut. Suatu pagi, kita berhasil memenangkan proyek bernilai milyaran Rupiah. Kita menjadi sangat bersuka cita karenanya. Saat itu kita terlahir di alam dewa. Setelah itu, kita kembali ke kantor guna melakukan persiapan lebih jauh. Kita melakukan segenap perhitungan cengan cermat, terkait proyek tersebut. Saat itulah kita terlahir di alam manusia. Tiba-tiba anak buah kita masuk dan memberitahukan bahwa salah seorang pemasok hendak menaikkan harganya. Timbul amarah dalam batin kita, sehingga kita terlahir di alam ashura atau alam amarah. Beberapa jam kemudian, kita menyerobot antrian di kantor pos dengan tidak memedulikan orang lain. Kita terlahir di alam hewan. Sewaktu melewati sebuah toko kita mendambakan telepon genggam keluaran terbaru yang canggih dengan harga selangit. KIta begitu terobsesi dengan telepon genggam tersebut. Kita terlahir di alam hantu kelaparan. Ternyata, tak berapa lama kemudian, kita terjebak kemacetan yang parah, padahal udara sangat panas. Kita benar-benar tersiksa sehingga terlahir di alam neraka.

Penderitaan di enam alam kelahiran itu sungguh nyata sebagaimana contoh di atas. Bayangkan saja dalam sehari kita sudah mengembara di keenam alam kelahiran. Hanya saja masalahnya tidak setiap orang dapat merasakan penderitaan yang dirasakan oleh orang lain, sehingga mereka tidak ragu-ragu melakukan kebrutalan pada orang lain. Oleh karenanya, meditasi ini sebenarnya sangat baik dalam menumbuhkan empati seseorang, terutama semenjak masih muda. Agar dapat membangkitkan belas kasih dan empatinya, ia harus mampu bertukar peran dengan orang lain. Seseorang yang gagal membangkitkan empati ini memiliki potensi kuat melakukan kejahatan beserta kekejaman mengerikan pada makhluk lain. Meditasi pembangkitan empati ini adalah sesuatu yang sifatnya universal. Tidak hanya umat Buddha saja yang dapat melakukannya. Empati adalah sesuatu yang universal. Dewasa ini, kita menyaksikan kejahatan-kejahatan yang semakin kejam dan mengerikan. Semuanya disebabkan kurangnya empati. Kejahatan-kejahatan kejam itu tidak mengenal batas-batas agama, bangsa, dan ras. Ini kembali menegaskan betapa universalnya praktik membangkitkan empati. Tentu saja praktik meditasi ini dapat disesuaikan pada berbagai budaya maupun agama, namun intinya tetap sama.

Meditasi ini bukanlah pada tataran intelektual saja, melainkan hendaknya dapat meresap dalam batin setiap orang. Dunia semakin membutuhkan empati. Kesenjangan kaya dan miskin semakin lebar di mana-mana. Semuanya disebabkan oleh kurangnya empati dan belas kasih. Praktik spiritual ini dapat menjadi sumbangsih demi terciptanya dunia lebih baik.

Kamis, 26 September 2013

APAKAH MAITREYA ITU BUDDHA ATAU BODHISATTVA?

APAKAH MAITREYA ITU BUDDHA ATAU BODHISATTVA?

Artikel Dharma ke-36, September 2013

Ivan Taniputera
26 September 2013




Dua orang sedang berdebat dengan sengit.

A: Maitreya itu Buddha.
B: Bukan! Maitreya itu Bodhisattva.
A: Tidak bisa. Maitreya itu Buddha.
B: Itu tidak benar! Maitreya itu Bodhisattva.
A: Pokoknya Maitreya adalah Buddha dan saya tahu itu pasti benar.
.......

Demikianlah mereka berdebat dan tidak ada seorang pun bersedia mengalah. Namun apakah mereka sudah berjumpa dengan Maitreya? Apakah baik A atau pun B tahu dengan pasti bahwa Maitreya itu seorang Buddha atau Bodhisattva? Mereka hanya mengetahui dari "tulisan" dan "kata orang." Tiada seorang pun pernah membuktikannya sendiri.

Marilah kita renungkan. Barangkali sebagian besar dari kita melekat pada "tulisan" dan "kata orang" yang kita lekati sebagai "kebenaran mutlak." Di luar apa yang kita yakini adalah salah. Kendati kita hanya mengandalkan "tulisan" dan "kata orang" namun kita berlagak seolah-olah telah membuktikannya sendiri. Ibaratnya seseorang yang hanya mengenal kota Paris dari brosur-brosur perjalanan, lalu berlagak seolah-olah telah mengunjungi sendiri kota tersebut. Padahal sebuah kota bisa terus menerus mengalami perubahan, sehingga sebuah brosur perjalanan bisa saja menjadi tidak akurat. Namun bayangkan orang itu mempertahankan dengan gigih apa yang dibacanya dari brosur perjalanan tersebut. Segenap penggambaran kota Paris yang tidak sesuai dengan brosur perjalanan miliknya adalah keliru. Apakah kita sering bersikap seperti itu?

Lalu apakah Maitreya itu Buddha atau Bodhisattva? Bagi saya tidaklah penting apakah Maitreya itu Buddha atau Bodhisattva. Bahkan saya mengenal Maitreya juga hanya dari pustaka-pustaka suci dan literatur Buddhis. Saya belum pernah berjumpa sendiri dengan Maitreya. Sejujurnya saya pun tidak mengetahui apakah Maitreya benar-benar ada atau tidak. Agama Buddha sendiri juga tidak mengajarkan agar kita percaya membuta begitu saja, bukan? Bagi saya perdebatan semacam itu tidaklah penting. Lebih penting bagi kita adalah berjuang merealisasi pembebasan, atau jika tujuan itu dianggap terlalu muluk, maka yang penting adalah bagaimana menjadikan diri saya berbahagia. Segenap perdebatan yang tidak perlu adalah melelahkan pikiran.

Kedua, mana yang lebih penting memperdebatkan apakah Maitreya itu Buddha dan Bodhisattva atau merealisasi tingkat Bodhisattva dan Kebuddhaan? Memperdebatkan mengenai makanan tidak akan membuat Anda kenyang. Kalau Anda ingin kenyang, makanlah, bukan berdebat atau meributkan mengenai makanan.

Alkisah ada keluarga yang sebelum makan berdebat panjang lebar, mengenai bagaimanakah tampilan makanan itu seharusnya, bagaimanakah piring, gelas, sendok, serta garpu hendaknya diatur, dan hal-hal lain yang remeh temeh. Hasilnya bukan perut yang kenyang, melainkan mulut beserta pikiran yang lelah.

Semoga dapat menjadi bahan renungan bermanfaat.

Jumat, 06 September 2013

FESTIVAL GADIS LENGGAK-LENGGOK TINGKAT DUNIA

FESTIVAL GADIS LENGGAK-LENGGOK TINGKAT DUNIA

Artikel Dharma ke-35, September 2013

Ivan Taniputera
6 September 2013



Alkisah di sebuah negeri antah berantah hendak diadakan Festival Gadis Lenggak Lenggok Tingkat Dunia 2013. Meskipun demikian, acara ini menuai kontroversi karena adanya pihak yang pro maupun kontra. Salah satu organisasi kemasyarakatan di negeri antah berantah dengan gigih menentangnya, karena dianggap bertentangan dengan keyakinan mereka. Mereka bahkan mengancam siap menggunakan kekerasan dan kekuatan fisik demi menggagalkan festival internasional tersebut. Pernyataan ini memancing reaksi kelompok lain yang kurang menyukai organisasi kemasyarakatan tersebut. Ada yang memaki-maki saja dan bahkan ada pula yang siap bertempur melawan mereka hingga titik darah penghabisan. Di sini kita menyaksikan bahwa negeri antah berantah tersebut terancam disintegrasi atau perpecahan yang akut. Sementara itu, para musuh negeri antah berantah diam-diam menyaksikannya dengan penuh suka cita.

Bagaimanakah kita menelaah hal ini dari sisi Dharma? Apakah kita sebagai umat Buddha seharusnya pro atau kontra terhadap penyelenggaraan Festival Gadis Lenggak Lenggok Tingkat Dunia? Saya akan mengemukakan berbagai pandangan saya. Pertama-tama, kita hendaknya mengingat bahwa baik pro maupun kontra itu adalah dua pandangan ekstrim. Dalam tataran kebenaran pamungkas, maka tiada lagi keserba-menduaan antara "pro" dan "kontra." Semuanya adalah pandangan ekstrim hasil manipulasi pikiran. Dengan demikian, terhadap festival tersebut kita hendaknya mengembangkan suatu jalan tengah dan mencoba mengamati segala sesuatu sebagaimana adanya, tanpa memendam kebencian atau kesukaan meluap-luap terhadap festival semacam itu.

Kalau kita telaah lebih jauh lagi, Hyang Buddha mengajarkan bahwa hawa nafsu keinginan rendah (tanha) adalah sumber ketidak-bahagiaan di muka bumi ini. Tujuan pamungkas Agama Buddha adalah membangkitkan kebahagiaan sejati terbebas dari segenap penderitaan. Salah satu obyek hawa nafsu keinginan adalah pesona ragawi atau sensualitas (kama). Pikiran senantiasa mencari sosok-sosok yang indah dan menggiurkan. Oleh karenanya, lenggak-lenggok tubuh molek di atas panggung adalah salah satu upaya mengumbar pesona ragawi (kama), selaku salah satu obyek hawa nafsu keinginan. Mengingat bahwa tujuan pamungkas Agama Buddha adalah menransformasikan hawa nafsu keinginan rendah (tanha) menjadi kebahagiaan sejati, maka tentu saja Festival Gadis Lenggak Lenggok Tingkat Internasional sangat tidak sejalan dengan Agama Buddha. Namun kita tidak perlu membencinya. Kita cukup menjauh saja dan tidak perlu membenci atau berupaya menggagalkannya dengan kekerasan. Kebencian dan kekerasaan hanya akan menghasilkan gelombang kebencian beserta kekerasan baru.

Selanjutnya, festival semacam itu mengandung kesan adanya "perlombaan." Kendati ada yang mengatakan bahwa festival tersebut tidak hanya menonjolkan pesona ragawi saja, melainkan juga intelektualitas beserta peri kemanusiaan. Meskipun demikian, peri kemanusiaan bukanlah sesuatu yang menurut saya pantas dilombakan. Peri kemanusiaan adalah kewajiban setiap makhluk yang merasa dirinya manusia dan tidak perlu dilombakan. Peri kemanusiaan harus berasal dari hati nurani manusia itu sendiri, bukan sesuatu yang dimanipulasi. Jadi, kita tidak perlu berlomba menjadi suatu "sosok paling berperi kemanusiaan di dunia." Menurut filsafat Timur, orang yang paling mulia bukanlah yang sanggup menaklukkan gunung tertinggi, melainkan menaklukkan ke-aku-annya sendiri. Ini adalah sesuatu yang luar biasa sulit. Menaklukkan gunung tertinggi masih lebih mudah ketimbang menaklukkan sang "aku."

Demikianlah, menurut hemat saya, kita sebagai umat Buddha tidak perlu menyukai atau membenci festival tersebut. Namun cukup bagi kita menjauhinya saja. Semoga pihak-pihak yang bertikai dapat membebaskan diri dari kebencian dan permusuhan. Semoga mereka menyadari bahwa kita sebagai suatu bangsa dapat diumpamakan sebagai satu tubuh. Jika tangan kanan mencubit tangan kiri, maka rasa tidak nyaman akan melanda seluruh tubuh.

Semoga bermanfaat.

Senin, 26 Agustus 2013

MENGAPA KITA HENDAKNYA TAKUT BERBUAT JAHAT?

MENGAPA KITA HENDAKNYA TAKUT BERBUAT JAHAT?

Artikel Dharma ke-34, Agustus 2013

Ivan Taniputera
26 Agustus 2013


Saya akan membuka renungan kali ini dengan meriwayatkan pengalaman saya yang sungguh-sungguh terjadi di Jerman dan beberapa kisah ilustrasi. Sewaktu kuliah di Jerman, seorang teman menceritakan bahwa asrama-asrama mahasiswa (Studentenwohnheim) di sana enggan menerima mahasiswa yang berasal dari suatu negara tertentu. Penyebabnya adalah mahasiswa yang berasal dari negara tersebut, sewaktu ke luar dari asrama begitu kuliahnya selesai akan menjual seluruh barang-barang milik asrama. Jadi saat masuk, fasilitas dan peralatan di  kamar asrama, seperti kompor, lemari es, dan lain-lain, masih tersedia lengkap; namun sewaktu mahasiswa asal negara tersebut ke luar, seluruh fasilitas dan perlengkapan di kamar sewaannya itu akan licin tandas. Itulah sebabnya, mereka enggan menerima penyewa kamar asal negara itu. Dari kasus ini, kita mendapati bahwa, meski mahasiswa yang mencuri barang-barang asrama nampaknya "hanya" melakukan tindakan pencurian, namun ia sesungguhnya telah merugikan banyak orang; yakni para mahasiswa senegaranya yang jujur dan sungguh-sungguh membutuhkan kamar. Dengan demikian, buah karma buruknya akan terus berakumulasi dari tahun ke tahun dan entah sampai kapan. Tentu dampaknya akan sangat mengerikan di masa mendatang.

Selanjutnya terdapat kisah ilustrasi, mengenai dua orang karyawan di sebuah perusahaan. Salah seorang karyawan gemar beramal dan juga merupakan sosok yang rajin serta jujur. Oleh karenanya, ia akan dipromosikan ke jabatan lebih tinggi. Karyawan yang satu memiliki rasa iri dan berupaya menjelek-jelekkan karyawan jujur tersebut. Akibatnya, sang karyawan jujur tidak jadi dipromosikan. Dalam kasus ini, karyawan jahat seolah-olah hanya melakukan perbuatan buruk pada satu orang saja. Tetapi tanpa disadarinya, buah perbuatan buruknya akan terus berkembang dan terakumulasi. Jika sang karyawan yang baik mendapatkan kenaikan gaji, ia  setiap tahunnya dapat menyantuni lebih banyak orang. Ia mungkin dapat menjadi orang tua asuh bagi semakin banyak anak yatim. Jadi, tanpa disadari, karyawan jahat itu telah melakukan perbuatan buruk pada banyak orang, dan bukan hanya satu. 

Seseorang yang mengarang cerita porno atau bertentangan dengan kesusilaan, hendaknya menyadari bahwa selama cerita karangannya itu masih beredar di muka bumi, ia akan terus mendapatkan buah karmanya.

Ilustrasi lain adalah orang yang membangun jembatan demi kepentingan banyak orang. Buah perbuatan bajiknya juga akan terus terakumulasi, selama jembatan itu masih ada.

Sutra Salistamba juga mengungkapkan bahwa salah satu sifat karma adalah laksana benih yang dapat terus berkembang menjadi semakin banyak. Anehnya banyak orang di zaman sekarang tidak lagi merasa takut pada karma buruk. Padahal jika mereka melakukan keburukan, kemungkinan tanpa disadari dampaknya akan terus bergulir laksana bola salju, tanpa dapat kita kendalikan lagi.

Setelah merenungkan artikel ini, kita memahami mengapa kita hendaknya tidak melakukan perbuatan buruk.

Minggu, 25 Agustus 2013

TAMAN BUNGA YANG INDAH

TAMAN BUNGA YANG INDAH

Artikel Dharma ke-33

Ivan Taniputera
25 Agustus 2013





Kali ini kita akan merenungkan sebuah taman yang indah. Taman itu justru terdiri dari beraneka ragam komponen yang berbeda satu sama lain. Namun jika semua itu dipadukan akan nampak keindahannya. Masing-masing komponen itu saling hidup harmonis dan tidak pula saling menyerang atau menghancurkan. Setiap komponen mempertahankan karakteristiknya masing-masing tetapi tidak pula berupaya meniadakan karakteristik komponen lainnya. Demikian pula, Agama Buddha terdiri dari beraneka ragam aliran. Justru adanya beraneka ragam aliran ini akan menciptakan kesemarakan bagi Agama Buddha.

Masing-masing aliran hendaknya tidak menjelekkan satu sama lain. Apabila masing-masing aliran saling menjelekkan, justru akan mencoreng Agama Buddha secara keseluruhan. Setiap aliran hendaknya tidak saling mengunggulkan alirannya masing-masing. Mengunggulkan aliran yang kita anut memperlihatkan semangat ke"aku"an dan "milikku" yang kuat, dimana tentu saja ini bukanlah yang diajarkan Hyang Buddha. Lebih jauh lagi, apakah gunanya kalau aliran  atau agama kita memang benar-benar "unggul"? Apakah dengan ke"unggul"an tersebut akan membawa kita makin dekat pada pembebasan spiritual? Apakah dengan berhasil membuktikan ke"unggul"an aliran kita dibandingkan dengan aliran-aliran lain membuat kita merealisasi buah spiritual paling pamungkas? Marilah kita renungkan hal tersebut. Ternyata "unggul" dan tidaknya sebuah aliran, tidaklah membawa kita makin dekat pada pembebasan batiniah. Bahkan jika masih ada dualisme "unggul" dan "tidak unggul" itu artinya kita masih bergerak pada ranah kebenaran duniawi (samvrti satya). Demikian pula ranah "sesat" dan "tidak sesat" juga masih merupakan ranah kebenaran duniawi.

Oleh karenanya, jika ada umat Buddha yang masih menyesat-nyesatkan aliran lain, maka itu pertanda bahwa ia belum memahami kebenaran pamungkas (paramartha satya). Begitu pula jika ada yang mengatakan "aliranku adalah bentuk Agama Buddha paling mutakhir dan aliran lain sudah ketinggalan zaman," maka ia tidak memahami kebenaran pamungkas. Dalam ranah kebenaran pamungkas tidak ada lagi dualisme "mutakhir" dan "ketinggalan zaman." Ada lagi umat Buddha yang merasa jijik dengan aliran lain yang dianggapnya "sesat." Inipun juga tidak mencerminkan hakikat kebenaran pamungkas. Kita hendaknya dapat menyerap hakikat sejati segala sesuatu.

Selain itu, masih ada lagi hal lebih penting ketimbang berdebat masalah "unggul" dan "tidak unggul" atau "sesat" dan "tidak sesat." Dunia ini dipenuhi oleh berbagai permasalahan. Kemiskinan, peperangan, masalah sumber daya alam, dan lain sebagainya. Dunia sudah dipenuhi oleh kebencian. Jika kita masih berkutat antara "unggul" dan "tidak unggul" maka itu justru akan menambah kebencian di muka bumi ini. Lebih baik, setiap aliran saling bekerja sama dan menaburkan sumbangsih masing-masing. Bahkan umat Buddha juga hendaknya sanggup membina kerja sama dengan agama lainnya. Barulah dengan demikian, bunga dan tumbuhan dalam sebuah taman akan memancarkan keindahannya yang menyejukkan.