Senin, 03 Desember 2012

Apakah Yang Menyebabkan Galau?

APAKAH YANG MENYEBABKAN GALAU?

Ivan Taniputera
3 November 2012




Jika kita menanyakan apakah penyebab galau, maka jawabannya ada beraneka ragam; misalnya karena mendapatkan nilai yang buruk dalam ujian, berpisah dengan orang yang dikasihi, tidak punya uang, khawatir dengan masa depan, dan lain sebagainya. Barangkali jika seluruh jagad raya ini diubah menjadi tulisan, maka masih belumlah cukup menampung segenap jawabannya. Permasalahan hidup umat manusia sangatlah beraneka ragam. Meskipun demikian, sebenarnya faktor utama penyebab galau itu dapat diringkas menjadi dua hal ini saja:

(1) Berjumpa dengan hal yang tidak disukai.
(2) Tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan atau diharapkan.

Anda mengharapkan nilai bagus, tetapi yang didapat justru nilai buruk. Anda suka nilai bagus dan tidak suka nilai buruk. Mari kita telusuri lebih jauh lagi. Ternyata suka dan tidak suka adalah ciptaan dari sosok khayal yang disebut "aku." Sosok khayal ini tidaklah lebih nyata ketimbang Batman atau Superman. Anda menciptakannya di sepanjang hidup Anda. Menumpuk berbagai identitas dan gagasan, sehingga terciptalah sosok khayal yang disebut "aku" itu. Kendati demikian, Anda terjatuh kembali dalam suatu khayalan yang lebih dalam, yakni menganggap bahwa sosok khayal atau sang "aku" itu sebagai sesuatu yang "nyata." Anda lalu menjadikannya sebagai titik acuan bagi segala hal, sehingga muncul gagasan "aku" dan "milikku."

Sang "aku" itu dengan dipengaruhi konsep khayal keserba-menduaan (dualisme) lantas menciptakan gagasan mengenai "yang disukai" dan "tak disukai." Demikianlah bola salju khayalan menggelinding semakin besar. Dipadukan dengan gagasan "aku" dan "milikku," Anda membangkitkan pemikiran "aku harus menjadikan yang disukai menjadi milikku" dan "aku harus menjauhkan diri dari yang tak disukai sehingga tak menjadi milikku." Pada kenyataannya dunia penuh ketidak-pastian. Yang pasti hanyalah ketidak-pastian itu sendiri. Oleh karenanya Anda tidak dapat selalu mendapatkan apa yang disukai dan bahkan mungkin malah mendapatkan apa yang tidak disukai. Memang demikianlah kondisi dunia ini. Semuanya tidak selalu berada dalam kendali kita. Itulah sebabnya jika berjumpa atau mendapatkan hal yang disukai atau tidak mendapatkan hal yang diharapkan, timbul penderitaan atau kegalauan dalam diri kita.  Semoga bermanfaat.

Minggu, 02 Desember 2012

Manakah Yang Lebih Nyata, Diri Anda Sendiri Atau Batman dan Superman?


Manakah Yang Lebih Nyata, Diri Anda Sendiri Atau Batman dan Superman?

Ivan Taniputera
2 November 2012



Jika Anda diajukan pertanyaan di atas, Anda kemungkinan akan langsung menjawab bahwa diri Andalah yang nyata, sedangkan Batman dan Superman adalah tidak nyata. Tetapi benarkah demikian? Marilah kita mengajukan pertanyaan, benarkah diri Anda adalah nyata? Apakah identitas diri yang kita sebut "aku" itu adalah nyata? Kita renungkan seorang bayi yang baru lahir. Apakah dia tahu bahwa dirinya itu pria atau wanita? Apakah ia mengetahui termasuk dalam ras atau suku apakah dirinya? Apakah dia tahu termasuk warga negara apakah dirinya? Apakah dia tahu siapakah namanya? Apakah dia tahu apakah agamanya? Gender, ras, suku, kebangsaan, agama, dan identitas lainnya yang membentuk "diri kita" itu adalah diberitahukan belakangan oleh orang tua atau masyarakat sekitar kita. Semua identitas itu adalah hasil konvensi atau perjanjian semata dan sifatnya bersyarat. Dengan demikian, keseluruhan identitas yang kita ketahui belakangan itu adalah hasil ciptaan belaka. Saat kita dilahirkan, tidak ada yang namanya gender, ras, suku, kebangsaan, kewarga-negaraan, dan lain sebagainya. Berbekalkan seluruh identitas tersebut, kita lantaqs menciptakan "diri kita sendiri." Termasuk kesan-kesan, "aku adalah orang baik," "aku adalah orang jahat," "aku adalah orang pandai," "aku adalah orang bodoh." Semua itu adalah bahan-bahan yang kita gunakan untuk menciptakan semacam sosok, yang kita labeli sebagai "diriku." Oleh karena saat kita dilahirkan sosok ini belumlah ada, maka boleh dikatakan bahwa sosok "aku" ini adalah khayal.

Jika sifatnya yang khayal dan merupakan reka cipta pikiran, lalu apakah bedanya dengan sosok Batman dan Superman? Kedua tokoh super hero tersebut juga hasil ciptaan pikiran. Pikiran kitalah yang menciptakan sosok tersebut, sehingga seolah-olah menjadi "ada." Yakni ada dalam khayalan kita. Sosok "diri" itu yang kita ciptakan dan bangun perlahan-lahan seiring hidup kita adalah juga sama khayalnya dengan Batman dan Superman. Kita dipaksa merasakan bahwa sosok "aku" itu nyata adanya. Padahal, bagaimanakah bentuk sang "aku" itu sebelum kita dilahirkan?

Semoga bermanfaat sebagai renungan.

Senin, 26 November 2012

Talismans in Chinese Buddhist Tradition (Tradisi Pembuatan Hu Pada Buddhisme Tiongkok)

Talismans in Chinese Buddhist Tradition (Tradisi Pembuatan Hu Pada Buddhisme Tiongkok)

Ivan Taniputera
27 November 2012

BILINGUAL EDITION
Indonesian and English

Tradisi pembuatan hu (符 = fu) masih banyak belum dikenal oleh umat Buddha. Kebanyakan mengatakan bahwa di dalam Agama Buddha tidak ada hu. Hal ini mungkin benar jika yang dimaksud adalah kanon Pali, namun kita sebenarnya dapat menjumpainya dalam kanon Buddhist Mahayana.

Talisman tradition is still unknown by many Buddhists. Mostly of them think that talismans can not be found in Buddhism. This is may be true by Pali Canon, but we actually can found them in Mahayana Buddhist canon.

Pada beberapa naskah yang disebut "sutra-sutra dharani" (陀羅尼經), Buddha mengajarkan para siswanya agar menuliskan mantra-mantra tertentu dan menaruhnya dalam stupa sebagai obyek pemujaan atau membawanya sebagai semacam jimat.

In some texts which so called "dharani sutras" (陀羅尼經), Buddha taught his disciples to write down any mantras and put them in a stupa as veneration object or take them as talismans.

Contoh pertama yang akan kita bahas adalah Sutra DharaniUsnisavijaya ( 佛頂尊勝陀羅尼經).Disebutkan bahwa jika kita menuliskan Dharani ini dan menaruhnya pada sebuah panji tinggi, gunung, atau bangunan tinggi, setiap makhluk hidup yang melihat Dharani tersebut, terkena bayangannya, atau tertimpa butiran-butiran debu yang berasal darinya, segenap karma buruk mereka akan dimurnikan, serta tak akan pernah mundur lagi dari jalan menuju Penerangan Sempurna.

The first example that we will discuss is Usnisavijaya Dharani Sutra ( 佛頂尊勝陀羅尼經).  It is said that if we write this Dharani and put it on the top of a tall banner, mountain, or high structure, every sentient beings who see the dharani, befallen by its shadow, or befallen by its dust particles, will be purified from their evil karma and will never regress from the path to perfect enlightenment.



Lebih jauh lagi dalam Sutra Dharani Marici ((佛說摩利支天陀羅尼咒經) - Taisho Tripaka 1256), disebutkan bahwa jika kita menuliskan Dharani Marici, menaruhnya pada rambut atau baju, dan membawanya ke manapun pergi, maka Dharani tersebut akan sanggup melindungi kita dari kemalangan apapun.

Moreover, in the Marici Dharani Sutra (佛說摩利支天陀羅尼咒經) - Taisho Tripaka 1256, it is said that if we write Marici Dharani, put it in our hair or cloth, and take it everywhere, then this Dharani can protect us from any calamities.

Pada Sutra Kekuatan Adikodrati Ucchusma Yang Sanggup Menghentikan Ratusan Perubahan, kita dapat menjumpai beberapa hu:
Ini the Sutra of Ucchusma on the Supernatural Power That Stops Hundreds of Transformations, we can find some talismans:

Sumber gambar: The Quintessence of Secret (Esoteric) Buddhism by Trieu Phuoc (Duc Quy).

Menurut sutra yang disebutkan di atas, hu ini dapat melimpahkan pengetahuan dan kebijaksanaan, namun kita hendaknya juga melafalkan dharani-nya 1.000 kali.
According to above mentioned Sutra, this seal can bestow us knowledge and wisdom, but we should recite also the dharani 1.000 times.


Sumber gambar: The Quintessence of Secret (Esoteric) Buddhism by Trieu Phuoc (Duc Quy)

Hu dapat membuat orang yang melihat praktisi merasa bergembira dan juga melindungi dari penderitaan.
This seal can make people happy who see the practioner and also protect from miseries.

Hu yang nampak pada gambar di atas memperlihatkan pengaruh Tiongkok.
Seals which are pictured above clearly shown Chinese influence.

Bukti-bukti di atas memperlihatkan bahwa ilmu hu juga ada dalam kanon Buddhisme Mahayana, khususnya bagian Tantrayana.
These facts show us that talisman tradition can also be found in Mahayana Buddhist canon especialy, Tantric Buddhism.

Di samping itu, di kalangan rakyat terdapat pula hu bernuansa Buddhis.
Besides that, within folktradition we can find also talismans which represent Buddhist influence:



Tiga tanda di bagian atas fu (nomor 1) melambangkan Triratna atau Tiga Permata (Buddha, Dharma, dan Sangha).  Di bagian tengah fu dapat kita saksikan transliterasi bahasa Tionghua mantra Avalokitesvara (Om mani padme hum ), yang berbunyi: an ma ni ba mi hong. Fu di atas merupakan fu Avalokitesvara (Guanyin) guna menolak berbagai mara bahaya. dimana penggunaannya dengan cara dibakar dan abunya dicampur dengan air serta diminum.

Three mark signs (number 1)  in the upper part of talisman represent Triple Jewels (Buddha, Dharma, and Sangha). In the middle part we can notice the transliteration of Avalokitesvara mantra (Om mani padme hum)-an ma ni ba mi hong. This is a talisman of Avalokitesvara (Guanyin) for protection toward any calamities. It should be burnt, mixed with water, and to be drunk.


Ini adalah hu tujuh Buddha melimpahkan keselamatan. Kita dapat memperhatikan adanya aksara 唵 (an or Om), aspek yang sangat penting dalam mantra Buddhis atau Hindu. Selain itu, kita dapat pula menyaksikan tujuh aksara 佛 (fo) yang berarti Buddha.

This is a talisman of seven Buddhas bestowing safety. We can notice the character 唵 (an or Om), the very important element in Buddhist an Hindu mantras. We can see also seven 佛 (fo or Buddha) characters.

TAMBAHAN
ADDITION

Sebagai bahan perbandingan, saya akan mengulas pula hu yang dijumpai di Muangthai. Sebagaimana yang sebagian besar di antara kita ketahui, bangsa Thai merupakan penganut Buddhisme Theravada.

As comparison, I will also discuss some talismans which can be found in Thailand. As mostly of us know, Thai people are adherents of Theravada Buddhist tradition.


Hu jenis ini digambarkan pada secarik kain kuning dan ditulis dengan tinta merah. Gunanya adalah mendatangkan keberuntungan dan kemakmuran. Kita dapat menyaksikan gambar Bhikkhu Sivali (nomor 2). Gambar Mogallana dan Sariputta (nomor 3) beserta dewi-dewi bumi dan langit (nomor 4).

This kind of amulet is drawn on a piece of yellow cloth and written by red ink. The function is to bring luck and wealth. We can see the picture of Bhikkhu Sivali (number 2). Pictures of Mogallana and Sariputta (number 2), and earth and sky goddeses (number 4).

Kita dapat pula menjumpai beberapa hu Thai lainnya sebagai berikut:
We can also found some kind of Thai Talismans as following:


Sumber/ Source: Short Notes of Religious Articles (vol 2) halaman 74

Amulet ini berasal dari Kuil Wat Khun Phien Yankonporn, Propinsi Sukphan, Muangthai. Gambar seperti kura-kura pada bagian bawah Buddha melambangkan Dewa Khun Phien yang diyakini sanggup menganugerahkan kemakmuran.

This amulet originated from Wat Kun Phien Yankonporn Temple, Sukphan Province, Thailand. The picture like tortoise under Buddha represents God Khun Phien who is believed can bestow wealth.


Sumber/ Source: Short Notes of Religious Articles (vol 2) halaman 73

Amulet ini berasal dari Kuil Wat Charkrapoon di Bangkok. Pada bagian tengah amulet ini tergambar Brahma yang juga dikenal sebagai Phra-pom dalam bahasa Muangthai. Simbol-simbol yang berada di sekeliling Brahma melambangkan lima unsur, yakni logam, kayu, air, api, dan tanah; atau hendak menyatakan bahwa Brahma adalah penguasa bagi kelima unsur tersebut.

This amulet is originated from Wat Charkrapoon Temple in Bangkok. Brahma who is also known by Phra-pom in Thai language potrayed in the middle. Symbolisms around Brahma represent five elements: metal, wood, water, fire, and earth. This means that Brahma is the lord of 5 elements.

Sumber/ Source: Short Notes of Religious Articles (vol 2) halaman 72.

Hu ini berasal dari Kuil Thanompaching, Propinsi Wong Khai, Muangthai Timur Laut. Diyakini pula bahwa hu ini dapat menghindarkan sabotase terhadap usaha kita.

This amulet is originated from Thanompaching Temple, Wong Khai Provice, North East Thailand. It is believed that this talisman can protect our bussiness from sabotage.

Senin, 29 Oktober 2012

Anda tak bisa maju, Anda tak bisa mundur, tetapi Anda juga tidak bisa berdiam diri saja. Ke manakah Anda akan pergi?


Anda tak bisa maju, Anda tak bisa mundur, tetapi Anda juga tidak bisa berdiam diri saja. Ke manakah Anda akan pergi?

Ivan Taniputera
30 September 2012

Pertanyaan yang menjadi judul artikel di atas sebenarnya diambil dari ajaran seorang guru besar. Sangat mirip sekali dengan koan dalam Zen atau Ch'an. Saya menafsirkan bahwa pertanyaan di atas mengacu pada praktik "kesadaran terhadap masa sekarang." Yakni kita benar-benar hidup pada saat "sekarang." Tanpa terbelenggu oleh mimpi masa lalu maupun bayang-bayang masa depan. Kita berupaya menyadari hidup pada "saat sekarang dan di sini juga" (now and here). Kita tidak bergerak maju atau mundur. Sekarang adalah suatu titik di dalam waktu. Sekarang bukan masa lalu (mundur) dan juga bukan masa depan (maju). Sekarang ya sekarang yang tidak bisa maju ataupun mundur. Kalau Anda mundur, namanya bukan sekarang lagi dan jika Anda maju namanya juga bukan sekarang lagi. Meskipun demikian, apa yang disebut "sekarang" pun juga akan terus bergerak. Anda tidak bisa menghentikan waktu. "Sekarang" adalah bagian kontinum waktu yang terus bergerak. Jadi dengan kata lain Anda tidak bisa "berdiam diri saja," karena waktu terus begerak. "Sekarang" juga bukan sesuatu yang perlu dilekati, karena "sekarang" pun juga akan berubah menjadi masa lalu. Oleh karena itu, meditasi kesadaran terhadap saat "sekarang" berarti dengan sendirinya Anda juga bergerak mengikuti arus waktu karena "kekinian" bukan sesuatu yang statis. Anda menyadari kehadiran segala sesuatu sebagaimana adanya, tanpa perlu melekat pada beban kesedihan atau rasa bersalah masa lalu dan tidak perlu takut pada hantu kekhawatiran masa depan. Hiduplah pada saat "sekarang." Para guru spiritual menyebutkan bahwa inilah kebahagiaan sejati, keajaiban sejati.

Guru yang sama pernah pula mengajukan pertanyaan "Apakah Anda pernah melihat air mengalir yang diam?" Pertanyaan ini juga senada dengan pertanyaan sebelumnya. Seolah-olah pertanyaan terakhir itu mengandung kontradiksi. Namun barangkali jika Anda pernah mempelajari fisika, maka dalam menelaah gerak partikel, kita seolah-olah "menghentikan" partikel tersebut, dan menganalisa letak, posisi, kecepatan, dan lain sebagainya dalam kerangka  waktu tertentu. Padahal partikel tersebut adalah senantiasa bergerak. Begitu juga saat kita memotret benda yang bergerak. Kita seolah-olah menghentikan benda tersebut dalam bentuk potret dan melihat kondisinya dalam suatu waktu tertentu. Namun kembali kita perlu mengingat bahwa benda itu sesungguhnya senantiasa bergerak.




Demikian semoga bermanfaat.

Rabu, 08 Agustus 2012

Seminar Sukses dan Buddhadharma


Seminar Sukses dan Buddhadharma

Ivan Taniputera
8 Agustus 2012

Dewasa ini kita menyaksikan banyaknya seminar tentang kesuksesan yang ditawarkan.Umpamanya sukses menjadi penjual yang berhasil, sukses pensiun dini, sukses menjadi kaya, dan lain sebagainya. Di sini kita masih menyaksikan bahwa kesuksesan itu hanya dinilai dari sisi materi semata. Benarkah ini kesuksesan sejati? Kalau kita renungkan lebih mendalam, dalam kebanyakan kasus, kesuksesan Anda adalah kegagalan bagi orang lain. Karena hanya ada juara satu, maka jika Anda "berhasil" menjadi juara pertama, itu berarti bahwa orang lain "gagal" menjadi juara pertama. Jadi jelas sekali secara logis, keberhasilan Anda adalah kegagalan bagi orang lain.

Mari kita analisa lebih jauh hal berikut ini, misalkan ada sebuah pabrik yang memproduksi 100 buah barang. Terdapat 10 orang sales dan salah satunya adalah Anda sendiri. Masing-masing sales berupaya menjual sebanyak mungkin dan ingin menjadi sales terbaik. Jikalau Anda berhasil menjual 11 buah barang, maka sudah pasti sales yang lain akan menjual lebih sedikit dibanding Anda. Jadi arti kesuksesan di sini masih dibangun atas dasar kompetisi. Seminar-seminar yang mengajarkan penggapaian kesuksesan masih dibangun atas dasar kompetisi. Sepintas memang kompetisi itu baik, namun mari kita renungkan kembali hal berikut ini.
Bagaimanakah jika kita mengubah paradigma persaingan dalam contoh di atas menjadi demikian: Setiap sales hanya diperkenankan menjual 10 barang saja (100 dibagi 10, yakni jumlah salesnya). Jika ada yang sudah laku semuanya, maka ia terjun membantu sales lain, yang penjualannya paling seret. Di sini terdapat konsep tolong menolong. Semua orang akan mendapatkan hasil yang sama. Manakah yang lebih indah, sistim berdasarkan persaingan ataukah tolong menolong  seperti yang baru saja di ungkapkan?

Dunia kita patut diakui sedang sakit dan menerapkan sistim yang keliru. Kesenjangan sosial meraja lela di mana-mana. Kemiskinan, ketidak-adilan, beserta ketimpangan merajalela di mana. Ada orang yang memiliki tanah berhektar-hektar, sementara yang lain ada yang tidur berjejalan di pondok-pondok kumuh. Ada orang yang makan berlebihan dan tidak jarang membuang-buang makanan, sementara ada orang yang tidak makan selama berhari-hari. Ada orang yang mengatakan bahwa salah orang-orang yang tidur di pondok kumuh itu sendiri, sehingga mereka mengalami nasib demikian. Bahkan seorang pembangkit motivasi mengatakan bahwa tiap orang bisa berhasil. Tetapi benarkah demikian? Anak seorang kaya, semenjak lahir sudah dibekali dengan nilai +1, yakni modal dari orang tuanya. Jika ia mendapatkan mendapatkan pendidikan yang memadai, maka bertambah lagi nilai +1-nya. Ia tentu memiliki rekan-rekan bisnis sesama orang kaya, jadi modal kehidupannya bertambah lagi +1. Kini paling tidak, ia sudah mengantungi nilai +3. Bandingkan dengan orang yang tinggal di pondok kumuh. Ia tidak punya modal apa-apa, nilainya adalah -1. Ia tidak punya kesempatan mendapatkan pendidikan yang memadai, nilainya -1. Koneksinya adalah sesama gelandangan dan pengemis, yang juga sama-sama kekurangan, maka nilainya bertambah lagi dengan -1. Jadi ia mengantungi -3.

Perhatikan betapa kontras perbedaannya. Jika semua orang punya hak untuk berhasil, maka ini adalah pertarungan yang tidak adil. Untuk mencapai kondisi cukup untuk hidup saja, ia harus melampaui 3 poin agar tiba pada nilai 0. Oleh karenanya, seruan pembangkit semangat semacam itu adalah ibarat mengajarkan seseorang bermimpi. Kembali di sini kesuksesan yang dimaksud adalah hanya ditinjau dari sisi materi.

Apakah sukses pensiun dini itu bermoral? Nilai seorang manusia itu adalah manfaat atau kontribusinya bagi sesama. Jika ada orang yang hanya duduk diam menikmati kekayaannya atau hanya ongkang-ongkang kaki saja serta hidup hedonisme, apakah nilainya bagi kehidupan? Orang itu tidak punya nilai sama sekali dan menjadi benalu atau parasit bagi peradaban, karena dia tidak menciptakan nilai tambah sama sekali bagi sesamanya. Lalu bagaimana mungkin seruan pensiun dini dapat dianggap bermoral?

Sebenarnya bagaimanakah kesuksesan yang "sejati"? Kesuksesan "sejati"  adalah kesanggupan menciptakan semakin banyak kebahagiaan baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Pada saat kita mampu "sukses" namun kita justru membantu orang lain agar "sukses" maka itulah kesuksesan sejati. Kesuksesan sejati bukanlah terletak  pada pertanyaan "berapa banyak barang yang  Anda telah jual," melainkan pada "berapa banyak orang yang Anda bantu menjualkan barangnya"? Dalam buku "Geography of Bliss" nampak jelas bahwa sikap altruistik adalah salah satu musabab bagi kebahagiaan. Suatu pencapaian egois yang bercirikan "aku hidup-kamu mati" atau "aku menang-kamu kalah" bukanlah kesuksesan sejati. Ubahlah konsep "kebahagiaanku adalah penderitaan bagi orang lain" menjadi "kebahagiaanku adalah kebahagiaan bagi orang lain, kebahagiaan orang lain adalah kebahagianku juga." Barulah dunia ini akan menjadi lebih baik. 

Bagaimana dengan Buddhadharma. Menurut Buddhadharma kesuksesan tertinggi adalah pembebasan dari segenap belenggu samsara yangt berhakikat dukha.  Dengan demikian, menurut Buddhadharma kesuksesan tidak lagi ditinjau dari sisi materi semata. Kekayaan apapun hakikatnya tetap tidak memuaskan, karena keinginan manusia itu ibaratnya seperti sumur tanpa dasar. Lebih jauh lagi, seorang Bodhisattva hendaknya tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri saja, melainkan juga kebahagiaan semua makhluk. Oleh karena itu, perjuangan berdasarkan kompetisi menang-kalah atau hidup-mati bertentangan dengan Buddhadharma.

Semoga bermanfaat.

Sabtu, 10 Maret 2012

Ngelmu Kwan Iem

Ngelmu Kwan Iem

Ivan Taniputera
15 Maret 2009
(Hari Peringatan Bodhisattva Avalokitesvara)

Kebetulan hari ini bertepatan dengan peringatan Avalokitesvara Bodhisattva. Oleh karena itu, saya tergerak untuk menulis mengenai Beliau. Semoga karya tulis kecil dapat membuat seseorang umat Buddhis semakin mengenal Beliau.
Pertama-tama, saya ingin menjelaskan mengenai makna judul di atas. Bagi sebagian orang, kata "ngelmu" yang berasal dari bahasa Jawa berarti mencari ilmu kesaktian. Apakah "ngelmu Kwan Iem" berarti mencari kesaktian seperti Kwan Iem dalam ceritera-ceritera dongeng? YA! Tetapi kesaktian di sini maksudnya adalah Kebijaksanaan dan Belas Kasih Kwan Iem, karena sesungguhnya kebijaksanaan dan belas kasih itu adalah kesaktian yang tertinggi. Jadi "ngelmu Kwan Iem" berarti "meneladani kebijaksanaan dan belas kasih Avalokitesvara Bodhisattva."
Tadi pagi saya mengikuti kebaktian di vihara yang mengadakan pembacaan Sutra Saddharma Pundarika, yakni bagian Bumenbin (bab 25). Gatha-gathanya jika direnungkan sungguh menyentuh:

Kemudian Sang Bodhisattva Akshyamati bertanya dalam syair ini:

Yang Maha Agung dengan segala tanda-tanda gaibnya!
Biarlah sekarang aku bertanya tentangnya lagi:
Karena alasan apakah maka putera Buddha ini dinamakan Sang Avalokitesvara?

Sang Buddha dengan seluruh tanda-tanda gaibnya menjawab Sang Akshayamati dalam syair:

Dengarlah jasa-jasa dari Sang Avalokitesvara,
...
Prasetyanya yang agung sangat begitu dalam seperti lautan
Tiada dapat dibayangkan ion-ionnya
Dengan melayani ribuan koti para Buddha
Ia telah mengucapkan prasetya agung yang suci
Baiklah Aku ceritakan kepadamu secara singkat
Dia yang mendengar namanya dan melihatnya
Dan mengingat-ingatnya tanpa henti-hentinya di dalam hatinya
Akan dapat mengakhiri kesengsaraan duniawi
Meskipun orang lain dengan niat yang jahat
Melemparkannya ke dalam lubang api
Biarlah ia berpikir tentang daya gaib Sang Avalokitesvara
Dan lubang api itu akan menjadi sebuah kolam
Atau diapungkan di sepanjang samudera... dst

Demikianlah, jika kita merenungkan gatha itu kebajikan Bodhisattva Avalokitesvara sungguh tak terbayangkan. Pada bagian selanjutnya Avalokitesvara melayani segenap keinginan para makhluk dengan menyampaikan dan menjelmakan dirinya sesuai dengan keinginan mereka. Avalokitesvara sungguh guru keteladanan yang tanpa akhir.
Bila kita membaca Sutra Karandavyuha, kasih Kwan Iem juga digambarkan secara indah dan nyata! Dengan kemunculan Sang Avalokitesvara neraka menjadi tempat yang sejuk dan menyenangkan. Matahari dan rembulan dikatakan memancar keluar dari mataNya. Sungguh agung dan mengharukan kasih Kwan Iem!
Mungkin bukan kali ini saja kita merayakan peringatan Bodhisattva Avalokitesvara; namun sudahkah kita menyelami benar-benar keagungan hati Kwan Iem? Sudahkah kita mengerti makna: "Avalokitesvara bodhisattvo gambirayam caryam caramano vya va lokayati sma panca skandhah svabhava cunyan paccyati sma.....?"
Mungkin banyak orang hanya dapat mengacung2kan dupa dan meminta-minta pada sang Bodhisattva. Saya yakin Beliau pasti mendengarkan setiap keinginan para makhluk. Namun tidakkah lebih baik jika kita "ngelmu" kebijaksanaan Beliau dan menjadi Kwan Iem-Kwan Iem lainnya sehingga tugas Beliau lebih ringan.

Semoga semua makhluk berbahagia

Selamat hari Avalokitesvara Bodhisattva

Dasar-dasar Manajemen Vihara

Dasar-dasar Manajemen Vihara

Ivan Taniputera
(16 Januari 2011)


Pengantar


Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis mengenai manajemen vihara. Meskipun demikian, karena keterbatasan waktu, baru kali ini saya berhasil menuliskan artikel dengan topik tersebut. Tulisan ini didapat dari hasil wawancara dan pengamatan terhadap berbagai organisasi vihara yang ada.
Perkembangan zaman yang terus bergulir menghendaki adanya suatu sistim manajemen vihara. Tentu saja sistim yang diadopsi dalam mengatur vihara kemungkinan berbeda dari satu vihara ke vihara lainnya. Meskipun demikian, terdapat suatu panduan garis besar manajemen yang dapat diberlakukan di sebagian besar vihara.
Diharapkan artikel ini sanggup memberikan sumbangsih berharga bagi kemajuan organisasi vihara di negeri kita dan sanggup memajukan perkembangan agama Buddha pada umumnya.

a.Perlunya manajemen vihara

Bila direnungkan lebih seksama, vihara juga merupakan sejenis organisasi yang membutuhkan pengaturan, sehingga segenap fungsinya dapat berjalan lancar. Hal ini tidaklah berbeda dengan organisasi lain yang bersifat duniawi, umpamanya partai politik dan perusahaan. Vihara memerlukan sistim organisasi dan pengaturan yang baik, sehingga dapat memaksimalkan pelayanan terhadap umat tanpa terkecuali. Bedanya dengan organisasi sekuler ataupun keagamaan lainnya adalah manajemen vihara hendaknya mengedepankan prinsip-prinsip Dharma.

b.Prinsip-prinsip dasar manajemen vihara

Sebagaimana yang baru saja diungkapkan, prinsip-prinsip Dharma selayaknya menjadi landasan utama bagi manajemen vihara. Metta karuna hendaknya menjadi motor penggerak bagi sistim manajemen vihara. Dengan adanya belas kasih berlandaskan Dharma, hendaknya terjadi sikap saling menghormati dan mengasihi antara sesama pelaku manajemen vihara dan antara pelaku manajemen vihara dengan umat.
Sikap rendah hati dan tidak mementingkan diri sendiri, patut ditanamkan bagi setiap pelaksana manajemen vihara. Masing-masing hendaknya bersikap saling asih dan asuh. Jangan ada pelaksana manajemen vihara yang merasa dirinya paling penting, paling pandai, atau paling hebat. Yang patut dikedepankan adalah hasil kerja kelompok (team) dan bukannya kinerja perseorangan (single fighter).
Prinsip berikutnya adalah mudita, yang dalam hal ini adalah saling menyokong antara sesama pelaksana manajemen. Jangan menyalahkan atau mencoba menimpakan kesalahan pada orang lain. Bila ada sesama pelaksana yang sanggup menelurkan ide-ide atau karya hebat, kita hendaknya bersuka cita.
Selanjutnya adalah prinsip upekkha atau keseimbangan batin. Dalam hal ini seorang pelaksana harus dengan lapang dada menerima kritikan atau masukan dari sesama pelaksana manajemen serta umat. Jangan setelah menerima kritikan lantas marah atau emosi. Beberapa orang lantas mengundurkan diri dan tidak mau datang lagi ke vihara setelah dikritik. Biarlah kritik itu menjadi pelajaran bagi diri kita sebagai bekal kehidupan di tengah masyarakat. Keseimbangan batin ini juga mendorong kita agar tidak bersikap membeda-bedakan. Umat vihara tentunya berasal dari banyak golongan dan tingkat perekonomian. Janganlah mengutamakan umat-umat yang kaya atau berduit saja. Buddha sendiri mengajarkan Dharma kepada semua orang tanpa membeda-bedakan. Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita meneladani Guru kita.
Tentu saja masih banyak lagi prinsip-prinsip lainnya, namun nampaknya keempat prinsip di atas yang terpenting. Prinsip-prinsip kecil lain umpamanya adalah rela berkorban serta tak mudah mengeluh. Sebelum seseorang memangku tugas-tugas sebagai pelaksana manajemen vihara, hendaknya prinsip-prinsip ini dipahami baik-baik.
Sebaliknya, sebagai umat kita juga harus menghargai para pelaksana manajemen vihara. Kita selaku umat perlu menyadari bahwa pelaksana manajemen telah bekerja keras menyelesaikan berbagai tugas. Dengan demikian, kita jangan mudah menyalahkan mereka hanya karena urusan sepele. Kendati demikian kembangkan sikap saling membangun. Apabila sekiranya ada kritikan atau usulan membangun janganlah ragu-ragu menyampaikan pada mereka. Dengan demikian, hubungan yang kondusif antara pelaksana manajemen vihara dan umat akan terselenggara dengan baik.

c.Tatanan organisasi vihara

Sebagai pelindung bagi manajemen vihara biasanya adalah anggota Sangha. Selanjutnya diperlukan seorang ketua vihara. Sesudah itu barulah dibentuk berbagai divisi sesuai kebutuhan vihara, seperti bendahara, divisi kerohanian, divisi acara, divisi muda-mudi, divisi keamanan, divisi umum, dan lain sebagainya. Masing-masing vihara kemungkinan memiliki divisi yang tidak sama. Oleh karena itu, sebelum merancang sistim organisatoris vihara perlu mempertimbangkan kebutuhan yang ada. Yang perlu diingat divisi-divisi dalam vihara tidaklah berdiri sendiri-sendiri melainkan harus saling berkoordinasi satu sama lain. Suatu kegiatan barulah dapat terlaksana apabila berbagai divisi itu sanggup bekerja sama dengan baik.

KETUA VIHARA

Memimpin divisi-divisi di bawahnya dan mengupayakan agar kegiatan vihara berjalan lancar. Ketua vihara hendaknya berkoordinasi dengan pelindung manajemen vihara, yang biasanya berasal dari kalangan Sangha. Tugas ketua vihara sangat berat. Ia hendaknya sanggup pula mencari pribadi-pribadi yang berbobot demi mengembangkan viharanya.

BENDAHARA
Tugasnya tentu saja adalah menangani masalah keuangan vihara. Adapun kemungkinan sumber keuangan vihara antara lain: (1)sumbangan atau dana umat dan (2)penjualan melalui bursa. Oleh karena itu, di bawah bendahara boleh dibentuk divisi bursa vihara. Bendahara hendaknya sanggup menghadirkan laporan keuangan vihara yang transparan-mengingat sekarang adalah era transparasi. Sebagai tambahan, karena berkaitan dengan laporan keuangan vihara, ada baiknya bendahara menguasai pula ilmu akutansi. Penguasaan ilmu ini merupakan tuntutan perkembangan zaman, sehingga bila suatu vihara ingin maju diperlukan pula tenaga-tenaga handal sebagai pengurusnya.

DIVISI KEROHANIAN
Bertugas menangani kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya dengan pembelajaran dan pembabaran Dharma. Sebagai contoh adalah mengatur penyelenggaraan sekolah minggu atau kelas pembelajaran Dharma bagi muda-mudi.

DIVISI ACARA
Bertugas menangani acara-acara rutin maupun khusus. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan vihara, umpamanya retret, bakti sosial atau pembagian sembako juga merupakan tanggung jawab divisi ini. Khusus mengenai retret dapat berkoordinasi dengan divisi kerohanian, mengingat masing-masing divisi tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Acara rutin misalnya puja bakti mingguan atau setiap hari uposatha. Oleh karena, upacara-upacara di vihara memerlukan kehadiran para anggota Sangha, divisi acara juga perlu berkoordinasi dengan pelindung organisasi manajemen vihara, tentu saja melalui ketua vihara.
Penyambutan umat juga menjadi tanggung jawab divisi acara.

DIVISI MUDA-MUDI

Kaum muda merupakan elemen penting vihara. Pada pundak kaum muda terletak kemajuan vihara dan agama Buddha secara umum di masa mendatang. Itulah sebabnya, penulis merasa perlu mengadakan suatu divisi khusus bagi kaum muda-mudi demi mewadahi dan menyalurkan aspirasi mereka. Mungkin ada yang berpikir bahwa kegiatan divisi muda-mudi ini ada tumpang tindihnya dengan divisi kerohanian (berupa kelas Dharma bagi kaum muda-mudi). Memang pemikiran ini ada benarnya, karena suatu divisi itu tidaklah berdiri sendiri-sendiri, sehingga perlu ada koordinasi antara berbagai divisi yang ada, termasuk divisi kerohanian dan muda-mudi. Divisi muda-mudi mungkin lebih banyak menangani kegiatan selain kerohanian, seperti kursus bahasa Inggris, Mandarin, bela diri, dan lain sebagainya yang dilakukan dalam lingkungan vihara. Tentu saja, hal ini tidak berarti bahwa orang yang merasa dirinya tidak muda lagi tak boleh berpartisipasi dalam kegiatan semacam itu.

DIVISI KEAMANAN

Bertugas menangani masalah keamanan dan ketertiban di vihara. Mengingatkan para pengunjung agar berpakaian sopan juga menjadi tanggung jawab divisi keamanan. Tentu saja dalam menjalankan tugasnya divisi keamanan harus tetap bersikap ramah dan sopan namun tegas. Salah satu tugas lain divisi keamanan misalnya mengingatkan pengunjung vihara yang lalai melepas alas kakinya saat memasuki vihara.

d.Penyambutan tamu

Salah satu pertanyaan penting sehubungan dengan manajemen vihara adalah apakah diperlukan penyambut tamu saat diadakannya puja bakti di vihara. Tentu saja jawaban bagi pertanyaan ini beragam. Memang dalam naskah-naskah suci Buddhis tidak disebutkan mengenai perlunya penyambutan bagi tamu (setidaknya sejauh yang saya ketahui). Meskipun demikian, bila direnungkan menjadi penyambut tamu setidaknya dapat menjadi latihan bagi kita mengembangkan keramahan. Sesungguhnya memberikan senyuman saja, dapat dianggap sebagai pemberian dana. Jadi adanya penyambut tamu tidak ada ruginya serta dapat membawa efek positif.
Lalu dari sudut pandang sistim manajemen vihara, di bawah koordinasi siapakah penyambut tamu itu? Penyambut tamu dapat berada di bawah divisi acara. Ada baiknya, sebelum bertugas sebagai penyambut tamu seseorang diberikan training dan panduan terlebih dahulu.

e.Pendapatan dan pengeluaran vihara


Bendahara bertugas melakukan pembukuan terhadap pemasukan dan pengeluaran vihara. Sebelumnya perlu didata terlebih dahulu apa yang menjadi sumber pemasukan dan pengeluaran vihara.

SUMBER PEMASUKAN VIHARA

Kotak dana sumbangan
Sumbangan umat
Penjualan barang-barang di bursa (patung, barang sembahyang, dan lain sebagainya)
Khusus kotak dana sumbangan perlu dihitung secara berkala, umpamanya seminggu sekali. Lalu seluruh hasilnya dibukukan secara teliti dan cermat.

SUMBER PENGELUARAN VIHARA

Listrik
Kebersihan dan perawatan
Gaji karyawan (bila ada)
Internet (bila ada)
Makan dan minum (bila ada-terutama saat perayaan-perayaan tertentu)
Pembangunan, perbaikan, atau perombakan gedung skala besar
Pemasukan dan pengeluaran vihara ini ada baiknya secara berkala juga diaudit.
f.Pertemuan (meeting) pengurus vihara
Para pelaku manajemen vihara perlu mengadakan pertemuan secara teratur guna membahas perkembangan dan pengaturan vihara. Demi menjaga profesionalisme, undangan mengadakan pertemuan hendaknya secara tertulis dan jelas. Undangan yang hanya lisan semata, perlu dihindari. Agar dipastikan pula agar seluruh pengurus vihara menerima undangan tersebut. Undangan boleh juga ditempel di papan pengumuman.
Undangan yang baik hendaknya mencamtumkan hal-hal sebagai berikut: tanggal, jam, dan tempat pertemuan, serta tujuan pertemuan. Bahasa yang dipergunakan jelas dan sopan. Hindari undangan rapat yang terlalu bertele-tele.
Saat membicarakan suatu topik dalam rapat para peserta seyogianya tetap berpegang pada prinsip-prinsip Dharma. Apabila menerima undangan rapat, para pengurus vihara selayaknya meluangkan waktu demi menghadirinya.

Penutup

Demikianlah sekelumit dasar-dasar manajemen vihara. Tentu saja, praktik manajemen vihara di lapangan jauh lebih sulit. Artikel ini hanya mengulas dasar-dasarnya saja. Tulisan ini boleh disebar-luaskan tanpa mengurangi atau menambahi isinya. Apabila hendak dikutip silakan disebutkan sumbernya. Segenap kritik dan saran dapat menghubungi penulis di ivan_taniputera [at] yahoo.com atau 0816658902. Semoga tulisan ini dapat menambah kepustakaan mengenai agama Buddha di negeri kita.