Senin, 17 Februari 2014

CACING PADA KOTORAN ANJING

CACING PADA KOTORAN ANJING

Artikel Dharma ke-42, Februari 2014

Ivan Taniputera
17 Februari 2014



Alkisah ada dua orang guru yang merasa bahwa mereka telah berhasil menghilangkan keakuannya. Oleh karenanya, mereka lantas bertanding guna membuktikan hal itu. Caranya adalah dengan bertanding menyebut dirinya menjadi sosok atau sesuatu yang paling hina. Siapa yang bersedia menjadikan dirinya sebagai sosok atau sesuatu paling hina, maka dialah yang menang. 

Guru pertama berkata, "Aku adalah seekor anjing."
Guru kedua berkata, "Aku adalah kotoran anjing."
Guru pertama berkata lagi," Aku adalah cacing pada kotoran anjing."
Guru kedua berkata, "Baik kamu menang."

Bagaimanakah kita memaknai perlombaan di atas. Sesungguhnya perlombaan di atas adalah suatu anekdot menarik. Meskipun berlomba membuktikan keakuan siapa yang paling rendah, namun sesungguhnya perlombaan di atas justru memperkuat keakuan masing-masing. Suatu perlombaan adalah mengenai menang dan kalah: Aku menang dan kamu kalah. 

Pada kenyataannya di muka bumi banyak orang yang melakukan "perlombaan spiritual" semacam itu. Mereka berlomba-lomba memperlihatkan bahwa dirinya memiliki lebih sedikit keakuan, lebih sedikit kekotoran batin, lebih sedikit kemelekatan, dan lain sebagainya. Tetapi benarkah spiritualisme adalah sesuatu yang dapat dilombakan? Inilah yang perlu kita renungkan bersama. Benarkah mereka memiliki lebih sedikit kemelekatan. Bukankah pada suatu perlombaan itu terdapat unsur "kemelekatan untuk menang"?

Guru kedua yang berkata, "Baik kamu menang," pun sebenarnya mengatakan demikian untuk menang. Karena membiarkan guru pertama menang, maka ia hendak menyatakan bahwa dirinya "lebih hina" dibandingkan guru pertama. Karena menyatakan dirinya "lebih hina" dari guru pertama, maka dirinyalah secara kata-kata yang menang. Jadi taktiknya adalah memenangkan orang lain demi memenangkan dirinya sendiri. Dengan demikian, guru kedua lebih cerdik, tetapi dari sisi realisasi spiritual tetap saja ia masih memiliki keakuan dan keakuannya tidak lebih kecil dibandingkan guru pertama.

Jadi, perlombaan tersebut adalah gagal karena perealisasian spiritual tidak bisa dilombakan. Anda memiliki realisasi spiritual lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan orang lain itu tidaklah penting.

Kini adakah di antara Anda sekalian yang masih ingin berlomba membuktikan keakuannya paling rendah atau tidak lagi memiliki keakuan? Atau siapakah di antara kalian yang tidak lagi memiliki keakuan (atta)? Silakan tunjuk jari.

Sabtu, 08 Februari 2014

TERJEMAHAN YANG TEPAT BAGI SABBE SATTA BHAVANTU SUKKHITATA

TERJEMAHAN YANG TEPAT BAGI SABBE SATTA BHAVANTU SUKKHITATA

Artikel Dharma ke-41, Februari 2014

Ivan Taniputera.
8 Februari 2014



Banyak umat Buddhis menerjemahkan "Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitata" sebagai "Semoga semua makhluk berbahagia." Namun marilah kita merenungkan apakah terjemahan ini tepat. Sebelumnya kita perlu mencari dahulu makna kata "sukkha." Kata "sukkha" pada mulanya secara etimologis dapat dipisahkan menjadi su (baik) dan kha (lubang poros). Lubang poros yang dimaksud di sini adalah lubang poros roda kereta. Jika lubang porosnya baik maka kereta dapat melaju dengan kencang. Oleh karenanya, kata sukkha awalnya berarti "berjalan dengan cepat atau mudah," yang mengacu pada lajunya kereta. Hal ini mengandung konotasi "berfungsi dengan baik," yakni lubang poros kereta yang berfungsi dengan baik. Pada perkembangan selanjutnya, kata sukkha dalam bahasa Pali memang dapat diterjemahkan sebagai "sejahtera" (well-being) atau "kebahagiaan" (happiness).

Jika demikian, kita kembali pada pertanyaan awal, apakah terjemahan "semoga semua makhluk berbahagia" itu tepat? Kata "bahagia" sendiri dalam bahasa Indonesia memiliki banyak tingkatan. Orang dapat berbahagia atas sesuatu yang buruk atau baik. Bahkan "orang dapat berbahagia di atas penderitaan orang lain." Sebagai contoh jika kita mengharapkan semua makhluk "berbahagia," maka kita juga hendaknya mengharapkan agar tukang copet akan mendapatkan banyak hasil copetan. Bila hasil copetannya banyak maka sang tukang copet tentunya akan berbahagia, bukan? Seorang pencuri juga akan "berbahagia" kalau hasil curiannya banyak.

Oleh karenanya berdasarkan argumen dan contoh di atas, maka terjemahan "semoga semua makhluk berbahagia" kurang tepat, karena dapat menimbulkan kesalah-pahaman dan perdebatan. Lalu apakah yang terjemahan yang tepat? Terjemahan yang tepat menurut hemat saya adalah "Semoga Semua Makhluk Sejahtera." "Bahagia" yang dimaksud di sini sesungguhnya mengacu pada "kesejahteraan batin." Jika seseorang sejahtera batinnya, ia tidak akan melakukan kejahatan. Ia tidak akan mencuri. Ia tidak akan mencopet. Dengan demikian, terjemahan "semoga semua makhluk sejahtera" adalah sesuatu yang lebih tepat.

Hal ini juga tidak bertentangan dengan makna awal bagi kata "sukkha," yakni mengacu pada fungsi. Jika segalanya berfungsi dengan baik (dalam hal ini batin yang sejahtera), maka orang tidak akan melakukan kejahatan pada orang lain. Orang tidak akan mencuri. Orang tidak akan mencopet. Jadi kita kembalikan maknanya pada konotasi fungsi.

Namun jikalau Anda ingin tetap berpegang pada terjemahan "bahagia," maka hendaknya ditambahkan sebagai berikut "Semoga semua makhluk memiliki pikiran (batin) yang bahagia." Jika seseorang memiliki batin yang bahagia, maka ia juga tidak akan melakukan kejahatan. Ia tidak akan mencuri. Ia tidak akan mencopet.

Dengan memberikan terjemahan yang tepat, kita akan dapat menyampaikan pesannya secara lebih baik.

Semoga bermanfaat.

Jumat, 24 Januari 2014

BELAJAR DARI SEONGGOK LEMPUNG

BELAJAR DARI SEONGGOK LEMPUNG

Artikel Dharma ke-40, Januari 2014

Ivan Taniputera.
24 Januari 2014



Banyak umat Buddha masih melekat pada "sosok" dalam mempelajari Dharma. Dalam artian hanya mau mendengarkan Dharma dari "sosok-sosok" yang mereka kagumi. "Sosok-sosok" yang pandai berbicara dan sanggup menyentuh sanubari mereka. Jika ada "sosok" yang tidak mereka sukai namun sama-sama mengajarkan Dharma, kemungkinan besar mereka akan menolaknya. Padahal, Dharma itu tidak ada kaitannya dengan sebuah "sosok." Jika masih melekat pada "sosok," maka itu masih bukan merupakan Dharma yang "sejati."

Sebagai contoh, dapatkah kita belajar pada seonggok lempung? Seonggok lempung adalah sesuatu yang kerap kita pandang sebagai kotor dan menjijikkan. Sesuatu yang ingin kita jauhi, berbeda dengan "sosok-sosok" agung dengan banyak pengikut yang duduk di atas singgasana Dharma sebagaimana sumber kekaguman kita. Padahal seonggok lempung mengajarkan banyak kebenaran hakiki pada kita. Yang pertama adalah mengenai ketidak-kekalan (anicca, anitya). Seonggok lempung itu saat ini ada, namun entah beberapa saat lagi. Mungkin ada kendaraan yang melindasnya dan bentuknya sudah berubah. Mungkin pula hujan turun dan lempung itu menjadi larut, sehingga tidak meninggalkan jejak keberadaannya lagi. Lempung adalah sesuatu yang mudah sekali berubah. Demikianlah hakikat ketidak-kekalan.

Pelajaran kedua, mari kita renungkan, seonggok lempung mengajarkan pada kita kebenaran tersebut, tanpa tendensi atau niat tersembunyi apa pun. Kita tidak mengetahui apakah "sosok" yang kita kagumi memendam niat atau tendensi tersembunyi atau tidak dalam mengajarkan Dharma. Apakah ia mengajar Dharma secara tulus atau tidak, kita tidak mengetahuinya. Namun seonggok lempung sudah pasti tidak memendam tendensi apa pun. Seonggok lempung adalah seonggok lempung. Tidak lebih dan tidak kurang.

Marilah kita menghaturkan hormat pada seonggok lempung yang telah mengajarkan kita kebenaran berharga.

Dalam mendengarkan Dharma, perhatian kita janganlah terpaku pada "sosok" melainkan pada Dharma yang diajarkannya. Kebenaran apakah yang disampaikannya? Kita pelajari dan serap semuanya. Bahkan dari gemerisik dedaunan dan orang awam yang menyelamatkan nyawa seekor anjing pun kita dapat menimba kebenaran berharga. Termasuk dari ajaran-ajaran yang kita "labeli" sebagai bukan-Dharma pun kita dapat memperoleh pengetahuan sejati. Dharma atau kebenaran sejati itu sesungguhnya tiada terbatas, oleh karenanya ia disebut anuttara atau melampaui segalanya.

Minggu, 22 Desember 2013

SENYUM BODHISATTVA KSITIGARBHA

SENYUM BODHISATTVA KSITIGARBHA

Artikel Dharma ke-39, Desember 2013

Ivan Taniputera.
22 Desember 2013



Bodhisattwa Ksitigarbha
Tidak hanya tersenyum pada yang kaya
Melainkan juga pada yang miskin papa
Tidak hanya tersenyum pada orang mulia
Melainkan juga pada yang hina
Tidak hanya tersenyum pada yang cendekia
Melainkan juga pada yang hanya sedikit kecerdasan akalnya
Tidak hanya tersenyum pada yang menghormatinya
Melainkan juga pada yang mencelanya
Tidak hanya tersenyum pada yang baik budi
Melainkan juga pada yang buruk pekerti
Senyumnya menjangkau semua makhluk dan insan tanpa kecuali
Pada keenam alam dari neraka hingga tataran surgawi
Seluruhnya terjangkau senyum Sang Ksitigarbha
Bodhisattva mulia Penguasa Bumi tiada bandingannya
Alam neraka adalah Tanah BuddhaNya
Ikrar suci semenjak awal segala masa
Menabur kasih pada yang paling menderita
Tiada mengeluh sebelum terbebaskannya penghuni neraka tanpa sisa
Kini di muka bumi telah hadir alam neraka
Peperangan meraja lela korbankan banyak jiwa
Kekejaman membelah-belah penuh sembilu
Tiada lagi cinta kasih di dalam kalbu
Bunuh membunuh karena keyakinan, suku, ras, dan agama
Dibumbui kepentingan para bangsa adikuasa
Darah menetes di mana-mana
Apakah bedanya dengan kolam darah dan pohon pisau di alam neraka?
Neraka bukanlah khayalan adanya
Kini ia sungguh nyata
Dengan berbahan baku kebencian, keserakahan, dan pandangan salah manusialah yang membuatnya
Manusialah yang menurunkan neraka ke bumi
Namun Sang Ksitigarbha tetap hadir dengan senyumanNya
Menyirnakan segenap penderitaan manusia

Terpujilah Sang Bodhisattva Ksitigarbha
Terpujilah Sang Bodhisattva Ksitigarbha
Terpujilah Sang Bodhisattva Ksitigarbha

Selasa, 22 Oktober 2013

PAHLAWAN ITU BERNAMA THICH QUANG DUC

PAHLAWAN ITU BERNAMA THICH QUANG DUC

Artikel Dharma ke-38, Oktober 2013

Ivan Taniputera
22 Oktober 2013

Pengalaman ini terjadi waktu saya masih kuliah di Jerman. Karena tadi saya baru saja membongkar dokumen-dokumen lama, ingatan saya melayang pada pengalaman-pengalaman tatkala kuliah di Jerman. Oleh karenaya, saya bermaksud membagikan hal yang luar biasa ini. Suatu kali saat Hari Waisak saya diajak merayakannya oleh seorang teman kuliah saya yang merupakan warga negara Jerman keturunan Vietnam di vihara komunitas mereka. Pada kesempatan tersebut akan diadakan acara puja sarira. Saya waktu itu masih baru mengenal Agama Buddha, sehingga belum mengetahui apa yang disebut sarira tersebut. Sarira secara sederhana adalah sisa pembakaran atau kremasi jenazah orang-orang suci. Saya juga belum tahu sarira siapakah itu. Yang saya ingat, saat itu di vihara orang Vietnam diadakan pemutaran film mengenai seorang bhikshu yang membakar dirinya. Saya hanya melihatnya sepintas lalu saja. Nampak seorang bhikshu duduk bersila dengan tubuh diliputi kobaran api. Namun saya tidak begitu memperhatikannya.

Selanjutnya diadakan acara puja sarira. Saya menyaksikan ada sesuatu seperti sekeping tulang yang bisa berpendar dalam gelap seperti Fosfor. Teman saya mengatakan bahwa itu adalah sarira bhikshu Vietnam yang membakar dirinya seperti pada film tadi. Dia adalah pahlawan umat Buddha di Vietnam.

Bertahun-tahun kemudian setelah membaca berbagai buku Agama Buddha saya mengetahui lebih banyak mengenai bhikshu Vietnam tadi. Beliau bernama Thich Quang Duc. Saat itu Agama Buddha di Vietnam Selatan mengalami penindasan dan penganiayaan. Diskriminasi terhadap Agama Buddha berlangsung dengan sangat parahnya di bawah pemerintahan Presiden Ngo Dienh Diem yang merupakan penganut agama XXX. Meskipun merupakan minoritas para pendeta Agama XXX diperkenankan memiliki pasukan sendiri dan melakukan peralihan agama secara paksa. Umat Agama XXX dibebaskan dari kerja paksa. Gelombang protes meledak setelah pemerintah Vietnam Selatan yang didominasi penganut Agama XXX melarang pengibaran bendera Buddhis saat Hari Waisak, padahal beberapa hari sebelumnya penganut Agama XXX diizinkan mengibarkan bendera V*t*kan berwarna kuning dan putih guna merayakan ulang tahun pemuka agama agung mereka.

Ratusan umat Buddha bangkit berdemonstrasi menentang diskriminasi agama tersebut. Namun pemerintah menanggapinya dengan kekerasan. Sembilan orang jatuh sebagai korban.

Sebagai protes terhadap diskriminasi agama yang parah tersebut, Bhikshu Thich Quang Duc membakar dirinya sendiri hingga meninggal. Sebelum mengorbankan dirinya Thich Quang Duc menulis surat sebagai berikut:

"Sebelum menutup mataku dan mulai memvisualisasikan Hyang Buddha, aku dengan hormat memohon pada Presiden Ngo Dinh Diem agar membangkitkan pikiran belas kasih pada rakyat serta menerapkan keseteraan agama guna menjaga kuatnya pertahanan tanah air selamanya. Aku mengundang para arya, pembabar Dharma, beserta anggota sangha beserta umat awam agar berkumpul dalam kebersamaan mengadakan pengorbanan demi melindungi Agama Buddha."

Lalu saat hendak mengorbankan dirinya Thich Quang Duc duduk bersila sambil melafalkan nama Buddha. Beliau kini dihormati sebagai bodhisattva oleh umat Buddha di Vietnam.

Saya menyebut Thich Quang Duc sebagai pahlawan bukan karena Beliau sama-sama merupakan penganut Agama Buddha. Sama sekali bukan. Kendati Beliau bukan umat Buddha sekali pun, namun melakukan keberanian yang sama, saya akan tetap menyebutnya pahlawan. Saya menyebut Beliau sebagai pahlawan karena berani membela hak azasi manusia, yakni kesetaraan dalam beragama. Hanya sedikit saja orang yang berani bangkit berdiri melawan ketidak-adilan. Saya sendiri tidak memiliki keberanian seperti itu. Oleh karenanya, saya menaruh hormat pada Thich Quang Duc karena saya tidak memiliki keberanian seperti Beliau.

Di negara kita dan belahan dunia lainnya, diskriminasi agama dan lain sebagainya masih marak terjadi. Oleh karenanya, keberanian Thich Quang Duc ini perlu didengungkan kembali sebagai misi menghapuskan berbagai bentuk diskriminasi dan penindasan.

Satu hal lagi yang perlu diteladani Thich Quang Duc hanya mengorbankan dirinya sendiri. Ia tidak mengajarkan membunuh orang-orang yang memusuhi agamanya. Ia tidak mengenakan rompi bom bunuh diri dan menghampiri orang-orang yang menganiaya agamanya. Thich Quang Duc tidak melakukan hal itu, sehingga kita boleh menyebutnya sebagai aksi damai.

Marilah kita mengenang kembali kepahlawanan Thich Quang Duc dan berani berkata "tidak" pada ketidak-adilan, meskipun itu hanya bergaung dalam relung hati terdalam kita.

Informasi lebih banyak mengenai Thich Quang Duc dapat dibaca di: http://en.wikipedia.org/wiki/Thich_Quang_Duc

Selasa, 08 Oktober 2013

MERASAKAN JIKA DIRI KITA MENJADI INSAN LAIN

MERASAKAN JIKA DIRI KITA MENJADI INSAN LAIN

Artikel Dharma ke-37, Oktober 2013

Ivan Taniputera
8 Oktober 2013



Saya pernah membaca bahwa salah satu penyebab seseorang menjadi penjahat adalah kurangnya kemampuan merasakan penderitaan orang lain. Dengan demikian, mereka tidak sanggup merasakan bagaimana jika kejahatan tersebut menimpa diri mereka sendiri. Dalam praktik Lamrim terdapat meditasi yang membayangkan bagaimana jika seseorang menjadi makhluk-makhluk di enam alam kelahiran (sadgati). Sebagai contoh, seseorang membayangkan bagaimana penderitaan di alam hewan. Seekor hewan beban akan dicambuk dan dipaksa oleh majikannya agar membawa barang-barang yang berat. Jika tidak mau jalan, maka hewan itu akan dipukuli sedemikian rupa hingga kulitnya mengelupas dan terluka. Setelah tua mereka akan disembelih dan dimakan dagingnya. Kita membayangkan bagaimana jika diri kita atau orang tua kita yang mengalami seperti itu.

Penderitaan di alam neraka jauh lebih mengerikan lagi. Tidak ada sedikit pun kebahagiaan di sana. Menurut kosmologi Buddhis terdapat neraka panas dan neraka dingin. Ini menandakan adanya kondisi-kondisi ekstrim di sana yang menghalangi kebahagiaan kita. Kita membayangkan penderitaan para makhluk di sana. Bagaimana jika kita sendiri atau orang tua kita yang terlahir di alam neraka? Demikianlah hal ini diterapkan pada alam-alam kelahiran lainnya. Kita akan membangkitkan belas kasih kita pada mereka.

Enam alam itu sebenarnya tidaklah terpisah dengan dunia kita. Sesungguhnya setiap detik dan hirupan nafas kita senantiasa mengalami "kelahiran beserta kematian" di enam alam tersebut. Suatu pagi, kita berhasil memenangkan proyek bernilai milyaran Rupiah. Kita menjadi sangat bersuka cita karenanya. Saat itu kita terlahir di alam dewa. Setelah itu, kita kembali ke kantor guna melakukan persiapan lebih jauh. Kita melakukan segenap perhitungan cengan cermat, terkait proyek tersebut. Saat itulah kita terlahir di alam manusia. Tiba-tiba anak buah kita masuk dan memberitahukan bahwa salah seorang pemasok hendak menaikkan harganya. Timbul amarah dalam batin kita, sehingga kita terlahir di alam ashura atau alam amarah. Beberapa jam kemudian, kita menyerobot antrian di kantor pos dengan tidak memedulikan orang lain. Kita terlahir di alam hewan. Sewaktu melewati sebuah toko kita mendambakan telepon genggam keluaran terbaru yang canggih dengan harga selangit. KIta begitu terobsesi dengan telepon genggam tersebut. Kita terlahir di alam hantu kelaparan. Ternyata, tak berapa lama kemudian, kita terjebak kemacetan yang parah, padahal udara sangat panas. Kita benar-benar tersiksa sehingga terlahir di alam neraka.

Penderitaan di enam alam kelahiran itu sungguh nyata sebagaimana contoh di atas. Bayangkan saja dalam sehari kita sudah mengembara di keenam alam kelahiran. Hanya saja masalahnya tidak setiap orang dapat merasakan penderitaan yang dirasakan oleh orang lain, sehingga mereka tidak ragu-ragu melakukan kebrutalan pada orang lain. Oleh karenanya, meditasi ini sebenarnya sangat baik dalam menumbuhkan empati seseorang, terutama semenjak masih muda. Agar dapat membangkitkan belas kasih dan empatinya, ia harus mampu bertukar peran dengan orang lain. Seseorang yang gagal membangkitkan empati ini memiliki potensi kuat melakukan kejahatan beserta kekejaman mengerikan pada makhluk lain. Meditasi pembangkitan empati ini adalah sesuatu yang sifatnya universal. Tidak hanya umat Buddha saja yang dapat melakukannya. Empati adalah sesuatu yang universal. Dewasa ini, kita menyaksikan kejahatan-kejahatan yang semakin kejam dan mengerikan. Semuanya disebabkan kurangnya empati. Kejahatan-kejahatan kejam itu tidak mengenal batas-batas agama, bangsa, dan ras. Ini kembali menegaskan betapa universalnya praktik membangkitkan empati. Tentu saja praktik meditasi ini dapat disesuaikan pada berbagai budaya maupun agama, namun intinya tetap sama.

Meditasi ini bukanlah pada tataran intelektual saja, melainkan hendaknya dapat meresap dalam batin setiap orang. Dunia semakin membutuhkan empati. Kesenjangan kaya dan miskin semakin lebar di mana-mana. Semuanya disebabkan oleh kurangnya empati dan belas kasih. Praktik spiritual ini dapat menjadi sumbangsih demi terciptanya dunia lebih baik.

Kamis, 26 September 2013

APAKAH MAITREYA ITU BUDDHA ATAU BODHISATTVA?

APAKAH MAITREYA ITU BUDDHA ATAU BODHISATTVA?

Artikel Dharma ke-36, September 2013

Ivan Taniputera
26 September 2013




Dua orang sedang berdebat dengan sengit.

A: Maitreya itu Buddha.
B: Bukan! Maitreya itu Bodhisattva.
A: Tidak bisa. Maitreya itu Buddha.
B: Itu tidak benar! Maitreya itu Bodhisattva.
A: Pokoknya Maitreya adalah Buddha dan saya tahu itu pasti benar.
.......

Demikianlah mereka berdebat dan tidak ada seorang pun bersedia mengalah. Namun apakah mereka sudah berjumpa dengan Maitreya? Apakah baik A atau pun B tahu dengan pasti bahwa Maitreya itu seorang Buddha atau Bodhisattva? Mereka hanya mengetahui dari "tulisan" dan "kata orang." Tiada seorang pun pernah membuktikannya sendiri.

Marilah kita renungkan. Barangkali sebagian besar dari kita melekat pada "tulisan" dan "kata orang" yang kita lekati sebagai "kebenaran mutlak." Di luar apa yang kita yakini adalah salah. Kendati kita hanya mengandalkan "tulisan" dan "kata orang" namun kita berlagak seolah-olah telah membuktikannya sendiri. Ibaratnya seseorang yang hanya mengenal kota Paris dari brosur-brosur perjalanan, lalu berlagak seolah-olah telah mengunjungi sendiri kota tersebut. Padahal sebuah kota bisa terus menerus mengalami perubahan, sehingga sebuah brosur perjalanan bisa saja menjadi tidak akurat. Namun bayangkan orang itu mempertahankan dengan gigih apa yang dibacanya dari brosur perjalanan tersebut. Segenap penggambaran kota Paris yang tidak sesuai dengan brosur perjalanan miliknya adalah keliru. Apakah kita sering bersikap seperti itu?

Lalu apakah Maitreya itu Buddha atau Bodhisattva? Bagi saya tidaklah penting apakah Maitreya itu Buddha atau Bodhisattva. Bahkan saya mengenal Maitreya juga hanya dari pustaka-pustaka suci dan literatur Buddhis. Saya belum pernah berjumpa sendiri dengan Maitreya. Sejujurnya saya pun tidak mengetahui apakah Maitreya benar-benar ada atau tidak. Agama Buddha sendiri juga tidak mengajarkan agar kita percaya membuta begitu saja, bukan? Bagi saya perdebatan semacam itu tidaklah penting. Lebih penting bagi kita adalah berjuang merealisasi pembebasan, atau jika tujuan itu dianggap terlalu muluk, maka yang penting adalah bagaimana menjadikan diri saya berbahagia. Segenap perdebatan yang tidak perlu adalah melelahkan pikiran.

Kedua, mana yang lebih penting memperdebatkan apakah Maitreya itu Buddha dan Bodhisattva atau merealisasi tingkat Bodhisattva dan Kebuddhaan? Memperdebatkan mengenai makanan tidak akan membuat Anda kenyang. Kalau Anda ingin kenyang, makanlah, bukan berdebat atau meributkan mengenai makanan.

Alkisah ada keluarga yang sebelum makan berdebat panjang lebar, mengenai bagaimanakah tampilan makanan itu seharusnya, bagaimanakah piring, gelas, sendok, serta garpu hendaknya diatur, dan hal-hal lain yang remeh temeh. Hasilnya bukan perut yang kenyang, melainkan mulut beserta pikiran yang lelah.

Semoga dapat menjadi bahan renungan bermanfaat.