Senin, 26 Mei 2014

HITUNG DAGANG DALAM PERKAWINAN

HITUNG DAGANG DALAM PERKAWINAN

Artikel Dharma ke-45, April 2014

Ivan Taniputera
16 Agustus 2008, Semarang 01.06 





Perkawinan merupakan relasi yang unik dalam kehidupan manusia. Mengapa dikatakan unik? Karena idealnya hanya melibatkan dua individu saja. Jadi ini berbeda dengan relasi antar umat manusia yang lain, misalnya relasi bisnis. Dalam relasi bisnis, pihak yang terlibat boleh lebih dari dua. Namun dalam perkawinan, relasi yang ideal HANYA boleh melibatkan dua orang saja. Bila ada pihak ketiga atau lebih, maka perkawinan akan menjadi terguncang. Inilah uniknya perkawinan. Oleh karena sifatnya yang unik ini, maka kita juga perlu mengulasnya dalam suatu kerangka keunikan pula.
Dewasa ini, kita menyaksikan bahwa banyak perkawinan yang mengalami goncangan. Tentu saja banyak sekali alasannya, tetapi menurut saya kunci utama bagi penyebab goncangnya suatu perkawinan hanya terdapat dua sebab utama:

a.Pihak ketiga.
b.Diterapkannya hitung dagang dalam perkawinan.

Penyebab pihak ketiga sudah tidak perlu diulas lagi, karena telah jelas adanya. Untuk mengatasi gangguan pihak ketiga, masing-masing pasangan perlu mengembangkan apa yang namanya komitmen dan kesetiaan. Namun karena topik kita adalah hitung dagang dalam perkawinan, maka masalah pihak ketiga tidak akan kita ulas secara panjang lebar terlebih dahulu.

Jika menilik namanya saja, maka hitung dagang ini melibatkan perhitungan untung dan rugi. Perhitungan jenis ini hanya cocok dalam relasi bisnis saja, tetapi tidak cocok bila diterapkan dalam perkawinan. Untuk jelasnya saya akan mengemukakan contoh sebagai berikut. Seorang teman datang pada saya untuk menanyakan masalah perkawinannya. Kebetulan ia seorang wanita. Ia mengeluhkan bahwa suaminya tidak dapat bekerja, sehingga ia yang harus mencukupi kebutuhan keluarga. Oleh karena itu, ia menanyakan apakah sebaiknya bercerai saja. Tentu saja terhadap pertanyaan semacam ini kita harus memikirkan jawabannya masak-masak. Saya menanyakan, “Bukankah Anda seharusnya bangga?" Ia nampak bingung dengan jawaban saya, “Bangga bagaimana?" Saya menjawab, “Bukankah dengan berhasil menjadi tulang punggung keluarga Anda harusnya bangga? Bukankah Anda beragama Buddha?" Memang kebetulan klien tersebut beragama Buddha. Saya melanjutkan, “Dalam agama Buddha bukankah terdapat harapan agar semua makhluk sejahtera batinnya? Apabila Anda telah menjadi penopang dalam keluarga dan bahkan sanggup menghidupi suami Anda, bukankah itu sama saja dengan menjadikan makhluk lain (dalam hal ini suami Anda) berbahagia? Anda seharusnya bangga." Ia nampak terdiam mendengarkan jawaban saya. Lalu setelah itu membantah, “Bukankah tugas seorang suami adalah mencari nafkah bagi keluarganya?" Saya menjawab, “Itu masalahnya! Anda telah menerapkan HITUNG DAGANG dalam keluarga. Anda telah memilah-milah: INI TUGASMU DAN INI TUGASKU. Itulah sebabnya maka perkawinan Anda terancam retak.

Apabila hitung dagang sudah memasuki suatu perkawinan maka kehidupan masing-masing individu akan menjadi tidak bahagia lagi. Perkawinan akan menjadi tak ubahnya relasi bisnis, semua menuntut dan mempertimbangkan berdasarkan konsep untung dan rugi. Suami atau isteri hendaknya tidak melakukan sikap perhitungan semacam itu. Tugas atau pekerjaan apa yang bisa kita pikul hendaknya kita laksanakan dengan senang hati. Jangan karena menganggap bahwa itu tugas pasangan kita, maka kita melakukannya dengan kekesalan atau mengeluh. Saya lalu melakukan pembacaan astrologi terhadap suaminya. Ternyata hasilnya memang ia kurang pandai bekerja, namun ia merupakan orang yang setia. Jadi setiap orang pasti ada kelebihan dan kekurangannya.

Berdasarkan ajaran agama Buddha, orang yang berhasil menikah tentu mempunyai ikatan karma dari masa lampau. Ikatan itu bisa saja positif dan juga negatif. Saya mengatakan pada wanita itu, bahwa kemungkinan pada masa lampau, ia mempunyai hutang karma pada suaminya, sehingga kini ia harus membayarnya. Jika ikatan karma ini diputus secara paksa pada kehidupan sekarang, maka pada kehidupan selanjutnya, ikatan tersebut mungkin akan tetap berlanjut. Sehingga perceraian tidaklah menunaikan masalah.
Ada pula orang yang mengeluhkan bahwa isterinya kurang pintar memasak. Ini adalah contoh bentuk hitung dagang yang lain lagi dalam perkawinan. Banyak suami merasa bahwa memasak adalah tugas isteri, sehingga ia harus melakukannya dengan baik. Tidak jarang masalah ini dapat menimbulkan persoalan besar dalam hubungan pernikahan.

Berdasarkan contoh-contoh di atas, hitung dagang merupakan sesuatu yang sangat berbahaya apabila diterapkan dalam perkawinan. Semua pasangan adalah hasil ikatan karma yang harus diterima dengan lapang dada. Dengan adanya sikap saling menerima secara tulus, maka segalanya akan berlangsung dengan baik. Jika suami kurang giat bekerja, maka isteri hendaknya memberikan teladan yang baik atau dorongan semangat dengan tulus serta halus. Jangan menggunakan bahasa yang kasar. Coba memikirkan bersama pekerjaan apa yang sekiranya dapat dilakukan bersama. Bila isteri kurang pandai memasak, maka juga hendaknya dibicarakan baik-baik. Jika memang bukan bakatnya memasak maka tidak perlu dipaksakan. Semuanya hendaknya diterima dengan lapang dada. Jangan terapkan hitung dagang dalam perkawinan. Jangan memaksakan sesuatu. Malahan kita hendaknya bangga dan berbahagia apabila pasangan kita berbahagia.

Meskipun demikian, hal ini tidaklah mencakup pelanggaran terhadap komitmen. Kita seharusnya tidak berpikir, “Biar saja pasangannya selingkuh agar ia bahagia." Hal ini berada di luar cakupan hitung dagang tadi. Selingkuh adalah pelanggaran terhadap komitmen, sehingga dapat disepadankan dengan tindakan kriminal. Membiarkan suatu perselingkuhan adalah tindakan yang tidak sehat dan harus dicari pemecahannya. Berselingkuh adalah tindakan yang sangat hina karena merupakan pelanggaran terhadap nilai kesetiaan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika banyak budaya-budaya di masa lampau yang memberikan hukuman berat terhadap orang yang berselingkuh. Karyawan yang berselingkuh juga hendaknya tidak diperkerjakan. Apabila ia tidak sanggup setia terhadap pasangannya, bagaimana mungkin ia setia terhadap perusahaan.

Demikianlah sekelumit tulisan dari saya. Semoga bermanfaat. Semoga tulisan ini dapat menambah harmoni dalam kehidupan keluarga.

Selasa, 15 April 2014

EMPAT JALAN MENUJU KESUCIAN

EMPAT JALAN MENUJU KESUCIAN

Ivan Taniputera
15 April 2014




Di muka bumi banyak terdapat jalan spiritual. Masing-masing menyatakan dirinya sebagai jalan menuju Kesucian atau Kebenaran. Semua tradisi atau jalan spiritual tersebut nampak berbeda-beda, tetapi sesungguhnya kita dapat meringkas semuanya itu menjadi empat jalan saja. Pada kesempatan kali ini, kita akan mempelajari keempat jalan tersebut.

Jalan pertama adalah JNANA YOGA. Jalan ini membawa manusia menuju Kesucian atau Kebenaran melalui kebijaksanaan atau pemahaman. Manusia yang menapaki jalan ini menelaah berbagai khazanah pengetahuan, teori atau ajaran, sebagai wahana menuju Kebijaksanaan, Kebenaran atau Kesucian Sejati. Kita pernah mendengar di zaman dahulu banyak Suciwan yang memiliki tingkat kebijaksanaan tinggi. Mereka sanggup menulis berbagai kitab atau buku yang masih dipelajari oleh beribu-ribu atau bahkan berjuta-juta umat manusia di masa sekarang. Buku-buku tersebut dihargai dan dijadikan bahan renungan serta penelaahan agar para penganutnya dapat merealisasi Kebijaksanaan, Kesucian, dan Kebenaran yang sama dengan para Guru atau Suciwan pencetus ajaran tersebut.

Namun apakah di zaman sekarang jalan ini masih efektif? Kebijaksanaan dan Pengetahuan umat manusia di zaman Besi ini telah demikian tercemar. Pengetahuan tidak lagi menjadi alat mencapai Kesucian atau Kebenaran, melainkan telah menjadi sarana menindas dan memusnahkan manusia beserta makhluk lain. Auschwitz, Sachsenhausen, Treblinka, Sobibor, dan lain sebagainya merupakan saksi bagi hal ini. Gerbong-gerbong kematian mengalir menuju tempat pemusnahan masal. Terorisme dan kekejaman dengan skala yang semakin canggih menjadi bukti betapa tercemarnya pengetahuan dan kebijaksanaan umat manusia. Ilmu pengetahuan dijadikan wahana memperalat dan menindas bangsa lain, melalui suatu sistim yang korup dan kejam. Pencemaran lingkungan dan makin mengerikannya senjata pemusnah masal adalah bukti lainnya.

Siapakah pada zaman sekarang yang merasa dirinya bijaksana? Ingat ini adalah pertanyaan untuk DIRI ANDA SENDIRI, bukan orang lain. Jadi jawablah pertanyaan ini bagi diri Anda sendiri. TidaK perlu menoleh ke kiri atau ke kanan. Jangan mencoba menjawabnya untuk orang lain. Saya sendiri dengan tegas mengakui bahwa saya sama sekali tidak bijaksana. Jadi jangan mengharapkan kebijaksanaan dari saya.

Jalan kedua adalah KARMA YOGA. Jalan ini membawa manusia menuju Kesucian atau Kebenaran melalui perbuatan baik atau amal. Kisah-kisah spiritual di zaman dahulu memperlihatkan pada kita berbagai tokoh suci masa lampau yang mengorbankan segenap hidupnya demi berbuat kebaikan secara tulus. Sebagai contoh adalah seorang pangeran yang memberikan tubuhnya sebagai makanan harimau kelaparan. Kisah-kisah tersebut memang mengharukan dan pada zaman sekarang ada beberapa orang yang nampaknya masih sanggup melaksanakannya, walaupun kita tidak mengetahui secara pasti apa motivasi mereka. Namun kita tetap menghargai kebajikan yang telah dilakukan orang tersebut. 

Lalu apakah di zaman sekarang Karma Yoga masih efektif? Nabi Yesaya mengatakan: "Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor.” (Yesaya 64:6)." Siapakah di antara kita yang berani mengatakan bahwa kita telah melakukan kebajikan secara tulus? Ingat ini pertanyaan untuk diri Anda sendiri. Jangan menoleh ke kiri atau ke kanan. Jangan menunjuk ke kiri atau ke kanan. Jawablah untuk DIRI ANDA SENDIRI. Kalau Anda bisa melakukannya, maka itu bagus sekali. Saya pribadi tidak dapat melakukannya. Jadi jangan mengharapkan ketulusan murni dari segenap perbuatan bajik yang saya lakukan. Segenap kebajikan yang saya lakukan tidak lebih dari sehelai KAIN KOTOR.

Jalan ketiga adalah RAJA YOGA. Jalan ini membawa manusia menuju Kesucian atau Kebenaran melalui pemusatan pikiran samadi. Kita mungkin pernah membaca riwayat para pakar meditasi yang hebat pada pustaka-pustaka keagamaan. Teori-teori meditasi yang mereka kembangkan masih dipelajari oleh banyak orang di zaman sekarang. Mereka berharap agar dapat mencapai realisasi sama dengan para pencetus metoda meditasi tersebut.

Namun apakah jalan ini masih efektif? Pada zaman Besi ini pemikiran manusia mudah mengalami kekacauan dan distorsi. Orang mungkin sanggup bermeditasi sejam, dua jam, enam jam, delapan jam, sehari, dan seterusnya, namun bagaimanakah kehidupannya setelah itu. Apakah meditasi itu membawa perubahan batin baginya? Apakah meditasi itu justru memperkuat sang "aku" atau egonya? Ini adalah pertanyaan bagi diri kita sendiri. Jangan menoleh ke kiri atau kanan untuk menjawabnya. Jika Anda merasa meditasi Anda sudah baik, maka itu bagus. Saya pribadi mengakui bahwa meditasi saya kacau balau. Ego atau ke"aku" an saya masih kuat.

Kini tinggal tersisa jalan keempat atau terakhir, yakni BAKTI YOGA. Jalan ini kerap diremehkan orang. Banyak orang menganggap jalan ini hanya cocok bagi orang bodoh. Bakti Yoga berarti menjalankan devosi penuh pada suatu SOSOK SUCI. Anda boleh menyebutnya apa saja: Istadevata, Yidam, Dewa, Hyang, dan lain-lain. Sebutan atau nama tidaklah penting di sini. Orang bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama. Devosi itu berarti penyerahan diri sepenuhnya pada Sosok Suci tersebut. Penyerahan diri ini mencakup rasa rendah hati, percaya, dan mengasihi. Bakti Yoga tidak perlu intelektualitas. Sepintas memang mudah, namun sesungguhnya tidak demikian halnya. Bakti Yoga berarti menerima dengan penuh kerelaan bahwa jika Istadevata menghendaki Anda hidup, maka Anda hidup; Istadevata menghendaki Anda mati, maka Anda mati. Jika Istadevata menghendaki Anda makan, maka Anda makan. Jika Istadevata menghendaki Anda kelaparan, maka Anda kelaparan. Merenungkan dengan sepenuh hati Istadevata dan melafalkan namanya. Sebagai contoh adalah sewaktu Anda merenungkan dan melafalkan nama Amitabha, Avalokitesvara, Tara, Krishna, Siva, Buddha, dan lain sebagainya.

Jalan ini memang tidak mudah. Namun nampaknya jalan inilah yang paling cocok bagi umat manusia di zaman sekarang guna mengikis kekotoran batinnya sehingga sanggup mencecap sedikit Kesucian atau secercah Kebenaran. Seseorang perlu dengan rendah hati mengakui bahwa dirinya belum sempurna, namun Sosok Suci akan tetap mengasihinya dan mengampuni segenap kesalahannya. Seseorang hanya perlu mengakui ketidak-sempurnaannya. Jika Anda sombong, maka itu berarti mengurangi rasa bakti pada Sosok Suci. Oleh karenanya, praktik Bakti Yoga yang benar dapat mengikis rasa sombong dan tinggi hati. Karena Anda dicintai dan dikasihi oleh Sosok Suci, maka Anda juga mencoba mencintai serta mengasihi orang lain.

Bakti yang sejati bukanlah fanatisme. Jika seseorang mulai fanatik dan berusaha menghancurkan penganut Sosok Suci lainnya atau berbeda namaNya dengan Sosok Suci yang diyakini orang tersebut, maka itu sesungguhnya merupakan permainan pikiran intelektual tercemarnya. Pikiran intelektual di sini sebenarnya adalah ranah Jnana Yoga. Anda berpikir bahwa Sosok Suci yang Anda yakini adalah Sosok Suci terbaik. Memang benar, dalam membangkitkan bakti Anda perlu yakin bahwa diriNya terbaik bagi Anda. Namun itu hanya terbatas bagi diri Anda sendiri saja. Anda tidak perlu memaksa orang lain berbakti pada Sosok Suci yang sama dengan Anda. Anda tidak perlu mengkritisi atau membenci Sosok Suci lain. Benci itu tidak ada hubungannya dengan Bakti Yoga. Jika Anda yakin bahwa Sosok Suci Anda adalah pengasih, mungkinkah ada benci dalam diriNya? Pikiran salah akan membawa Anda memaksa atau mempertobatkan orang lain agar berbakti pada Sosok Suci yang sama dengan Anda. Oleh karena itu, kita harus senantiasa mewaspadai gerak pikiran yang liar. Hal ini pulalah yang menjadi alasan mengapa Jnana Yoga tidak dapat diandalkan oleh sebagian umat manusia di zaman sekarang.

Sebenarnya kita juga dapat pula menerapkan keempat yoga ini sekaligus. Namun kita memerlukan kepiawaian. Satu pertanyaan kembali yang perlu direnungkan adalah, apakah Anda cukup piawai? 

Sekian renungan hari ini. Semoga bemanfaat.

MENUJU SPIRITUALISME TANPA SEKAT DAN TANPA BATAS

Rabu, 09 April 2014

AGAMA BUDDHA SEJATI DAN BUKAN SEJATI

AGAMA BUDDHA SEJATI DAN BUKAN SEJATI

Artikel Dharma ke-44, April 2014

Ivan Taniputera
9 April 2014




Saya mendapatkan gambar ini dari akun facebook พระครูวิสิฐ สรภาณ.

Karena gambar ini sangat mendalam maknanya, maka saya unduh dan jadikan ilustrasi bagi artikel Dharma ini. 
Agama Buddha sejati itu bukanlah yang tercantum dalam buku-buku. Meskipun buku tersebut dilabeli dengan "Dharma" atau istilah apapun bernuansa Buddhis tidak menjadikannya sebagai Agama Buddha sejati. Agama Buddha sejati tidak terletak pada kemampuan berdebat dan mempertahankan pandangannya sendiri (yang menurut anggapan dirinya sendiri atau sang "aku" adalah Agama Buddha sejati). Agama Buddha sejati tidak terletak pada kemampuan menganggap pandangan lain salah dan membenarkan pandangannya sendiri. Agama Buddha sejati tidak terletak pada kemampuan menunjukkan kesalahan pandangan atau agama lain. Agama Buddha sejati tidak terletak pada seberapa banyak literatur atau kepustakaan Buddhis yang telah kita baca. Agama Buddha sejati tidak terletak pada kemampuan kita mengucapkan kata-kata Dharma. Agama Buddha sejati tidak terletak pada kemampuan menarik garis pemisah antara "Dharma" dan "Adharma."

Lalu di mana dan bagaimanakah Agama Buddha sejati?

Agama Buddha sejati terletak pada kemampuan kita menciptakan nilai tambah bagi diri sendiri, kemanusiaan dan kehidupan semua makhluk. Apabila Anda menarik garis pemisah antara "Dharma" dan "Adharma" nilai tambah apakah yang Anda ciptakan bagi diri sendiri, kemanusiaan, dan kehidupan semua makhluk? Masih ada pembedaan berarti masih ada dualisme. Anda berhasil menunjukkan kesalahan pandangan atau agama lain, apakah nilai tambah bagi diri sendiri, kemanusiaan, dan kehidupan makhluk lain yang Anda berikan?

Mari amati diri sendiri terlebih dahulu, jika berhasil menyalahkan atau menyesatkan pandangan beserta agama lain dan melabelinya sebagai "Adharma," nilai tambah apakah yang Anda berikan bagi diri Anda sendiri? Apakah yang Anda dapatkan hanya rasa bangga yang justru semakin memperkuat ego atau keakuan Anda? Apakah semakin kuatnya ego dan keakuan ini merupakan nilai tambah bagi perjalanan spiritual Anda? Mari direnungkan.

Jangankan memberikan nilai tambah bagi kemanusiaan beserta semua makhluk, memberikan nilai tambah bagi diri sendiri pun tidak. Semua itu justru membuat kita terlena. Oleh karenanya kita harus sadar.

Buddhisme sejati adalah yang dapat memberi nilai tambah bagi diri sendiri, kemanusiaan, dan semua makhluk. Marilah tanyakan nilai tambah apakah yang sudah kuberikan? Ataukah aku hanya memberi makan bagi ego dan ke"aku"anku?

Semoga dapat mendatangkan manfaat sebagai bahan perenungan.

Senin, 24 Maret 2014

BUKU PERINGATAN WAISAK 2500 (BUDDHA JAYANTI)

BUKU PERINGATAN WAISAK 2500 (BUDDHA JAYANTI)

Ivan Taniputera
24 Maret 2014




Judul: Buddha Jayanti 2500
Penerbit: Persaudaraan Upasaka dan Upasika Indonesia-Semarang
Jumlah halaman: 240

Ini merupakan buku peringatan Waisak 1956, di mana dengan demikian agama Buddha telah mencapai 2.500 tahun. Pada bagian kata pengantar terhadap penjelasan:

"2500 tahun Buddha Jayanti adalah sebuah kitab guna memperingati Sang Guru Agung Buddha Gautama serta pelajarannja jang didunia terkenal dengan nama BUDDHA-DHARMA atau BUDDHA DHAMMA jang semendjak PERAJAAN VESAK atau VAISAKHA INI (1956) telah genap 2500 tahun usia atau umurnja."

Di dalamnya berisikan kata-kata sambutan, seperti oleh Ven. Bhikkhu Ashin Jinarakkhita. Terdapat pula artikel mengenai Candi Borobudur dan Candi Mendut oleh Madhyantika. U Nu, Perdana mengeri Burma juga menuliskan artikel berjudul "What is Buddhism?" Terdapat pula berbagai paritta.

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya.





Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

Minggu, 23 Maret 2014

MENJENTIK-JENTIKKAN JARI DAN MEMADAMKAN LILIN

MENJENTIK-JENTIKKAN JARI DAN MEMADAMKAN LILIN

Artikel Dharma ke-43, Maret 2014

Ivan Taniputera
23 Maret 2014



Artikel ini adalah bahan renungan. Suatu kali seseorang membaca sebuah kisah Zen (Chan) mengenai seseorang yang tercerahkan setelah melihat gurunya menjentikkan jari. Dengan harapan agar dirinya juga merealisasi pencerahan, ia mulai gemar menjentik-jentikkan jarinya.

Ada lagi orang lain yang membaca kisah Zen (Chan) mengenai seorang siswa yang tercerahkan sewaktu melihat gurunya memadamkan lilin atau pelita. Dengan harapan agar dirinya juga merealisasi pencerahan, ia gemar meniup lilin atau pelita yang sedang menyala sampai padam.

Apakah orang pertama dan kedua di atas akan merealisasi pencerahan? Silakan direnungkan (bukan pertanyaan untuk dijawab).

Senin, 17 Februari 2014

CACING PADA KOTORAN ANJING

CACING PADA KOTORAN ANJING

Artikel Dharma ke-42, Februari 2014

Ivan Taniputera
17 Februari 2014



Alkisah ada dua orang guru yang merasa bahwa mereka telah berhasil menghilangkan keakuannya. Oleh karenanya, mereka lantas bertanding guna membuktikan hal itu. Caranya adalah dengan bertanding menyebut dirinya menjadi sosok atau sesuatu yang paling hina. Siapa yang bersedia menjadikan dirinya sebagai sosok atau sesuatu paling hina, maka dialah yang menang. 

Guru pertama berkata, "Aku adalah seekor anjing."
Guru kedua berkata, "Aku adalah kotoran anjing."
Guru pertama berkata lagi," Aku adalah cacing pada kotoran anjing."
Guru kedua berkata, "Baik kamu menang."

Bagaimanakah kita memaknai perlombaan di atas. Sesungguhnya perlombaan di atas adalah suatu anekdot menarik. Meskipun berlomba membuktikan keakuan siapa yang paling rendah, namun sesungguhnya perlombaan di atas justru memperkuat keakuan masing-masing. Suatu perlombaan adalah mengenai menang dan kalah: Aku menang dan kamu kalah. 

Pada kenyataannya di muka bumi banyak orang yang melakukan "perlombaan spiritual" semacam itu. Mereka berlomba-lomba memperlihatkan bahwa dirinya memiliki lebih sedikit keakuan, lebih sedikit kekotoran batin, lebih sedikit kemelekatan, dan lain sebagainya. Tetapi benarkah spiritualisme adalah sesuatu yang dapat dilombakan? Inilah yang perlu kita renungkan bersama. Benarkah mereka memiliki lebih sedikit kemelekatan. Bukankah pada suatu perlombaan itu terdapat unsur "kemelekatan untuk menang"?

Guru kedua yang berkata, "Baik kamu menang," pun sebenarnya mengatakan demikian untuk menang. Karena membiarkan guru pertama menang, maka ia hendak menyatakan bahwa dirinya "lebih hina" dibandingkan guru pertama. Karena menyatakan dirinya "lebih hina" dari guru pertama, maka dirinyalah secara kata-kata yang menang. Jadi taktiknya adalah memenangkan orang lain demi memenangkan dirinya sendiri. Dengan demikian, guru kedua lebih cerdik, tetapi dari sisi realisasi spiritual tetap saja ia masih memiliki keakuan dan keakuannya tidak lebih kecil dibandingkan guru pertama.

Jadi, perlombaan tersebut adalah gagal karena perealisasian spiritual tidak bisa dilombakan. Anda memiliki realisasi spiritual lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan orang lain itu tidaklah penting.

Kini adakah di antara Anda sekalian yang masih ingin berlomba membuktikan keakuannya paling rendah atau tidak lagi memiliki keakuan? Atau siapakah di antara kalian yang tidak lagi memiliki keakuan (atta)? Silakan tunjuk jari.

Sabtu, 08 Februari 2014

TERJEMAHAN YANG TEPAT BAGI SABBE SATTA BHAVANTU SUKKHITATA

TERJEMAHAN YANG TEPAT BAGI SABBE SATTA BHAVANTU SUKKHITATA

Artikel Dharma ke-41, Februari 2014

Ivan Taniputera.
8 Februari 2014



Banyak umat Buddhis menerjemahkan "Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitata" sebagai "Semoga semua makhluk berbahagia." Namun marilah kita merenungkan apakah terjemahan ini tepat. Sebelumnya kita perlu mencari dahulu makna kata "sukkha." Kata "sukkha" pada mulanya secara etimologis dapat dipisahkan menjadi su (baik) dan kha (lubang poros). Lubang poros yang dimaksud di sini adalah lubang poros roda kereta. Jika lubang porosnya baik maka kereta dapat melaju dengan kencang. Oleh karenanya, kata sukkha awalnya berarti "berjalan dengan cepat atau mudah," yang mengacu pada lajunya kereta. Hal ini mengandung konotasi "berfungsi dengan baik," yakni lubang poros kereta yang berfungsi dengan baik. Pada perkembangan selanjutnya, kata sukkha dalam bahasa Pali memang dapat diterjemahkan sebagai "sejahtera" (well-being) atau "kebahagiaan" (happiness).

Jika demikian, kita kembali pada pertanyaan awal, apakah terjemahan "semoga semua makhluk berbahagia" itu tepat? Kata "bahagia" sendiri dalam bahasa Indonesia memiliki banyak tingkatan. Orang dapat berbahagia atas sesuatu yang buruk atau baik. Bahkan "orang dapat berbahagia di atas penderitaan orang lain." Sebagai contoh jika kita mengharapkan semua makhluk "berbahagia," maka kita juga hendaknya mengharapkan agar tukang copet akan mendapatkan banyak hasil copetan. Bila hasil copetannya banyak maka sang tukang copet tentunya akan berbahagia, bukan? Seorang pencuri juga akan "berbahagia" kalau hasil curiannya banyak.

Oleh karenanya berdasarkan argumen dan contoh di atas, maka terjemahan "semoga semua makhluk berbahagia" kurang tepat, karena dapat menimbulkan kesalah-pahaman dan perdebatan. Lalu apakah yang terjemahan yang tepat? Terjemahan yang tepat menurut hemat saya adalah "Semoga Semua Makhluk Sejahtera." "Bahagia" yang dimaksud di sini sesungguhnya mengacu pada "kesejahteraan batin." Jika seseorang sejahtera batinnya, ia tidak akan melakukan kejahatan. Ia tidak akan mencuri. Ia tidak akan mencopet. Dengan demikian, terjemahan "semoga semua makhluk sejahtera" adalah sesuatu yang lebih tepat.

Hal ini juga tidak bertentangan dengan makna awal bagi kata "sukkha," yakni mengacu pada fungsi. Jika segalanya berfungsi dengan baik (dalam hal ini batin yang sejahtera), maka orang tidak akan melakukan kejahatan pada orang lain. Orang tidak akan mencuri. Orang tidak akan mencopet. Jadi kita kembalikan maknanya pada konotasi fungsi.

Namun jikalau Anda ingin tetap berpegang pada terjemahan "bahagia," maka hendaknya ditambahkan sebagai berikut "Semoga semua makhluk memiliki pikiran (batin) yang bahagia." Jika seseorang memiliki batin yang bahagia, maka ia juga tidak akan melakukan kejahatan. Ia tidak akan mencuri. Ia tidak akan mencopet.

Dengan memberikan terjemahan yang tepat, kita akan dapat menyampaikan pesannya secara lebih baik.

Semoga bermanfaat.