Rabu, 08 Agustus 2012

Seminar Sukses dan Buddhadharma


Seminar Sukses dan Buddhadharma

Ivan Taniputera
8 Agustus 2012

Dewasa ini kita menyaksikan banyaknya seminar tentang kesuksesan yang ditawarkan.Umpamanya sukses menjadi penjual yang berhasil, sukses pensiun dini, sukses menjadi kaya, dan lain sebagainya. Di sini kita masih menyaksikan bahwa kesuksesan itu hanya dinilai dari sisi materi semata. Benarkah ini kesuksesan sejati? Kalau kita renungkan lebih mendalam, dalam kebanyakan kasus, kesuksesan Anda adalah kegagalan bagi orang lain. Karena hanya ada juara satu, maka jika Anda "berhasil" menjadi juara pertama, itu berarti bahwa orang lain "gagal" menjadi juara pertama. Jadi jelas sekali secara logis, keberhasilan Anda adalah kegagalan bagi orang lain.

Mari kita analisa lebih jauh hal berikut ini, misalkan ada sebuah pabrik yang memproduksi 100 buah barang. Terdapat 10 orang sales dan salah satunya adalah Anda sendiri. Masing-masing sales berupaya menjual sebanyak mungkin dan ingin menjadi sales terbaik. Jikalau Anda berhasil menjual 11 buah barang, maka sudah pasti sales yang lain akan menjual lebih sedikit dibanding Anda. Jadi arti kesuksesan di sini masih dibangun atas dasar kompetisi. Seminar-seminar yang mengajarkan penggapaian kesuksesan masih dibangun atas dasar kompetisi. Sepintas memang kompetisi itu baik, namun mari kita renungkan kembali hal berikut ini.
Bagaimanakah jika kita mengubah paradigma persaingan dalam contoh di atas menjadi demikian: Setiap sales hanya diperkenankan menjual 10 barang saja (100 dibagi 10, yakni jumlah salesnya). Jika ada yang sudah laku semuanya, maka ia terjun membantu sales lain, yang penjualannya paling seret. Di sini terdapat konsep tolong menolong. Semua orang akan mendapatkan hasil yang sama. Manakah yang lebih indah, sistim berdasarkan persaingan ataukah tolong menolong  seperti yang baru saja di ungkapkan?

Dunia kita patut diakui sedang sakit dan menerapkan sistim yang keliru. Kesenjangan sosial meraja lela di mana-mana. Kemiskinan, ketidak-adilan, beserta ketimpangan merajalela di mana. Ada orang yang memiliki tanah berhektar-hektar, sementara yang lain ada yang tidur berjejalan di pondok-pondok kumuh. Ada orang yang makan berlebihan dan tidak jarang membuang-buang makanan, sementara ada orang yang tidak makan selama berhari-hari. Ada orang yang mengatakan bahwa salah orang-orang yang tidur di pondok kumuh itu sendiri, sehingga mereka mengalami nasib demikian. Bahkan seorang pembangkit motivasi mengatakan bahwa tiap orang bisa berhasil. Tetapi benarkah demikian? Anak seorang kaya, semenjak lahir sudah dibekali dengan nilai +1, yakni modal dari orang tuanya. Jika ia mendapatkan mendapatkan pendidikan yang memadai, maka bertambah lagi nilai +1-nya. Ia tentu memiliki rekan-rekan bisnis sesama orang kaya, jadi modal kehidupannya bertambah lagi +1. Kini paling tidak, ia sudah mengantungi nilai +3. Bandingkan dengan orang yang tinggal di pondok kumuh. Ia tidak punya modal apa-apa, nilainya adalah -1. Ia tidak punya kesempatan mendapatkan pendidikan yang memadai, nilainya -1. Koneksinya adalah sesama gelandangan dan pengemis, yang juga sama-sama kekurangan, maka nilainya bertambah lagi dengan -1. Jadi ia mengantungi -3.

Perhatikan betapa kontras perbedaannya. Jika semua orang punya hak untuk berhasil, maka ini adalah pertarungan yang tidak adil. Untuk mencapai kondisi cukup untuk hidup saja, ia harus melampaui 3 poin agar tiba pada nilai 0. Oleh karenanya, seruan pembangkit semangat semacam itu adalah ibarat mengajarkan seseorang bermimpi. Kembali di sini kesuksesan yang dimaksud adalah hanya ditinjau dari sisi materi.

Apakah sukses pensiun dini itu bermoral? Nilai seorang manusia itu adalah manfaat atau kontribusinya bagi sesama. Jika ada orang yang hanya duduk diam menikmati kekayaannya atau hanya ongkang-ongkang kaki saja serta hidup hedonisme, apakah nilainya bagi kehidupan? Orang itu tidak punya nilai sama sekali dan menjadi benalu atau parasit bagi peradaban, karena dia tidak menciptakan nilai tambah sama sekali bagi sesamanya. Lalu bagaimana mungkin seruan pensiun dini dapat dianggap bermoral?

Sebenarnya bagaimanakah kesuksesan yang "sejati"? Kesuksesan "sejati"  adalah kesanggupan menciptakan semakin banyak kebahagiaan baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Pada saat kita mampu "sukses" namun kita justru membantu orang lain agar "sukses" maka itulah kesuksesan sejati. Kesuksesan sejati bukanlah terletak  pada pertanyaan "berapa banyak barang yang  Anda telah jual," melainkan pada "berapa banyak orang yang Anda bantu menjualkan barangnya"? Dalam buku "Geography of Bliss" nampak jelas bahwa sikap altruistik adalah salah satu musabab bagi kebahagiaan. Suatu pencapaian egois yang bercirikan "aku hidup-kamu mati" atau "aku menang-kamu kalah" bukanlah kesuksesan sejati. Ubahlah konsep "kebahagiaanku adalah penderitaan bagi orang lain" menjadi "kebahagiaanku adalah kebahagiaan bagi orang lain, kebahagiaan orang lain adalah kebahagianku juga." Barulah dunia ini akan menjadi lebih baik. 

Bagaimana dengan Buddhadharma. Menurut Buddhadharma kesuksesan tertinggi adalah pembebasan dari segenap belenggu samsara yangt berhakikat dukha.  Dengan demikian, menurut Buddhadharma kesuksesan tidak lagi ditinjau dari sisi materi semata. Kekayaan apapun hakikatnya tetap tidak memuaskan, karena keinginan manusia itu ibaratnya seperti sumur tanpa dasar. Lebih jauh lagi, seorang Bodhisattva hendaknya tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri saja, melainkan juga kebahagiaan semua makhluk. Oleh karena itu, perjuangan berdasarkan kompetisi menang-kalah atau hidup-mati bertentangan dengan Buddhadharma.

Semoga bermanfaat.

Sabtu, 10 Maret 2012

Ngelmu Kwan Iem

Ngelmu Kwan Iem

Ivan Taniputera
15 Maret 2009
(Hari Peringatan Bodhisattva Avalokitesvara)

Kebetulan hari ini bertepatan dengan peringatan Avalokitesvara Bodhisattva. Oleh karena itu, saya tergerak untuk menulis mengenai Beliau. Semoga karya tulis kecil dapat membuat seseorang umat Buddhis semakin mengenal Beliau.
Pertama-tama, saya ingin menjelaskan mengenai makna judul di atas. Bagi sebagian orang, kata "ngelmu" yang berasal dari bahasa Jawa berarti mencari ilmu kesaktian. Apakah "ngelmu Kwan Iem" berarti mencari kesaktian seperti Kwan Iem dalam ceritera-ceritera dongeng? YA! Tetapi kesaktian di sini maksudnya adalah Kebijaksanaan dan Belas Kasih Kwan Iem, karena sesungguhnya kebijaksanaan dan belas kasih itu adalah kesaktian yang tertinggi. Jadi "ngelmu Kwan Iem" berarti "meneladani kebijaksanaan dan belas kasih Avalokitesvara Bodhisattva."
Tadi pagi saya mengikuti kebaktian di vihara yang mengadakan pembacaan Sutra Saddharma Pundarika, yakni bagian Bumenbin (bab 25). Gatha-gathanya jika direnungkan sungguh menyentuh:

Kemudian Sang Bodhisattva Akshyamati bertanya dalam syair ini:

Yang Maha Agung dengan segala tanda-tanda gaibnya!
Biarlah sekarang aku bertanya tentangnya lagi:
Karena alasan apakah maka putera Buddha ini dinamakan Sang Avalokitesvara?

Sang Buddha dengan seluruh tanda-tanda gaibnya menjawab Sang Akshayamati dalam syair:

Dengarlah jasa-jasa dari Sang Avalokitesvara,
...
Prasetyanya yang agung sangat begitu dalam seperti lautan
Tiada dapat dibayangkan ion-ionnya
Dengan melayani ribuan koti para Buddha
Ia telah mengucapkan prasetya agung yang suci
Baiklah Aku ceritakan kepadamu secara singkat
Dia yang mendengar namanya dan melihatnya
Dan mengingat-ingatnya tanpa henti-hentinya di dalam hatinya
Akan dapat mengakhiri kesengsaraan duniawi
Meskipun orang lain dengan niat yang jahat
Melemparkannya ke dalam lubang api
Biarlah ia berpikir tentang daya gaib Sang Avalokitesvara
Dan lubang api itu akan menjadi sebuah kolam
Atau diapungkan di sepanjang samudera... dst

Demikianlah, jika kita merenungkan gatha itu kebajikan Bodhisattva Avalokitesvara sungguh tak terbayangkan. Pada bagian selanjutnya Avalokitesvara melayani segenap keinginan para makhluk dengan menyampaikan dan menjelmakan dirinya sesuai dengan keinginan mereka. Avalokitesvara sungguh guru keteladanan yang tanpa akhir.
Bila kita membaca Sutra Karandavyuha, kasih Kwan Iem juga digambarkan secara indah dan nyata! Dengan kemunculan Sang Avalokitesvara neraka menjadi tempat yang sejuk dan menyenangkan. Matahari dan rembulan dikatakan memancar keluar dari mataNya. Sungguh agung dan mengharukan kasih Kwan Iem!
Mungkin bukan kali ini saja kita merayakan peringatan Bodhisattva Avalokitesvara; namun sudahkah kita menyelami benar-benar keagungan hati Kwan Iem? Sudahkah kita mengerti makna: "Avalokitesvara bodhisattvo gambirayam caryam caramano vya va lokayati sma panca skandhah svabhava cunyan paccyati sma.....?"
Mungkin banyak orang hanya dapat mengacung2kan dupa dan meminta-minta pada sang Bodhisattva. Saya yakin Beliau pasti mendengarkan setiap keinginan para makhluk. Namun tidakkah lebih baik jika kita "ngelmu" kebijaksanaan Beliau dan menjadi Kwan Iem-Kwan Iem lainnya sehingga tugas Beliau lebih ringan.

Semoga semua makhluk berbahagia

Selamat hari Avalokitesvara Bodhisattva

Dasar-dasar Manajemen Vihara

Dasar-dasar Manajemen Vihara

Ivan Taniputera
(16 Januari 2011)


Pengantar


Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis mengenai manajemen vihara. Meskipun demikian, karena keterbatasan waktu, baru kali ini saya berhasil menuliskan artikel dengan topik tersebut. Tulisan ini didapat dari hasil wawancara dan pengamatan terhadap berbagai organisasi vihara yang ada.
Perkembangan zaman yang terus bergulir menghendaki adanya suatu sistim manajemen vihara. Tentu saja sistim yang diadopsi dalam mengatur vihara kemungkinan berbeda dari satu vihara ke vihara lainnya. Meskipun demikian, terdapat suatu panduan garis besar manajemen yang dapat diberlakukan di sebagian besar vihara.
Diharapkan artikel ini sanggup memberikan sumbangsih berharga bagi kemajuan organisasi vihara di negeri kita dan sanggup memajukan perkembangan agama Buddha pada umumnya.

a.Perlunya manajemen vihara

Bila direnungkan lebih seksama, vihara juga merupakan sejenis organisasi yang membutuhkan pengaturan, sehingga segenap fungsinya dapat berjalan lancar. Hal ini tidaklah berbeda dengan organisasi lain yang bersifat duniawi, umpamanya partai politik dan perusahaan. Vihara memerlukan sistim organisasi dan pengaturan yang baik, sehingga dapat memaksimalkan pelayanan terhadap umat tanpa terkecuali. Bedanya dengan organisasi sekuler ataupun keagamaan lainnya adalah manajemen vihara hendaknya mengedepankan prinsip-prinsip Dharma.

b.Prinsip-prinsip dasar manajemen vihara

Sebagaimana yang baru saja diungkapkan, prinsip-prinsip Dharma selayaknya menjadi landasan utama bagi manajemen vihara. Metta karuna hendaknya menjadi motor penggerak bagi sistim manajemen vihara. Dengan adanya belas kasih berlandaskan Dharma, hendaknya terjadi sikap saling menghormati dan mengasihi antara sesama pelaku manajemen vihara dan antara pelaku manajemen vihara dengan umat.
Sikap rendah hati dan tidak mementingkan diri sendiri, patut ditanamkan bagi setiap pelaksana manajemen vihara. Masing-masing hendaknya bersikap saling asih dan asuh. Jangan ada pelaksana manajemen vihara yang merasa dirinya paling penting, paling pandai, atau paling hebat. Yang patut dikedepankan adalah hasil kerja kelompok (team) dan bukannya kinerja perseorangan (single fighter).
Prinsip berikutnya adalah mudita, yang dalam hal ini adalah saling menyokong antara sesama pelaksana manajemen. Jangan menyalahkan atau mencoba menimpakan kesalahan pada orang lain. Bila ada sesama pelaksana yang sanggup menelurkan ide-ide atau karya hebat, kita hendaknya bersuka cita.
Selanjutnya adalah prinsip upekkha atau keseimbangan batin. Dalam hal ini seorang pelaksana harus dengan lapang dada menerima kritikan atau masukan dari sesama pelaksana manajemen serta umat. Jangan setelah menerima kritikan lantas marah atau emosi. Beberapa orang lantas mengundurkan diri dan tidak mau datang lagi ke vihara setelah dikritik. Biarlah kritik itu menjadi pelajaran bagi diri kita sebagai bekal kehidupan di tengah masyarakat. Keseimbangan batin ini juga mendorong kita agar tidak bersikap membeda-bedakan. Umat vihara tentunya berasal dari banyak golongan dan tingkat perekonomian. Janganlah mengutamakan umat-umat yang kaya atau berduit saja. Buddha sendiri mengajarkan Dharma kepada semua orang tanpa membeda-bedakan. Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita meneladani Guru kita.
Tentu saja masih banyak lagi prinsip-prinsip lainnya, namun nampaknya keempat prinsip di atas yang terpenting. Prinsip-prinsip kecil lain umpamanya adalah rela berkorban serta tak mudah mengeluh. Sebelum seseorang memangku tugas-tugas sebagai pelaksana manajemen vihara, hendaknya prinsip-prinsip ini dipahami baik-baik.
Sebaliknya, sebagai umat kita juga harus menghargai para pelaksana manajemen vihara. Kita selaku umat perlu menyadari bahwa pelaksana manajemen telah bekerja keras menyelesaikan berbagai tugas. Dengan demikian, kita jangan mudah menyalahkan mereka hanya karena urusan sepele. Kendati demikian kembangkan sikap saling membangun. Apabila sekiranya ada kritikan atau usulan membangun janganlah ragu-ragu menyampaikan pada mereka. Dengan demikian, hubungan yang kondusif antara pelaksana manajemen vihara dan umat akan terselenggara dengan baik.

c.Tatanan organisasi vihara

Sebagai pelindung bagi manajemen vihara biasanya adalah anggota Sangha. Selanjutnya diperlukan seorang ketua vihara. Sesudah itu barulah dibentuk berbagai divisi sesuai kebutuhan vihara, seperti bendahara, divisi kerohanian, divisi acara, divisi muda-mudi, divisi keamanan, divisi umum, dan lain sebagainya. Masing-masing vihara kemungkinan memiliki divisi yang tidak sama. Oleh karena itu, sebelum merancang sistim organisatoris vihara perlu mempertimbangkan kebutuhan yang ada. Yang perlu diingat divisi-divisi dalam vihara tidaklah berdiri sendiri-sendiri melainkan harus saling berkoordinasi satu sama lain. Suatu kegiatan barulah dapat terlaksana apabila berbagai divisi itu sanggup bekerja sama dengan baik.

KETUA VIHARA

Memimpin divisi-divisi di bawahnya dan mengupayakan agar kegiatan vihara berjalan lancar. Ketua vihara hendaknya berkoordinasi dengan pelindung manajemen vihara, yang biasanya berasal dari kalangan Sangha. Tugas ketua vihara sangat berat. Ia hendaknya sanggup pula mencari pribadi-pribadi yang berbobot demi mengembangkan viharanya.

BENDAHARA
Tugasnya tentu saja adalah menangani masalah keuangan vihara. Adapun kemungkinan sumber keuangan vihara antara lain: (1)sumbangan atau dana umat dan (2)penjualan melalui bursa. Oleh karena itu, di bawah bendahara boleh dibentuk divisi bursa vihara. Bendahara hendaknya sanggup menghadirkan laporan keuangan vihara yang transparan-mengingat sekarang adalah era transparasi. Sebagai tambahan, karena berkaitan dengan laporan keuangan vihara, ada baiknya bendahara menguasai pula ilmu akutansi. Penguasaan ilmu ini merupakan tuntutan perkembangan zaman, sehingga bila suatu vihara ingin maju diperlukan pula tenaga-tenaga handal sebagai pengurusnya.

DIVISI KEROHANIAN
Bertugas menangani kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya dengan pembelajaran dan pembabaran Dharma. Sebagai contoh adalah mengatur penyelenggaraan sekolah minggu atau kelas pembelajaran Dharma bagi muda-mudi.

DIVISI ACARA
Bertugas menangani acara-acara rutin maupun khusus. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan vihara, umpamanya retret, bakti sosial atau pembagian sembako juga merupakan tanggung jawab divisi ini. Khusus mengenai retret dapat berkoordinasi dengan divisi kerohanian, mengingat masing-masing divisi tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Acara rutin misalnya puja bakti mingguan atau setiap hari uposatha. Oleh karena, upacara-upacara di vihara memerlukan kehadiran para anggota Sangha, divisi acara juga perlu berkoordinasi dengan pelindung organisasi manajemen vihara, tentu saja melalui ketua vihara.
Penyambutan umat juga menjadi tanggung jawab divisi acara.

DIVISI MUDA-MUDI

Kaum muda merupakan elemen penting vihara. Pada pundak kaum muda terletak kemajuan vihara dan agama Buddha secara umum di masa mendatang. Itulah sebabnya, penulis merasa perlu mengadakan suatu divisi khusus bagi kaum muda-mudi demi mewadahi dan menyalurkan aspirasi mereka. Mungkin ada yang berpikir bahwa kegiatan divisi muda-mudi ini ada tumpang tindihnya dengan divisi kerohanian (berupa kelas Dharma bagi kaum muda-mudi). Memang pemikiran ini ada benarnya, karena suatu divisi itu tidaklah berdiri sendiri-sendiri, sehingga perlu ada koordinasi antara berbagai divisi yang ada, termasuk divisi kerohanian dan muda-mudi. Divisi muda-mudi mungkin lebih banyak menangani kegiatan selain kerohanian, seperti kursus bahasa Inggris, Mandarin, bela diri, dan lain sebagainya yang dilakukan dalam lingkungan vihara. Tentu saja, hal ini tidak berarti bahwa orang yang merasa dirinya tidak muda lagi tak boleh berpartisipasi dalam kegiatan semacam itu.

DIVISI KEAMANAN

Bertugas menangani masalah keamanan dan ketertiban di vihara. Mengingatkan para pengunjung agar berpakaian sopan juga menjadi tanggung jawab divisi keamanan. Tentu saja dalam menjalankan tugasnya divisi keamanan harus tetap bersikap ramah dan sopan namun tegas. Salah satu tugas lain divisi keamanan misalnya mengingatkan pengunjung vihara yang lalai melepas alas kakinya saat memasuki vihara.

d.Penyambutan tamu

Salah satu pertanyaan penting sehubungan dengan manajemen vihara adalah apakah diperlukan penyambut tamu saat diadakannya puja bakti di vihara. Tentu saja jawaban bagi pertanyaan ini beragam. Memang dalam naskah-naskah suci Buddhis tidak disebutkan mengenai perlunya penyambutan bagi tamu (setidaknya sejauh yang saya ketahui). Meskipun demikian, bila direnungkan menjadi penyambut tamu setidaknya dapat menjadi latihan bagi kita mengembangkan keramahan. Sesungguhnya memberikan senyuman saja, dapat dianggap sebagai pemberian dana. Jadi adanya penyambut tamu tidak ada ruginya serta dapat membawa efek positif.
Lalu dari sudut pandang sistim manajemen vihara, di bawah koordinasi siapakah penyambut tamu itu? Penyambut tamu dapat berada di bawah divisi acara. Ada baiknya, sebelum bertugas sebagai penyambut tamu seseorang diberikan training dan panduan terlebih dahulu.

e.Pendapatan dan pengeluaran vihara


Bendahara bertugas melakukan pembukuan terhadap pemasukan dan pengeluaran vihara. Sebelumnya perlu didata terlebih dahulu apa yang menjadi sumber pemasukan dan pengeluaran vihara.

SUMBER PEMASUKAN VIHARA

Kotak dana sumbangan
Sumbangan umat
Penjualan barang-barang di bursa (patung, barang sembahyang, dan lain sebagainya)
Khusus kotak dana sumbangan perlu dihitung secara berkala, umpamanya seminggu sekali. Lalu seluruh hasilnya dibukukan secara teliti dan cermat.

SUMBER PENGELUARAN VIHARA

Listrik
Kebersihan dan perawatan
Gaji karyawan (bila ada)
Internet (bila ada)
Makan dan minum (bila ada-terutama saat perayaan-perayaan tertentu)
Pembangunan, perbaikan, atau perombakan gedung skala besar
Pemasukan dan pengeluaran vihara ini ada baiknya secara berkala juga diaudit.
f.Pertemuan (meeting) pengurus vihara
Para pelaku manajemen vihara perlu mengadakan pertemuan secara teratur guna membahas perkembangan dan pengaturan vihara. Demi menjaga profesionalisme, undangan mengadakan pertemuan hendaknya secara tertulis dan jelas. Undangan yang hanya lisan semata, perlu dihindari. Agar dipastikan pula agar seluruh pengurus vihara menerima undangan tersebut. Undangan boleh juga ditempel di papan pengumuman.
Undangan yang baik hendaknya mencamtumkan hal-hal sebagai berikut: tanggal, jam, dan tempat pertemuan, serta tujuan pertemuan. Bahasa yang dipergunakan jelas dan sopan. Hindari undangan rapat yang terlalu bertele-tele.
Saat membicarakan suatu topik dalam rapat para peserta seyogianya tetap berpegang pada prinsip-prinsip Dharma. Apabila menerima undangan rapat, para pengurus vihara selayaknya meluangkan waktu demi menghadirinya.

Penutup

Demikianlah sekelumit dasar-dasar manajemen vihara. Tentu saja, praktik manajemen vihara di lapangan jauh lebih sulit. Artikel ini hanya mengulas dasar-dasarnya saja. Tulisan ini boleh disebar-luaskan tanpa mengurangi atau menambahi isinya. Apabila hendak dikutip silakan disebutkan sumbernya. Segenap kritik dan saran dapat menghubungi penulis di ivan_taniputera [at] yahoo.com atau 0816658902. Semoga tulisan ini dapat menambah kepustakaan mengenai agama Buddha di negeri kita.

Rabu, 22 Februari 2012

Etika Bisnis Buddhis

Etika Bisnis Buddhis

Ivan Taniputera
22 Februari 2012




Baru-baru ini saya membaca di surat kabar mengenai orang yang mendaur-ulang makanan kadaluarsa dan menjualnya kembali. Tindakan ini sungguh merugikan dan membahayakan kesehatan konsumen. Dewasa ini, banyak orang mengabaikan etika bisnis demi kepentingannya sendiri. Lalu bagaimanakah etika bisnis menurut Buddhadharma? Sesungguhnya banyak terdapat ajaran dalam Sutra yang dapat dikaitkan dengan prinsip bisnis bermoral selaras Buddhadharma. Salah satu di antaranya adalah kutipan sebagai berikut yang berasal dari Sutra Saddharmapundarika:

"Aku adalah ayah dari segenap makhluk dan haruslah Ku-renggut mereka dari derita serta memberikan mereka berhak daripada Keibijaksanaan Buddha... " (bab III)

Berdasarkan kutipan di atas jelas sekali bahwa Hyang Buddha menyatakan dirinya sebagai ayah bagi segenap makhluk. Oleh karena itu, kita perlu meneladani Hyang Buddha dengan tidak mencelakakan makhluk lain. Apabila kita menjual atau memperdagangkan sesuatu yang mengandung substansi berbahaya, itu berarti kita tidaklah menjadi "ayah" bagi segenap makhluk. Tidak mungkin seorang ayah yang baik memberikan sesuatu yang buruk bagi anak-anaknya. Dengan demikian, kita akan memberikan yang terbaik bagi orang lain. Kita tidak akan mungkin memberikan pewarna makanan sebagai makanan bagi anak-anak kita. Tidak mungkin kita memberikan makanan kadaluarsa bagi anak-anak kita.

Apakah kita akan kalah dalam persaingan jika menerapkan etika bisnis Buddhis? Jawabannya tentu tidak. Karena meskipun kita mendapatkan lebih sedikit keuntungan karena tidak berupaya menghalalkan segala cara, namun orang akan mempercayai kita. Jikalau orang yakin bahwa barang yang kita jual pasti baik kualitasnya, mereka akan tetap mencari kita karena merasakan adanya rasa aman. Sebagai contoh, bila orang yakin bahwa makanan yang kita jual bebas pewarna tekstil, tentu ini merupakan nilai jual tersendiri.

Selanjutnya, bisnis kita hendaknya tidaklah melibatkan hal-hal yang berpotensi menambah keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Ini adalah salah satu prinsip mendasar dalam Buddhisme. Hyang Buddha tentu tidak menginginkan anak-anaknya bertumbuh dalam keserakahan, kebencian, dan kebodohan.

Demikianlah sekelumit prinsip etis Buddhis dalam berbisnis. Semoga bermanfaat.

Selasa, 07 Februari 2012

Butir-butir Dharma Avatamsaka Sutra

Butir-butir Dharma Avatamsaka Sutra.

Diterjemahkan oleh Ivan Taniputera

sumber: "The Flower Ornament Scripture: A Translation of the Avatamsaka Sutra" by Thomas Clearly.

Bab 1 Perhiasan Ajaib para Penguasa Dunia

1.Kebijaksanaan dan belas kasih Buddha

The Buddha's wisdom if boundless-
It has no equal in the world, it has no attachment;
Compassionately responding to beings, it manifests everywhere:
Great Fame has realized this path.

(Avatamsaka Sutra book one)

Kebijaksanan Buddha jika tak terbatas-
Tiada bandingannya di dunia ini, ia terbebas dari kemelekatan;
Dengan dilandasi belas kasih memancar pada para makhluk, ia mewujud di
mana-mana:
Kemashyuran Agung merealisasi sang jalan ini.

(Sutra Avatamsaka bab 1)

2.Hakekat Kebuddhaan

The Buddha's body is exceedingly vast-
No borders can be found in the ten directions.
His expedient means are unlimited:
Subtle Light's knowledge has access to this.

(Avatamsaka Sutra book one)

Tubah Buddha yang maha luas
Tiada batasannya di sepuluh penjuru [semesta].
Metode jitu (upaya kausalya)nya tak terbatas:
Pengetahuan Cahaya Mendalam telah [sanggup] menyelaminya

(Sutra Avatamsaka bab 1)

Buddhas like space, without discrimination,
Equal to the real cosmos, with no resting place,
Phantom manifestations circulate everywhere,
All sitting on enlightenment sites attaining true awareness.

(Avatamsaka Sutra book one)

Para Buddha bagaikan angkasa [maha luas], tanpa perbedaan sedikitpun
Sama dengan alam semesta yang sejati, tanpa suatu tempat kediamanpun,
Perwujudan khayalnya memanifestasi di mana-mana,
Semuanya duduk di tempat pencapaian pencerahannya [masing-masing]
merealisasi kebenaran sejati.

(Sutra Avatamsaka bab 1)

3.Buddha membebaskan para makhluk dari penderitaan

The pains of birth, aging, sickness, death, and grief
Oppress beings without relief.
The Great Teacher takes pity and vows to remove them all:
Inexhaustible Wisdom Light can comprehend

(Avatamsaka Sutra book one)

Kesengsaraan karena kelahiran, usia tua, penyakit, dan penderitaan
Mendera para makhluk tanpa henti
Sang Guru Agung merasa kasihan melihat hal itu dan berikrar untuk
membebaskan semuanya
Cahaya Kebijaksanaan nan Tak Pernah Kering sanggup menyelami hal ini

(Sutra Avatamsaka bab 1)

Bab 2 Tampilnya Seorang Buddha



Bab 3

Bab 4

1. Kosmologi Buddhis

There are some oceans of worlds
Compounded of jewels,
Solid and unbreakable
Resting on precious lotus blossoms

Some are pure light beams
Of unknowable origin;
These arrays of all light beams
Rest in empty space

Some are made of pure light
And also rest on light rays
Embellished with clouds of light
Where enlightening beings roam.

(Avatamsaka Sutra book four)

Terdapat beberapa sistim dunia
Terbentuk dari permata
Kokoh dan tak terhancurkan
Bernaung di atas bunga teratai nan berharga

Beberapa di antaranya terbentuk dari berkas cahaya murni
Yang asalnya tak dikenal
Semuanya merupakan berkas-berkas cahaya
Bernaung di ruang kosong

Beberapa di antaranya terbentuk dari cahaya murni
Dan juga bernaung pada pancaran-pancaran cahaya
Diselubungi oleh awan cahaya
Tempat di mana para Bodhisattva berdiam.

(Sutra Avatamsaka bab 4)

Kutipan di atas memperlihatkan bahwa Buddhisme telah mengenal alam
semesta yang terdiri dari materi dan cahaya. Kalimat "kokoh dan tak
terpecahkan" merujuk pada partikel atom yang menyusun materi. Bait
kedua di atas nampaknya mengacu pada sinar kosmis yang merupakan sisa-
sisa pembentukan jagad raya. Sementara itu bait ketiga mengacu pada
pancaran cahaya yang berasal dari benda-benda langit. Sebagai
tambahan sinar kosmis ini mulai diteliti oleh para fisikawan dari
Institut Teknologi Kalifornia di Pasadena pada tahun 1932, dan
didapati bahwa di dalamnya terkandung partikel-partikel elementer
yang belum pernah dikenal sebelumnya. Partikel elementer merupakan
partikel tunggal yang tidak terbagi-bagi lagi, sehingga inilah
sebabnya, mengapa kutipan sutra di atas mempergunakan istilah "murni."

2.Penyebab-penyebab terciptanya alam semesta

Children of Buddha, if explained in brief, there are ten kinds of
causes and conditions by which all oceans of worlds have been formed,
are formed, and will be formed. What are the ten? They are:

1)Because of the Buddhas' mystical powers.
2)Because they must be so by natural law
3)Because of the acts of all sentient beings
4)Because of what is realized by all enlightening beings developing
omniscience
5)Because of the roots of goodness accumulated by both enlightening
beings and all sentient beings
6)Because of the power of the vows of enlightening beings purifying
lands
7)Because entlightening beings have accomplished practical
undertakings without regressing
8)Because of the enlightening beings' freedom of pure resolve
9)Because of the independent power flowing from the roots of goodness
of all enlightened ones and the moment of enlightenment of all Buddhas
10)Because of the independent power of the vows of the Universally
Good

(Avatamsaka Sutra book four)

Children of Buddha, if explained in brief, there are ten kinds of
causes and conditions by which all oceans of worlds have been formed,
are formed, and will be formed. What are the ten? They are:

Putera-putera Buddha, jika dijelaskan secara singkat, terdapat
sepuluh penyebab dan kondisi yang menyebabkan terbentuknya sistim
dunia, baik yang telah berlangsung, sedang berlangsung, atau akan
berlangsung. Apakah sepuluh hal itu? Kesepuluh hal itu adalah:

1) Karena kekuatan gaib para Buddha
2) Terbentuk secara alami oleh hukum alam
3) Karena akumulasi karma para makhluk
4) Karena apa yang telah direalisasi oleh para Bodhisattva yang
mengembangkan kemaha-tahuan.
5) Karena akar kebajikan yang diakumulasi baik oleh para Bodhisattva
dan semua makhluk.
6) Karena kekuatan ikrar para Bodhisattva yang memurnikan dunia-dunia
itu.
7) Karena para Bodhisattva telah menyempurnakan praktek kebajikan
dengan pantang mundur.
8) Karena kekuatan kebebasan para Bodhisattva dalam kebajikan murni.
9) Karena kekuatan independen yang mengalir dari akar kebajikan semua
Buddha dan saat pencerahan semua Buddha.
10) Karena kekuatan independen ikrar Bodhisattva Kebajikan Universal

(Avatamsaka Sutra bab 4)

Berbeda dengan ilmu pengetahuan modern yang hanya memperhitungkan
aspek-aspek hukum alam saja dalam menjelaskan tentang asal muasal
alam semesta, maka Buddhisme menekankan pula pentingnya aspek-aspek
di luar hukum alam dalam pembentukan dan perkembangan alam semesta.
Seperti aspek karma para makhluk yang juga ikut menentukan.

3.Karma dan pikiran yang menciptakan alam sekitar kita

All lands are born
According to the power of actions;
You all should observe
The forms of change as they are

Defiled sentient beings are bound
By habitual confusions, to be feared:
Their mind cause oceans of worlds
To all become defiled

If any have pure hearts
And cultivate virtuous deeds,
Their mind will cause oceans of worlds
To have purity mixed with defilement

If entlightening beings of faith and understanding
Are born in the age,
According to what's in their minds
Purity mixed with defilement will show

(Avatamsaka Sutra book 4 page 198 - 199)

Seluruh negeri tercipta
Sesuai dengan kekuatan tindakan (karma)
Kalian semua hendaknya mengamati
Segala perwujudan berubah sebagaimana adanya

Para makhluk yang masih terbelenggu kekotoran batin
Oleh pandangan salah yang telah menjadi kebiasaan, merasa takut
Pikiran mereka menciptakan lautan dunia
Dimana semuanya menjadi tercemari

Jika ada beberapa di antara mereka yang memiliki pikiran murni
Serta mengembangkan tindakan-tindakan bajik
Pikiran mereka akan menciptakan lautan dunia
Yang bercampur antara kemurnian dan kecemaran

Jika ada makhluk yang bertujuan untuk mencapai pencerahan memiliki
keyakinan dan pemahaman
Terlahir pada saat itu
Seturut dengan apa yang ada dalam pikiran mereka
Kemurnian bercampur dengan kecemaran akan memperlihatkan dirinya

(Sutra Avatamsaka bab 4)

Berdasarkan kutipan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa:

a.Alam sekitar kita merupakan resultan berbagai tindakan serta
pikiran yang berasal dari para makhluk yang menghuninya. Jika para
penghuni dunia ini melakukan tindakan dan pikiran yang tidak baik,
maka dunia ini juga akan rusak.
b.Pola pikir dan tindakan kita juga membentuk dunia sekitar kita.
Jika kita berpikir bahwa sesuatu itu baik, maka hal itu akan nampak
baik. Sebagai contoh, bila kita telah beranggapan bahwa seseorang itu
baik, maka segala tindakannya akan nampak baik, sebaliknya jika kita
berpikir bahwa orang itu tidak baik, maka sebaik apapun tindakannya
akan nampak negatif bagi kita.

Ini merupakan filosofi Buddhisme yang sangat mendalam. Oleh karena
itu bagi seorang Buddha segalanya akan menjadi murni, karena ia telah
menghapuskan segenap kekotoran batin. Hal ini dinyatakan dengan
sangat jelas pada sutra yang sama:

If a Buddha appear in the world
Everything is marvelous
In accord with the purity of mind
All adornments are complete

(Avatamsaka sutra book four, page 199)

Jika seorang Buddha hadir di dunia ini
Segala sesuatu akan menjadi luar biasa
Sesuai dengan kemurnian pikiran
Semua perhiasan nan indah akan menjadi sempurna

(Sutra Avatamsaka bab 4)

Bab 5 Dunia Tepian Bunga

1.Kekuatan spiritual seorang Buddha

The great ocean of world has no bounds
Its circumference of jewels is pure and multicolored
All the adornments it has are of rare beauty
This comes from the spiritual power of the Buddha

(Avatamsaka Sutra book five, page 204)

Lautan dunia maha luas tidak memiliki batasan
Sekelilingnya yang terdiri dari permata bersifat murni serta memiliki
beragam warna
Seluruh perhiasan itu memiliki keindahan yang langka
Ini [semua] terlahir dari kekuatan spiritual Buddha

(Sutra Avatamsaka bab 5)

2.Buddha mengajarkan jalan menuju pembebasan

Crystal nets, bells of gold
Covers the rivers, broacasting Buddha's voice
Preaching all ways to enlightenment
All the sublime practice of universal good

(Avatamsaka sutra book five, page 209-210)

Jaring-jaring terbuat dari kristal, lonceng terbuat dari emas
Menyelubungi sungai-sungai, menyiarkan suara Buddha
Membabarkan semua jalan menuju pencerahan
Seluruh praktek kebajikan universal

(Sutra Avatamsaka bab 5)

Buddha mengajarkan jalan menuju pembebasan sehingga membebaskan kita
dari belenggu jeratan karma, yang oleh sebagian orang disebut sebagai
takdir.

3.Baik atau buruk diri kita sendiri yang menentukan

In each atom of this ground
All Buddha-children cultivate the Way
All see the lands predicted for their futures
All of them pure according fo their wishes

(Avatamsaka sutra book five, page 211)

Dalam setiap atom di tanah ini
Seluruh putera Buddha mempraktekkan Sang Jalan
Seluruhnya melihat negeri-negeri itu memprediksikan masa depan mereka
Seluruhnya menjadi murni seturut harapan mereka

(Sutra Avatamsaka bab 5)

4.Tubuh Buddha hadir di mana-mana

The Buddha's body pervades all lands
Which are also filled by countless enlightening beings
The Buddha's freedom has no equal
Edifying all conscious creatures

(Avatamsaka sutra book five, page 215)

Tubuh Buddha menembus seluruh jagad
Yang juga dipenuhi oleh tak terhitung para makhluk yang bertujuan
untuk mencapai pencerahan
Kebebasan Buddha tiada bandingannya
Memperlihatkan perhatian pada seluruh makhluk yang berkesadaran

(Sutra Avatamsaka bab 5)

5.Pandangan tentang jagad raya

The Flower Bank ocean of worlds
Is equal to the universe
Its adornment are extremely pure
Resting peacefully in space

(Avatamsaka sutra book five, page 242)

Sistem Dunia Tepian Bunga
Adalah sama dengan jagad raya
Perhiasannya sungguh murni
Berada dengan damai di ruang angkasa

(Sutra Avatamsaka bab 5)

Ini adalah konsep luar biasa dalam Buddhisme, yang telah menyatakan
bahwa bintang-bintang dan planet-planet berada di ruang angkasa tanpa
ditumpu apapun, padahal beberapa pandangan yang sezaman dengannya
menyatakan bahwa bumi ini ditopang oleh seorang raksasa bernama Atlas
atau makhluk-makhluk raksasa lainnya.

6.Jagad raya yang senantiasa mengalami kelahiran dan kemusnahan

In each of the systems of worlds
The worlds are inconceibably many
Some forming, some decaying
Some have already crumbled away

(Avatamsaka sutra book five, page 243)

Dalam setiap sistem dunia itu
Planet-planet luar biasa banyaknya sehingga tak terbayangkan
Beberapa diantaranya sedang tercipta, beberapa di antaranya sedang
menuju kemusnahannya
Beberapa di antaranya bahkan telah musnah

(Avatamsaka sutra bab 5)

Kutipan di atas dengan jelas menyatakan bahwa segala sesuatu di jagad
raya ini senantiasa mengalami siklus kelahiran dan kemusnahannya.
Jika ada bintang-bintang yang mengalami kemusnahan, maka di tempat
lainnya terdapat pula bintang-bintang atau benda langit lainnya yang
tercipta. Nebula merupakan contoh bintang yang meledak.

7.Hukum pewarisan genetika

Just as when seeds are different
So are the fruit they produce
Because of differences in the force of acts
Living beings' land are not the same

(Avatamsaka sutra book five, page 243)

Sebagaimana halnya benih yang berbeda
Akan menghasilkan buah yang berbeda pula
Karena berbedanya kekuatan tindakan (karma)
Tanah tempat berdiamnya para makhluk juga tidaklah sama

(Sutra Avatamsaka bab 5)

8.Fenomena yang tak berawal tetapi saling bergantungan satu sama
lainnya

The phenomena of the worlds
Are thus variously seen
Yet they are really have no orignation
And also no disintegration

(Avatamsaka sutra book five, page 245)

Fenomena yang ada di dunia-dunia tersebut
Jika diperhatikan nampak beraneka ragam
Tepi mereka sesungguhnya tidak memiliki awal mula
Dan tidak pula terpisah satu sama lainnya

(Sutra Avatamsaka bab 5)

Bab 6 Vairocana

1.Keagungan Buddha Vairocana yang bagaikan matahari

The Buddha sits on the site of enlightenment
Pure and clear in his great radiant light
Like a thousand suns emerging
Illumining all over space

(Avatamsaka sutra book six page 257)

Buddha duduk di tempat pencapaian pencerahannya
Murni dan jernih dalam cahaya keagungannya
Bagaikan pancaran cahaya dari seribu matahari
Menerangi seluruh penjuru jagad raya

(Sutra Avatamsaka bab 6)

2.Bergegas mendengarkan ajaran Buddha bersama-sama dengan semua
makhluk

You should quickly assemble
All the various kings
Their princes and great ministers
Their governors, and the rest

Announce in all the cities
They should beat the great drum
Gathering all the people
To go and see the Buddha

At every single crossroad
Jewels bells should be rung
Let wives, children, households,
Together go to see the Buddha

All the city castles
Should be ordered cleaned
Raise beautiful bannes everywhere
Decorated with jewels

......

Bring them all to the Buddha
With hearts full of joy
Wives, children, retinue, all
Go to see the World Honored One

(Avatamsaka sutra book six, page 258 - 259)

Kalian hendaknya segera mengumpulkan
Seluruh raja-raja yang ada
[Beserta] para pangeran serta menteri-menteri agung
Para gubernur, dan lain sebagainya

Maklumkanlah di semua kota
Mereka hendaknya menabuh genderang besar
Mengumpulkan semua orang
Untuk pergi dan melihat Buddha

Pada setiap persimpangan jalan
Genta-genta permata hendaknya dibunyikan
Biarlah para istri, anak, dan anggota rumah tangga
Pergi bersama-sama menjumpai Buddha

Seluruh kota perbentengan
Hendaknya diperintahkan untuk dibersihkan
Kibarkan panji-panji nan indah di mana-mana
Dihiasi dengan permata

Bawalah mereka semua pada Buddha
Dengan hati yang dipenuhi suka cita
Istri, anak, para pengikut, semuanya
Pergi menjumpai Yang Dijunjungi Dunia

(Sutra Avatamsaka bab 6)

Setelah meyakini kebenaran Ajaran Buddha melalui ehipassiko, maka
kita hendaknya bergegas mendengarkan dan mempelajari Ajaran Buddha;
bahkan kita hendaknya juga memaklumkan Kebenaran ini pada orang
lainnya, agar mereka juga memperoleh manfaat dalam kehidupannya. Kita
hendaknya tidak bersikap egois dengan menyimpan Kebenaran ini bagi
diri sendiri.

3.Memberikan dukungan pada semua Buddha

Offering support to every Buddha
Until the end of time
Never getting tired of it
One will attain the highest path

All Buddhas of all times
Will together fulfill your hopes
You will attend in person
The congregation of all Buddhas

(Avatamsaka sutra book six, page 263)

Mempersembahkan dukungan bagi setiap Buddha
Hingga ke akhir segala masa
Tidak kenal lelah menjalankannya
Ia akan mencapai tataran tertinggi

Semua Buddha dari seluruh kurun waktu
Akan bersama-sama memenuhi harapanmu
Akan akan memasuki secara pribadi
Persamuan semua Buddha

(Sutra Avatamsaka bab 6)

Memberikan dukungan bagi semua Buddha dapat ditafsirkan sebagai
berjuang keras untuk melatih diri sendiri dan memajukan Buddhadharma
demi kepentingan semua makhluk

4.Bergembira karena memiliki kesempatan berjumpa Ajaran Buddha

You should all be joyful
Dance, delight, and pay respect
I will go with you there
If one sees the Buddha, all miseries will cease

(Avatamsaka sutra book six, page 265)

Engkah hendaknya merasa bergembira
Menari, bersuka cipta, serta menghaturkan penghormatan
Aku akan pergi bersamamu ke sana
Jika seseorang berjumpa Buddha, semua penderitaan akan sirna

(Sutra Avatamsaka bab 6)

Ajaran Buddha sungguh sangat sulit diperoleh, oleh karena itu jika
memiliki kesempatan untuk berjumpa dengannya, seseorang hendaknya
bersuka cita.

Bab 7 Nama-nama para Buddha

1.Kesatuan masa lampau, sekarang, dan yang akan datang bagi seorang
Buddha

.... he [Buddha] dwelt in the abode of buddhahood, attained the
equanimity of the enlightened, reached the state of immutability, in
the realm where there are no barriers; unhindered in action, he
established the inconceivable, perceiving all in the past, present,
and future

(Avatamsaka sutra book seven, page 270)

.... ia (maksudnya Buddha) berdiam dalam ruang lingkup Kebuddhaan,
mencapai sikap non dualitas tercerahi yang tidak membeda-bedakan,
mencapai tingkatan yang tak berubah lagi, dalam ruang lingkup yang
tanpa penghalang lagi; tak terintangi dalam segenap tindakan, ia
mencapati tingkatan tak terbayangkan, mencerap segala sesuatu baik
yang berasal dari masa lampau, sekarang, maupun yang akan datang.

(Sutra Avatamsaka bab 7)

2.Nama-nama para Buddha

In the South
Bagian selanjutnya diisi dengan nama-nama para Buddha dengan Tanah
Murninya masing-masing. Karena tulisan ini hanya dimaksudkan sebagai
ringkasan saja, maka kita tidak akan memaparkannya pada kesempatan
kali ini.

Bab 8

Bab 9

1.Tiadanya kebijaksanaan menyebabkan tanha

Sentient beings lack wisdom
Wounded and poisoned by the thorns of craving;
For their sake we seek enlightenment:
Such is the law of all Buddhas

Seeing all things,
Giving up extremes,
Once enlightened, never regressing,
They turn the incoparable wheel of truth

(Avatamsaka sutra book nine, page 284)

Para makhluk yang tidak memiliki kebijaksanaan
Dilukai dan diracuni oleh duri-duri kemelekatan
Demi kebaikan mereka kita berusaha merealisasi Pencerahan
Demikianlah hukum semua Buddha

Melihat segala sesuatu sebagaimana adanya
Menghilangkan seluruh pandangan ekstrem
Sekali tercerahi, tidak akan pernah mengalami kemerosotan lagi
Mereka akan memutar roda kebenaran tak tertandingi

(Sutra Avatamsaka bab 9)

2. Buddha mengajarkan ajarannya secara bertahap

Tidak semua makhluk memiliki wawasan yang sama, oleh karena itu
pendiri Buddhisme mengajarkan kebenaran itu secara bertahap.

The Buddha comprehends, without peer,
The exceedingly profound truth;
Sentient beings cannot understand,
So he reveals it step-by-step

(Avatamsaka Sutra book nine, page 287)

Buddha memasuki perenungan, tanpa berkedip
Kebenaran yang luar biasa dalam
Para makhluk tidak dapat memahaminya
Karena itu ia mengungkapkannya tahap demi tahap

(Sutra Avatamsaka bab 9)

3.Mengembangkan cinta kasih agung

Developing great compassion
To save and protect all sentient beings,
Forever leaving human and celestials realms:
This is what work should be done

(Avatamsaka sutra book nine, page 289)

Mengembangkan belas kasih agung
Untuk menyelamatkan dan melindungi semua makhluk
Selamanya terbebas dari alam manusia dan dewa:
Inilah karya yang harus dilakukan

(Sutra Avatamsaka bab 9)

4.Mengembangkan keyakinan pada Buddha

Always with faith in the Buddha,
The mind never regressing,
Associating with the enlightened ones:
This is what work should be done.

(Avatamsaka Sutra book nine, page 289)

Selalu memiliki keyakinan terhadap Buddha
Dengan pikiran tanpa kemerosotan lagi,
Senantiasa berhubungan dengan Yang Tercerahi:
Inilah karya yang harus dilakukan.

(Sutra Avatamsaka bab 9)

Bab 10

1. Keagungan dan Kebenaran Buddha

Just as the king of the gods
Appears throughout the universe
Yet his body has no change
So is the truth of all Buddhas

(Avatamsaka Sutra book ten)

Sebagaimana halnya raja para dewa
Yang muncul di seluruh penjuru semesta
Tubuhnya tiada berubah sedikitpun
Demikianlah kebenaran semua Buddha

(Sutra Avatamsaka bab 10)

2. Buddha tidak membeda-bedakan

Also like the great thunderheads
Raining all over the earth
The raindrops make no distinctions:
So is the truth of all Buddhas

(Avatamsaka Sutra book ten)

Bagaikan awan hujan yang besar
Menjatuhkan hujan ke seluruh penjuru bumi
Curahan hujan yang tidak membeda-bedakan siapapun juga
Demikianlah kebenaran semua Buddha

(Sutra Avatamsaka bab 10)

3.Iman dan praktek

Like a deaf musician
Who pleases others, not hearing himself:
So is the one who is learned
Who does not appy the teaching.

Like a blind embroiderer
Who shows others but cannot see:
So are those who are learned
But do not practice the teaching.

(Avatamsaka Sutra book ten, page 307)

Laksana pemusik tuli
Yang hanya dapat menghibur orang lain, tetapi tak dapat mendengar
sendiri [keindahan] permainannya:
Demikianlah orang yang terpelajar
Namun tidak melaksanakan apa yang dipelajarinya.

Laksana penenun buta
Yang hanya dapat memperlihatkan hasil karyanya pada orang lain,
tetapi tidak dapat melihat sendiri [hasil karyanya]
Demikianlah orang yang terpelajar
Namun tidak melaksanakan apa yang dipelajarinya.

(Sutra Avatamsaka bab 10)

Bab 11

1.Hidup berkeluarga dan spiritualisme

While serving their parents,
They should wish that all beings
Serve the Buddha,
Protecting and nourishing everyone.

While with their spouses and children,
They should wish that all beings
Be impartial toward everyone
And forever give up attachment.

(Avatamsaka Sutra book eleven, page 313)

Ketika melayani orang tuanya
Hendaknya ia berharap agar semua makhluk
melayani para Buddha,
Melindungi dan memelihara keberlangsungan segalanya.

Ketika sedang bersama-sama pasangan hidup dan anak-anaknya,
Hendaknya ia berharap agar semua makhluk
Mengembangkan keseimbangan batin terhadap semuanya
Dan selamanya melepaskan kemelekatan.

2.Jembatan menuju pembebasan

If they see a bridge,
They should wish that all beings
Carry all across to freedom
Like a bridge.

(Avatamsaka Sutra book eleven, page 321)

Jika melihat sebuah jembatan,
Mereka hendaknya berharap agar semua makhluk
Semuanya menyeberang menuju pembebasan
Bagaikan jembatan.

(Sutra Avatamsaka bab 11)

Bab 12

Keyakinan yang benar

When faith is undefiled, the mind is pure;
Obliterating pride, it is the root of reverence,
And the foremost wealth in the treasury of religion,
Being a pure hand to receive the practices.

Faith is generous, the mind not begrudging;
Faith can joyfully enter the Buddha's teaching;
Faith can increase knowledge and virtue;
Faith can assure arrival at enlightenment.

Faith can makes the faculties pure, clear, and sharp;
The power of faith is strong and indestructible,
Faith can annihilate the root of affliction,
Faith can turn one wholly to the virtues of buddhahood.

Faith has no attachment to objects:
Transcending difficulties, it reaches freedom from trouble.
Faith can go beyond the pathways of demons,
And reveal the unsurpassed road of liberation.

Faith is the unspoiled seed of virtue,
Faith can grow the seed of enlightenment.
Faith can increase supreme knowledge,
Faith can reveal all Buddhas.

(Avatamsaka Sutra book twelve, page 331-332)

Jika keyakinan benar, maka pikiran akan menjadi murni;
Menghapuskan kesombongan, ini adalah akar pemujaan [terhadap
kebajikan],
Serta harta pusaka teragung dalam perbendaharaan spiritualisme,
Jadilah murni untuk menjalankan praktek-praktek ini.

Keyakinan itu bersifat tulus, dengan pikiran bebas dari iri hati;
Keyakinan memungkinkan seseorang memasuki ajaran Buddha dengan suka
cita;
Keyakinan dapat meningkatkan pengetahuan dan kebajikan;
Keyakinan dapat memastikan seseorang merealisasi Pencerahan.

Keyakinan dapat memurnikan kemampuan indrawi, menjadikannya jelas dan
terang;
Kekuatan keyakinan itu kuat dan tak terhancurkan.
Keyakinan dapat menghapus akar rintangan,
Keyakinan dapat membawa seseorang sepenuhnya pada kebajikan
Kebuddhaan.

Keyakinan tidak memiliki kemelekatan terhadap apapun:
Mengatasi segenap kesulitan, ia mencapai pembebasan dari permasalahan.
Keyakinan mengatasi segenap jalan para makhluk jahat,
Serta mengungkapkan jalan menuju pembebasan yang tak terlampaui.

Keyakinan adalah benih kebajikan yang tidak pernah sia-sia,
Keyakinan dapat menumbuhkan benih-benih Pencerahan.
Keyakinan dan meningkatkan pengetahuan terunggul,
Keyakinan dapat mengungkapkan semua Buddha.

(Sutra Avatamsaka bab 12)

Bab 13

Bab 14

Hukum Kekekalan Energi

Observing all things
To be without inherent existence,
Whatever their appearances of origin and disappearance,
Being just provisional descriptions,
All things are unborn,
All things are imperishable:
To one who can understand this
The Buddha will always manifest.

(Avatamsaka Sutra book fourteen, page 373)

Mengamati segala sesuatunya
Yang tak memiliki eksistensi inheren,
Apapun tampaknya asal usul dan kemusnahan semua itu,
Hanyalah semata-semata istilah sementara saja [demi mempermudah
penggambarannya],
Segala sesuatu [sesungguhnya] tidaklah diciptakan,
Segala sesuatu [juga] tidaklah dapat dimusnahkan:
Bagi seseorang yang dapat memahami hal ini
Buddha akan selalu mewujudkan dirinya.

(Sutra Avatamsaka bab 14).

Tiadanya realita inheren

Things have no true reality;
Because of wrongly grasping them as real
Do ordinary people therefore
Revolve in the prison of birth and death.

(Avatamsaka Sutra book fourteen, page 375)

Segala sesuatu tidak memiliki realita sejati;
Secara salah dipandang sebagai benar-benar nyata
Karenanya orang awam
Mengembara dalam penjaran kelahiran dan kematian.

(Sutra Avatamsaka bab 14)

Bab 15

1. Umat Buddha didorong untuk melimpahkan keselamatan bagi semua
makhluk:

These-Buddha-children in the fifth abode
Develope skillful means to liberate sentient beings;
The Saint of Great Knowledge, with all virtues,
Enlightens them with teachings like this

(Avatamsaka Sutra Book Fifteen)

Putera-puteri Buddha ini yang berada di tingkatan kelima
Mengembangkan metode jitu (upaya-kausalya) dalam membebaskan semua
makhluk
Para Suciwan dengan Pengetahuan Agung, disertai segenap kebajikannya
Mencerahkan mereka semua dengan ajaran-ajaran semacam ini

(Sutra Avatamsaka bab 15).

Rabu, 25 Januari 2012

Membebaskan Buddhisme dari Sektarianisme

Membebaskan Buddhisme dari Sektarianisme

Ivan Taniputera

Kita tidak dapat memungkiri bahwa sebagaimana halnya dengan agama-agama dan keyakinan lainnya, Buddhisme terpecah menjadi beberapa sekte atau aliran. Timbulnya beberapa sekte atau aliran ini memang perlu disikapi secara positif dan negatif sekaligus. Berdasarkan sudut pandang positif, kita tidak dapat memungkiri bahwa timbulnya berbagai aliran merupakan reaksi terhadap berbagai "selera" manusia yang berbeda-beda dalam dunia spiritual. Dengan demikian, adanya satu aliran saja tidak akan dapat mengakomodasi pandangan semua orang. Hal ini dapat kita analogikan dengan sebuah rumah makan yang menyediakan berbagai menu. Adanya berbagai pilihan menu ini tentu saja sangat menggembirakan para pengunjung restoran karena mereka beroleh kesempatan untuk menyantap hidangan sesuai dengan seleranya masing-masing. Bila kita hanya menyediakan satu menu saja, maka orang yang menggemari makanan lainnya tentu tidak akan berkunjung ke rumah makan kita. Buddhisme adalah ajaran yang sangat kaya dengan "84.000 ajarannya." Tentu saja kita tidak akan sanggup mempelajari semuanya, sehingga akhirnya para guru sesepuh di zaman dahulu menyeleksi metode-metode yang sesuai dengan pemahamannya, melatihnya, dan kemudian mengajarkannya pada para murid mereka. Dengan demikian, timbullah beberapa sekte. Di dalam Mahayana sendiri kita kenal aliran-aliran Vinaya (Lu, memusatkan perhatian pada Vinaya), Sukhavati (Jingdu, memusatkan perhatian pada Sutra-sutra Sukhavati), Dhyana (memusatkan diri pada pelatihan meditasi Chan), Tantra (Mizong, memusatkan perhatian pada Sutra Mahavairocana dan Susiddhikara), Panggung Surgawi (Tiantai, memusatkan perhatian pada Sutra Saddharmapundarika), Trisastra (Sanlun, memusatkan perhatian pada tiga karya Nagarjuna), dan lain sebagainya. Tidak ada yang lebih unggul atau baik di antara semua sekte-sekte, kendati seorang praktisi boleh saja meyakini bahwa metode yang dilatihnya adalah yang paling bermanfaat (bagi dirinya). Masing-masing aliran itu telah menghasilkan banyak suciwan yang merealisasi pembebasan bagi dirinya dan mendatangkan manfaat bagi banyak makhluk.

Sisi positif kedua, banyaknya sekte mencerminkan kekayaan tradisi Buddhis yang tidak ada habis-habisnya untuk dipelajari. Kita patut mengakui bahwa pengaruh budaya suatu bangsa yang baru menerima Buddhisme turut mempengaruhi perkembangan sekte di negeri tersebut. Hubungan ini berlangsung secara timbal balik sehingga saling memperkaya. Buddhisme menjadi dapat lebih dipahami oleh masyarakat negeri tersebut, tentu saja dengan tidak meninggalkan semangat Buddhisme yang asli.

Kini kita akan membahas sisi negatif yang menyedihkan. Tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa sekte telah timbul dan mengatas-namakan Buddhisme tetapi mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran dasar Guru kita, Buddha Gautama. Marilah kita ambil contoh suatu sekte X yang telah berkembang di negeri kita dan memperoleh jumlah pengikut signifikan. Di atas altar sekte itu terpampang tulisan berbunyi "Tuhan yang Maha Esa." Tentu saja hal ini agak menggelikan karena Buddhisme sendiri tidak pernah mengajarkan adanya Tuhan. Saya tidak mengetahui bagaimana konsep ketuhanan mereka, tetapi jelas sekali sebutan itu sangat rancu. Saya lebih setuju jika mereka menggunakan istilah "Nibanna yang Maha Esa," tetapi tidak menganjurkannya karena istilah "maha esa" sendiri merupakan suatu "nama" atau "definisi," padahal nibanna tidak dapat diuraikan dengan kata-kata. Jadi yang terbaik ya barangkali tidak perlu menuliskan apa-apa. Kedua, sekte tersebut mengajarkan bahwa era Buddha Sakyamuni telah berakhir dan digantikan oleh Buddha selanjutnya. Ajaran ini bertentangan dengan literatur-literatur Buddhis yang ada. Buddhisme dengan jelas mengajarkan bahwa Buddha berikutnya (Phra Arya Metteya atau Maitreya) akan turun setelah adanya suatu megapolis bernama Ketumat dan usia manusia akan menjadi sangat panjang. Meskipun demikian, kita tidak dapat memungkiri bahwa ajaran tersebut juga mengajarkan ajaran yang bagus. Tetapi satu hal yang sangat bertentangan dengan praktek Buddhis adalah ajaran bahwa seseorang dapat masuk surga dengan menerima tiga pusaka versi mereka. Buddhisme mengajarkan bahwa seseorang dapat masuk surga dengan menjalankan Pancasila Buddhis dan bukannya dengan menerima pusaka dalam bentuk apapun. Tentu saja sebagai umat Buddhis kita harus mengembangkan toleransi yang baik. Kita tidak perlu merusak atau menghancurkan tempat ibadah mereka, jika berpendapat itu adalah sekte menyimpang yang mengatas-namakan Buddhis. Yang dapat kita lakukan adalah membina umat Buddhis sendiri agar mengenal Dharma yang benar dan bila ada kesempatan memperkenalkan pada umat sekte tersebut apa yang sesungguhnya diajarkan oleh Buddha Gautama. Jadi kita tidak perlu menempuh jalan konfrontatif, semua dapat dilakukan melalui dialog, sebagaimana yang saya lakukan dengan umat aliran tersebut. Perkembangan menggembirakan, berdasarkan pengamatan saya, kini aliran tersebut sudah banyak mengajarkan Dharma Sang Buddha yang benar.

Sisi negatif kedua yang cukup menyedihkan adalah gontok-gontokkan antara Mahayana dan Theravada. Masing-masing saling menjelekkan satu sama lain. Ini tentu saja melemahkan perkembangan Buddhisme di Indonesia. Umat yang baru mengenal Buddhisme akan bingung. Penganut Theravada mengatakan bahwa alirannya merupakan yang terbaik dan menganggap sesat Mahayana. Sebaliknya, umat Mahayana mengatakan bahwa Theravadisme tidak cukup memiliki cinta kasih dan merupakan Dharma kelas bawah. Pandangan semacam ini tidak sehat bagi perkembangan Buddhisme di Indonesia. Untunglah, saat saya baru pertama kali mengenal Buddhisme di Jerman, hal semacam itu tidak saya alami. Saya mendapati bahwa umat Theravada dan Mahayana di sana sangat akur. Kegiatan-kegiatan di vihara Theravada (Frohnau) diumumkan pula di vihara Mahayana (Foguangshan, Innungstrasse) dan begitu pula sebaliknya. Terkotak-kotaknya umat Buddha melemahkan perkembangan Buddhisme itu sendiri.

Memang kita patut mengakui bahwa Theravada tidaklah 100 % sama dengan Mahayana. Jika kita melihat peta penyebaran Buddhisme, maka jelas sekali bahwa wilayah yang didiami umat Buddha terbentang pada jarang 1/3 keliling bumi (sekitar 15.000 km). Mulai dari Srilanka hingga Jepang. Secara logis, izinkanlah saya bertanya, "Mungkinkan menjaga homogenitas di tempat seluas itu?" Marilah kita ambil Tiongkok sebagai contoh. Kawan saya mengatakan bahwa jarak yang berbeda sekitar 100 km saja sudah terdapat bahasa daerah berbeda yang tidak dapat dipahami satu sama lain. Nah, bandingkan dengan jarak sekitar 15.000 km tersebut. Jadi sebagaimana yang sudah diuraikan di atas, budaya juga ikut membentuk sekte yang ada. Suatu agama agar dapat diterima masyakarat harus dapat menyesuaikan diri dengan budaya setempat. Mari kita cermati kembali apa dilakukan oleh Kukai (Kobo Daishi) sewaktu hendak menyebarkan Buddhisme di Jepang. Apakah Beliau langsung mendirikan panggung dan membabarkan Dharma? Jawabnya tidak. Yang pertama Beliau lakukan adalah pergi mengunjungi sebuah kuil Shinto dan memohon izin kepada dewa yang dipuja di sana untuk menyebarkan Buddhisme. Dewa itu akhirnya menjawab bahwa seluruh dewa-dewi Shinto sesungguhnya adalah emanasi para Buddha dan Bodhisattva. Akhirnya Buddhisme mendapat simpati rakyat Jepang dan berkembang pesat semenjak saat itu. Mari kita bandingkan suatu agama yang tidak dapat diterima di Tiongkok karena mengajarkan penghancuran patung-patung. Meskipun sudah memasuki Tiongkok semenjak abad ke-17, tetapi ia tidak mengalami perkembangan berarti hingga saat ini. Bandingkan pula dengan aliran Sarvastivada yang akhirnya lenyap dari Tiongkok karena tidak bersedia menyesuaikan dengan budaya setempat. Tentu saja, penerimaan budaya setempat hendaknya tidak menghilangkan semangat asli Buddhisme. Yang Arya Yogi Chen pernah mengatakan: "Oranglah yang hendaknya menyesuaikan diri pada Dharma dan bukannya Dharma yang menyesuaikan diri dengan orang itu." Jadi jelas Dharma tidak dapat dikompromikan. Tetapi ajaran yang terlalu kaku juga tidak akan bermanfaat. Jadi sekali lagi kita harus kembali pada Jalan Tengah. Suatu penyesuaian boleh saja asalkan tidak menghilangkan semangat asli Buddhisme. Oleh karena itu, sekali lagi mengharapkan suatu ajaran Buddhis yang 100 % sama di tempat seluas itu sangatlah mustahil. Buddhisme Theravada di Muangthai dan Myanmar sendiri sudah berbeda. Masing-masing mengembangkan tradisinya sendiri. Masing-masing memiliki metode meditasinya sendiri. Kita patut mengakui bahwa perbedaan itu memang ada.

Kini yang perlu kita lakukan adalah memahami mengapa perbedaan itu dapat terjadi. Ambil contoh masalah jubah. Di negara tropis seperti India mengenakan jubah tanpa lengan tidak masalah, tetapi apa yang terjadi bila Buddhisme menyebar hingga ke kutub utara atau Siberia yang suhunya mencapai minus 50 derajat Celsius? Jika jubah semacam itu dipertahankan, bisa-bisa bhikkhunya akan mati kedinginan. Tentu saja, Buddha tidak pernah mengajarkan seseorang untuk mati kedinginan bukan? Jadi Vinaya perlu kita ambil esensinya dan bukan menerimanya secara harafiah. Esensi pattimokkha adalah mengajarkan seorang biarawan Buddhis untuk hidup secukupnya. Tentu apa yang dimaksud "secukup"nya ini berbeda dari masing-masing lokasi geografis ke lokasi geografis lainnya. Kita tidak dapat memukul rata semuanya. Di tempat-tempat yang beriklim dingin orang membutuhkan pakaian dan makanan yang berbeda dengan orang di daerah tropis. Hidup "secukup"nya tidak sama dengan hidup "kekurangan" atau menyiksa diri. Jadi, selama hal itu tidak menimbulkan kemelekatan maka masalah jubah hendaknya tidak dipersoalkan. Banyak orang yang menuduh Mahayana telah menyimpang dalam hal penggunaan jubah, padahal hal ini tidaklah benar. Bila kita hanya menilik seseorang dari jubahnya saja, di Muangthai banyak pula bhikkhu yang mengenakan jubah yang "benar" tetapi melakukan penyimpangan dalam hal lainnya. Memang benar, bahwa Vinaya yang ditetapkan Buddha tidak dapat dikompromikan. Tetapi ini dalam artian esensinya dan bukan makna harafiahnya. Seorang bhikshu Mahayana boleh saja mengenakan pakaian berlengan, jika memang itu yang dibutuhkannya. Tetapi jika ia mulai menghiasi pakaiannya dengan mutiara atau emas, barulah itu boleh dianggap penyimpangan. Sejarah membuktikan bahwa Vinaya Pali sendiri juga mengalami evolusi dari waktu ke waktu.
Lalu bagaimanakah, suatu aliran dapat diterima sebagai bagian dari Buddhisme? Setidaknya ada beberapa syarat:

(1)Mengakui Buddha Sakyamuni sebagai guru utama
(2)Mengakui Empat Kebenaran Mulia dan Delapan Jalan Tengah
(3)Menerima anatta, dukkha, anicca
(4)Mengakui adanya hukum karma dan patticcasamupada
(5)Menerima nibanna sebagai tujuan tertinggi

Lima butir di atas mencerminkan dasar Buddhisme yang tidak dapat diingkari sebagai seseorang yang mengaku murid Buddha.

Teori dan Praktik Dalam Buddhisme

Teori dan Praktik dalam Buddhisme
Ivan Taniputera dipl. Ing.
16 November 2006

Pengantar

Karya tulis ini dihasilkan karena keprihatinan penulis terhadap perselisihan yang terjadi di dunia Buddhis sehubungan dengan masalah teori dan praktek. Sebagian umat Buddha menyatakan bahwa praktek lebih penting dibandingkan teori, sehingga mereka tidak lagi bersedia mendalami ajaran Dharma lebih lanjut. Bahkan terjadi kecenderungan untuk melabeli orang lain yang tidak sepaham dengan mereka sebagai orang yang "hanya dapat berteori tanpa berpraktek." Jadi, apa yang dimaksud dengan "praktek" ini lalu dijadikan semacam alat untuk merendahkan orang lain. Sebaliknya, ada umat Buddha yang menyatakan bahwa teori lebih penting ketimbang praktek, atau dengan kata lain seseorang hendaknya mempelajari teorinya terlebih dahulu sebelum menjalankan praktek Buddhis. Tetapi, pandangan ini juga membawa efek samping, yakni dapat membuat seseorang terlena dan terus menerus mempelajari teori tanpa mempraktekkannya. Selain itu, tanpa dipraktekkan ajaran Buddhis dapat membawa pada kebingungan, pertanyaan ataupun spekulasi yang tidak bermanfaat, sebagaimana yang akan diulas dalam tulisan ini.
Dengan demikian, karya tulis ini dimaksudkan sebagai wahana untuk menempatkan teori dan praktek pada proporsinya yang benar, sebagaimana yang diajarkan oleh Buddha beserta para guru pewaris Jalan. Kita akan mengupas manakah yang lebih penting teori atau praktek dalam Buddhisme. Oleh karena merupakan penganut Buddhisme Mahayana-Tantrayana, penulis akan lebih banyak mengutip sutra Mahayana serta naskah-naskah Tantra.

1.Teori dan praktek mana yang lebih penting?

Ajaran Buddha yang secara umum mengandung aspek teoritis serta praktikal, bertujuan untuk membuat umat manusia dan semua makhluk berbahagia serta terbebas dari penderitaan. Kukai (774 - 835), seorang sesepuh aliran Shingon (Tantrayana) di Jepang menyatakan bahwa teori dan praktek adalah dua hal yang tak terpisahkan, seperti yang dinyatakan dalam kutipan berikut ini:

Buddhisme esoterik (Tantrayana) menurut Kukai, dibagi dua kategori, yakni: aspek teoritis (kyoso) dan aspek praktikal (jiso). Hal ini dapat diumpamakan dengan dua roda kereta atau sepasang sayap seekor burung (1)

Dengan demikian, teori dan praktek jelas sekali merupakan dua hal yang tak terpisahkan, khususnya bagi Buddhisme Vajrayana dan tentunya seluruh aliran Buddhisme secara umum. Jadi tidak ada yang lebih penting dibandingkan dengan yang lainnya. Berdasarkan analogi kereta dan burung di atas, apabila salah satu roda kereta lebih besar dibandingkan yang lain, maka kereta itu tidak akan dapat berjalan dengan baik. Hal yang sama berlaku pada seekor burung, jika salah satu sayapnya lebih besar dibandingkan yang lainnya, maka burung itu juga tidak dapat terbang dengan baik. Jadi teori dan praktek adalah dua hal yang tak terpisahkan dan harus dilakukan secara seimbang. Pada bagian selanjutnya akan diulas apakah yang akan terjadi bila terdapat ketidak-setimbangan di antara keduanya.

2.Teori atau intelektualisme mengabaikan praktek

Bagian ini akan membahas mengenai apakah yang dimaksud dengan berteori tetapi mengabaikan praktek, serta akibat-akibat buruknya bagi perjalanan spiritual seseorang. Myoe (abad ke-13), seseorang sesepuh aliran Kegon dan Shingon (Tantrayana) pernah mengatakan:

..., seseorang hendaknya belajar bila ada waktu luang. Namun apabila engkau hanya menyibukkan dirimu dengan studi intelektual, maka pikiranmu akan dilelahkan oleh sampah-sampah perbedaan doktrinal. Pada akhirnya, engkau akan terjerat ke arah itu, menjadi tidak tenang, dan benakmu hanya semata-mata disibukkan oleh buah-buah pikiran. Renungkan hal ini baik-baik (2)

Dengan demikian, teori dianggap telah mengabaikan praktek apabila pikiran seseorang hanya semata-mata dipenuhi oleh kebingungan. Salah satu wujud kebingungan itu, misalnya berhubungan dengan perbedaan doktrinal yang terjadi di antara berbagai sekte atau aliran Buddhisme. Kebingungan ini timbul karena Dharma hanya dipahami secara intelektual dan tidak dipraktekkan. Hal terburuk yang mungkin terjadi adalah timbulnya pandangan bahwa sekte atau alirannya sendiri yang paling benar; sedangkan yang lainnya adalah sesat. Sebagai contoh, adalah pandangan terhadap Buddha Amitabha yang populer dalam Buddhisme Mahayana. Ada sebagian orang yang mengkritik bahwa keyakinan terhadap Buddha Amitabha ini bertentangan dengan ajaran Buddha yang asli, sehingga dapat dianggap sebagai ajaran sesat. Mereka menggunakan kanon Pali sebagai acuan yang membantah eksistensi Buddha Amitabha beserta alam Sukhavati-nya. Namun, di dalam Buddhisme Mahayana sendiri, yang penting bukanlah Buddha Amitabha itu "ada" atau "tidak ada," melainkan metode praktek meditasinya. Dengan demikian, tidaklah penting, apakah Buddha Amitabha itu "eksis" atau "tidak." Membantah atau membuktikan eksistensi Buddha Amitabha dengan setumpuk bukti-bukti doktrinal atau intelektualisme merupakan sesuatu yang tidak tepat sasaran.
Efek samping berikutnya adalah timbulnya kebingungan terhadap ajaran Buddha, sehingga membangkitkan pertanyaan atau keraguan yang tidak perlu. Sebagai contoh adalah yang berkenaan dengan ritual memberi makan hantu kelaparan (preta), sebagaimana yang dipraktekkan oleh Buddhisme Mahayana (3) dan juga Theravada (4) Ada orang yang mempertanyakan apakah makanan yang dipersembahkan dapat benar-benar mencapai hantu kelaparan tersebut. Ini memang seolah-olah merupakan pertanyaan kritis, tetapi intisari ritual itu tidaklah terletak pada diterima atau tidaknya makanan persembahan pada para hantu kelaparan. Makna ritual ini sebenarnya terletak pada pembangkitan belas kasih dalam hati seseorang, yang peduli pada penderitaan makhluk lain. Ini dinyatakan oleh Buddha pada bagian akhir sutra tersebut:

Harapan bahwa dengan makanan ini semua orang akan beroleh usia panjang serta kedamaian. Dapat membangkitkan kemurnian dalam hati seseorang. Semua dewa akan senantiasa melindunginya, karena ia telah melakukan dana-paramita yang sempurna (5).

Jadi tata-cara ritual di atas, sesungguhnya adalah wujud pelaksanaan dana-paramita, yang tidak dapat dipahami berdasarkan pikiran intelek semata. Kebingungan itu selanjutnya dapat menimbulkan akibat buruk beserta keraguan atau sikap skeptis berlebihan terhadap Dharma. Bahkan akhirnya seseorang mungkin meninggalkan Dharma.
Seseorang mungkin pula menjadi sombong karena merasa telah memiliki banyak pengetahuan Dharma. Ia akan dengan mudah mencela orang lain yang dianggapnya tidak memiliki pengetahuan memadai. Padahal tingkat pencapaian spiritual tidaklah ditentukan oleh banyaknya pengetahuan yang dimiliki.
Dengan demikian, berdasarkan fakta-fakta di atas, secara ringkas pengabaian terhadap praktek dapat membawa akibat buruk sebagai berikut:

1.Timbulnya anggapan bahwa alirannya sendiri yang paling baik dan mencela aliran lain.
2.Timbul kebingungan dan keraguan terhadap Dharma.
3.Timbulnya pertanyaan yang tidak perlu.
4.Timbulnya kesombongan.
5.Meninggalkan Dharma.

Sebagai penutup, ada satu hal penting yang perlu diungkapkan di sini: penelaahan dan studi terhadap Dharma secara benar sesungguhnya adalah juga praktek Dharma. Ditinjau dari sudut pandang Mahayana, membaca sutra tanpa mengetahui artinya saja sudah merupakan tindakan terpuji, apalagi jika sanggup memahami maknanya. Jadi selama akibat-akibat buruk di atas tidak timbul, studi terhadap Dharma tidak dapat dikatakan berbeda dengan praktek.

3.Praktek mengabaikan teori atau intelektualisme

Hanya mementingkan praktek dan mengabaikan teori juga tidak akan membawa kemajuan spiritual, bahkan seseorang dapat terjerumus ke dalam jurang hambatan spiritual, seperti meyakini atau mempraktekkan sesuatu secara membuta, padahal apa yang disangkanya selaras dengan Ajaran Buddha itu justru bertentangan dengan Dharma. Oleh karena itu, Buddha pernah mengajarkan pada suku Kalama agar mempertimbangkan segala sesuatu masak-masak terlebih dahulu:

Oleh karena itu, warga suku Kalama, janganlah percaya begitu saja berita yang disampaikan kepadamu, atau oleh karena sesuatu yang sudah merupakan tradisi, atau sesuatu yang didesas-desuskan. Janganlah percaya begitu saja apa yang tertulis di dalam kitab-kitab suci, juga apa yang dikatakan sesuai logika atau kesimpulan belaka, juga apa yang katanya telah direnungkan dengan seksama, juga apa yang kelihatannya cocok dengan pandanganmu atau karena ingin menghormati seorang pertapa yang menjadi gurumu... tetapi terimalah kalau engkau sudah membuktikannya sendiri... (6).

Berdasarkan kutipan di atas, jelas sekali bahwa Buddhisme juga mementingkan intelektualisme. Apa yang didengar atau dibaca hendaknya direnungkan terlebih dahulu dengan seksama. Di zaman globalisasi ini, banyak guru-guru dan ajaran palsu telah bermunculan, bahkan banyak yang mengusung label Buddhis. Oleh karena itu, melalui pemahaman terhadap ajaran yang benar, seseorang akan dapat dengan mudah mengenali guru-guru palsu tersebut dan tidak mempraktekkan ajarannya secara membuta.
Pemahaman yang baik merupakan dasar bagi kemajuan dalam praktek. Pada Sutra Seratus Perumpamaan, Buddha memaparkan kisah perumpamaan sebagai berikut:

Suatu kali ada orang bodoh yang pergi mengunjungi rumah kawannya. Sahabatnya itu menyuguhkan makanan pada tamunya. Karena makanannya ternyata hambar rasanya, tuan rumah menambahkan sedikit garam padanya. Orang bodoh yang menjadi tamu itu mencicipi masakannya kembali, dan merasa bahwa makanan itu sudah lebih enak. Ia berpikir bahwa rasa lezat itu berasal dari garam yang baru saja ditambahkan. Karena berpikir bahwa makanannya akan menjadi makin enak, ditambahkannya banyak garam. Kemudian orang bodoh itu makan lagi dengan perut kosong. Namun kemudian perutnya terasa tidak enak dan ia jatuh sakit (7)

Jadi jelas sekali, orang yang melakukan sesuatu tanpa dasar pemahaman yang benar, justru berpotensi merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Orang bodoh dalam kisah di atas tidak memahami bahwa garam hendaknya hanya ditambahkan secukupnya saja. Agar dapat mengetahui bahwa garam yang terlalu banyak justru merusak cita rasa makanan atau bahkan menyebabkan sakit perut, seseorang tidak perlu mengalami cerita di atas. Ia dapat belajar dari pengalaman orang lain atau menarik konsekuensi logis dari peristiwa lain yang terjadi di alam - bahwa segala sesuatu memerlukan keseimbangan. Dalam mempraktekkan meditasi Buddhis, seseorang hendaknya mempelajari terlebih dahulu secara seksama apa yang dimaksud dengan meditasi benar. Lebih jauh lagi, saat hendak melakukan perbuatan baik, seseorang juga harus memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan perbuatan baik yang benar. Dharma mengandung makna yang luas dan dalam sehingga tak akan selesai dipelajari hingga seseorang meninggal, oleh karena itu belajar Dharma seharusnya merupakan proses yang berkesinambungan. Jadi di samping praktek, seseorang juga seyogianya terus menerus mempelajari Dharma.
Orang yang terlalu mementingkan praktek dapat pula terjerumus ke dalam kesombongan. Ada beberapa wujud kesombongan yang mungkin timbul. Pertama-tama, karena melekat pada suatu bentuk praktek, ia barangkali merasa bahwa apa yang dijalaninya itu merupakan sesuatu yang paling unggul dan mulai mencela orang lain. Umpamanya dengan mengatakan, "Meditasiku adalah yang paling unggul dan tercepat dalam membawa seseorang pada pembebasan." Orang yang gemar melakukan perbuatan amal dapat pula terjerumus dalam kesombongan dengan berpikir, "Melakukan perbuatan amal jauh lebih baik daripada duduk bermeditasi seperti patung." Seluruh pemikiran di atas bertentangan dengan semangat Buddhisme, sehingga tidak mencerminkan buah praktek Dharma yang benar. Seseorang mungkin pula mencela orang lain yang tidak sepaham dengannya sebagai orang yang tidak berpraktek Dharma dengan benar. Padahal yang dijadikan acuan adalah diri sendiri atau ke"aku"annya. Jadi tolok ukur praktek orang lain adalah kesepahaman dengan dirinya. Ke"aku"an praktisi semacam ini justru menjadi semakin tinggi, sehingga melenceng dari semangat Buddhisme yang asli.
Lebih jauh lagi, sebelum seseorang menjalankan meditasi, perlu terlebih dahulu mengetahui dasar-dasarnya dengan baik. Sutra Shuragama menyebutkan potensi timbulnya hambatan psikofisikal, yang disebut dengan "iblis skandha." Secara keseluruhan terdapat lima kelompok hambatan psikofisikal ini (sesuai dengan panca-skandha), yang masing-masing dibagi lagi menjadi sepuluh jenis (secara keseluruhan ada 50). Berikut ini adalah kutipan dari Sutra Shurangama mengenai salah satu wujud "iblis" yang menyerang rupa-skandha:

Ananda, apabila saat itu seseorang yang dengan mendalam mengamati kegemilangan nan ajaib itu, maka keempat unsur tidak lagi bekerja, dan dengan segera tubuh akan sanggup mengatasi hambatan. Kondisi ini disebut "kegemilangan murni yang menyatu ke lingkungan sekelilingnya." Ini merupakan kondisi sementara dalam proses pelatihan diri dan tidak menandakan perealisasian mulia sama sekali. Bila ia tidak berpikir bahwa ia telah menjadi seorang suciwan, maka hal ini baik sekali. Tetapi bila ia memandang dirinya telah menjadi seorang suciwan, maka kondisi semacam itu mudah sekali jatuh ke dalam pengaruh iblis.

Dalam bermeditasi seseorang mudah sekali mengalami hal-hal yang "luar biasa," seperti melihat cahaya gemilang. Ini merupakan proses yang biasa dan sama sekali tidak menandakan suatu realisasi spiritual tingkat unggul. Tetapi, orang yang tidak mengerti barangkali akan merasa bahwa ia telah mencapai suatu tingkatan spritual yang tinggi. Pada kondisi kejiwaan semacam ini, mudah sekali baginya untuk bersikap sombong dan jatuh ke dalam pengaruh hambatan batiniah yang diistilahkan dengan "iblis" tersebut. Apabila seseorang tidak mempelajari sutra di atas terlebih dahulu, akan mudah baginya terjerat ke dalam pandangan salah yang pada akhirnya menimbulkan kesombongan. Oleh karena itu, studi sutra bukanlah sesuatu yang remeh atau tidak perlu. Seseorang yang meremehkan studi sutra, mudah sekali terjerat oleh kesalahan dalam berpraktek. Pentingnya mempelajari Dharma dapat dijumpai pula dalam Sutra Buddhavacana Maitreya Bodhisattva yang menyebutkan mengenai Pranidhana-Maha-Dasa atau Sepuluh Janji Utama yang terdiri dari:

1.Hormat kepada para Buddha
2.Memuji Buddha
3.Memuja Buddha
4.Bertobat
5.Ikut bergembira
6.Memohon kepada Buddha untuk memutarkan Roda Dharma
7.Memohon kepada Buddha untuk menetap di semesta
8.Tekun menuntut ajaran Buddha
9.Mengabdi kepada segala makhluk
10.Menyalurkan jasanya (8)
Silakan perhatikan janji utama keenam dan kedelapan, yang memohon agar Buddha senantiasa membabarkan Dharma serta ketekunan dalam mempelajari Dharma.
Berdasarkan kenyataan-kenyataan di atas, kita dapat melihat akibat buruk pengabaian terhadap teori:

1.Timbulnya kesombongan (dirinya lebih hebat dari orang lain yang "tidak sepaham" dengannya atau merasa metode meditasinya yang terbaik serta paling benar)
2.Percaya sesuatu secara membuta (meyakini sepenuhnya perkataan seorang guru, orang yang dianggap bijaksana, atau yang tertulis pada sebuah buku)
3.Mudah jatuh ke dalam pandangan salah (iblis skandha)
4.Apa yang dipraktekkannya mungkin melenceng dari Dharma

4.Pandangan terhadap skolatisisme Buddhis

Dewasa ini minat terhadap Buddhisme semakin meningkat di dunia Barat, sehingga membangkitkan banyak sarjana Buddhis, seperti Paul Williams, David J. Kaluhapana, Thomas Cleary, John Blofeld, Peter Della Santina, Kogen Mizuno, dan lain sebagainya. Masing-masing berusaha menghadirkan Buddhisme sebagaimana adanya, tanpa diselimuti oleh sentimen keagamaan. Salah satu hal yang menjadi pokok bahasan para ahli Buddhologi adalah masalah otentisitas sutra-sutra Buddhis:

Terdapat bukti bahwa bangsa Tionghua secara khusus begitu terkesan pada sutra-sutra Mahayana, sehingga mereka mengarang sejumlah sutra "asli tapi palsu," yang beberapa di antaranya memainkan peranan penting dalam perkembangan Buddhisme Tiongkok. Mahaguru Zen Jepang yang bernama Dogen (abad ketigabelas), pada masa mudanya di Tiongkok, mencurigai bahwa Surangama Sutra (berbeda dengan Surangamasamadhi Sutra yang dianggap asli), salah satu sutra penting dalam Buddhisme Zen, bukanlah sutra otentik yang berasal dari India. Pandangan ini kini diterima oleh para sarjana pada umumnya.... Terlepas dari semua itu, tradisi pra-Mahayana menganggap bahwa seluruh sutra Mahayana adalah palsu! (9).

Para sarjana tersebut di atas membedah kitab suci Buddhisme dengan wahana intelektulitas dan kritik teks, sehingga sampai pada kesimpulan di atas. Memang benar, bahwa ditinjau dari segi historis serta kritik teks, naskah-naskah Mahayana diragukan keasliannya. Belakangan, ditemukan pula bukti bahwa kanon Pali yang lebih tua sekalipun juga mengalami evolusi, khususnya Vinaya Pitaka:

Ternyata kemurnian naskah Pali yang asli itu tidaklah seperti yang kita yakini sebelumnya. Terdapat bagian-bagian yang ditambahkan belakangan, seperti bagian Patimokkha Pali yang disebut Matika. Sutta-sutta menyebutkan bahwa bagian itu terdiri dari 150 butir aturan pelatihan, tanpa Aniyata dan Sekhiyavatta, yang ditambahkan belakangan setelah zaman penulisan sutta tersebut. Sementara itu, Vibhanga Pali, yang mengupas butir-butir aturan pelatihan diri dalam Patimokkha, menyebutkan mengenai persembahan yang diberikan umat pada cetiya. Ini memperlihatkan bahwa naskah ini berasal dari zaman yang lebih kemudian lagi, dimana cetiya telah menjadi tempat yang dianggap suci serta umat mulai terbiasa membawa persembahan ke sana. Contoh lain lagi adalah tercantumnya prosedur-prosedur yang harus dilakukan saat menghadapi perpecahan dalam sangha, tetapi ini bukanlah kebiasaan yang dianut Sang Buddha, karena para guru hendaknya berusaha mempersatukan kembali siswa-siswa mereka yang bertikai. Mereka seharusnya tidak menetapkan suatu metode yang justru makin memperlebar jurang perpecahan yang terjadi. Tambahan itu mungkin saja berasal dari para bhikkhu Mahavihara dan Abhayagirivihara di Srilanka yang terlibat perpecahan. Penulisan sabda-sabda lisan itu nampaknya tidak akan dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa murni serta memiliki kesadaran penuh, karena kecerobohan tidak berlaku bagi mereka. Sehubungan dengan Kitab Vibhanga, tidaklah jelas apakah yang tertulis di sana adalah sabda-sabda Buddha sendiri ataukah berasal dari buah pemikiran penulisnya, karena terdapat pertentangan di dalamnya. Contoh kesalahan dalam Vibhanga adalah penjelasannya mengenai butir aturan bagi kain compang-camping lama (old rug), sebagaimana yang tercantum dalam butir aturan Nissaggiya Pacittiya, Kosiya-vagga 5. Penulis Vibhanga mendefinisikannya sebagai Jubah yang dikenakan hanya sekali. Padahal kain compang-camping itu seharusnya dipergunakan sebagai alas duduk dan bukannya dikenakan sebagai jubah. Warnanya saja berbeda dengan jubah yang biasa dikenakan oleh para bhikkhu. Kesalahan ini terjadi karena pada bagian sebelumnya ia baru saja membahas mengenai jubah lama (Nissaggiya Pacittiya, Civara-vagga 4), yang menyatakan bahwa jubah itu dianggap ama� apabila telah dikenakan sekali. Karena ceroboh ia menyalin begitu saja penjelasannya itu pada bagian selanjutnya (10).

Apa yang diungkapkan para sarjana itu adalah suatu fakta yang harus dihadapi oleh umat Buddha. Tetapi apakah fakta-fakta seperti itu akan menjadi serangan terhadap Buddhisme atau meruntuhkan keyakinan umat Buddha? Bila fakta semacam itu sanggup diposisikan dengan benar, tentu saja tidak akan berpengaruh terhadap keyakinan umat Buddha, karena pandangan Buddhis terhadap otentisitas jauh berbeda dengan tolok ukur para ahli Buddhologi tersebut. Umat Buddha memandang otensitas dari segi substansi atau isi suatu teks Buddhis. Jadi kendati suatu teks atau naskah yang dikatakan disabdakan oleh Buddha ternyata berasal dari masa ratusan atau ribuan tahun sesudah Buddha memasuki nirvana, tetapi apabila isinya selaras dengan semangat asli Buddhisme, ia tetap dianggap "otentik." Dalam salah satu kisah Zen disebutkan mengenai seorang guru yang membawa muridnya memandangi sebuah lukisan yang indah karya seniman ternama. Murid itu sangat mengabumi mahakarya seni tersebut. Ketika diberitahu bahwa karya itu sesungguhnya bukan karya asli seniman tersebut, sang murid menjadi kecewa. Namun gurunya mengatakan, "Karya asli seniman terkemuka itu atau bukan, toh engkau telah mengagumi keindahannya."
Dengan demikian, hasil penelitian para sarjana Buddhologi, bukanlah ancaman bagi Buddhisme; bahkan sebaliknya memberikan nuansa baru bagi umat Buddha dalam memahami sejarah asal mula agamanya. Banyak ajaran dalam naskah-naskah Buddhis yang dapat dipahami lebih baik dengan metode kritik teks serta hermeneutika, yakni menempatkan naskah itu pada konteks zamannya. Untuk itu diperlukanlah disiplin ilmu Barat, sehingga skolatisisme menjadi sesuatu yang kompatibel dan saling melengkapi dengan Buddhisme tradisional. Seseorang dapat menjadi seorang praktisi atau umat Buddha yang baik dan sekaligus seorang sarjana yang senantiasa mengedepankan metode ilmiah dalam mengulas sesuatu.
Ada sebagian orang yang menyatakan bahwa, skolatisisme Buddhis tidak mendatangkan manfaat, karena tidak membawa seseorang pada praktek Dharma. Pandangan ini tidak dapat dibenarkan, karena tujuan skolatisisme atau kajian ilmiah terhadap Buddhisme tidak dimaksudkan sebagai kegiatan spiritual. Dengan demikian, argumen yang menentang skolatisisme di atas tidak tepat, karena tujuan keduanya saja sudah berbeda. Skolatisisme ditujukan untuk mempelajari suatu ajaran secara ilmiah, sehingga setidaknya dapat diketahui bagaimana sejarah perkembangannya dari masa ke masa; sebaliknya, praktek Dharma merupakan kegiatan spiritual yang ditujukan untuk membimbing seseorang makin dekat pada pembebasan. Bila skolatisisme dianggap tidak bermanfaat, maka mempelajari cabang-cabang sains yang lain (fisika, kimia, biologi, dan lain sebagainya) juga harus dianggap tidak berguna (dengan alasan bahwa mempelajari sains juga tidak membawa seseorang pada praktek Dharma). Pandangan seperti itu jelas tidak sesuai bagi dunia modern dan dapat menimbulkan kesalah-pahaman bahwa Buddhisme bersikap anti-sains. Kajian ilmiah terhadap Buddhisme merupakan sesuatu yang berbeda dan tidak dapat dicampur adukkan dengan kegiatan spiritual Buddhis. Masing-masing harus memiliki ruang lingkupnya sendiri-sendiri dan tidak dapat dicampur-adukkan. Bagi seseorang yang hidup di muka bumi ini dan masih terjun di tengah-tengah masyarakat, harus terjadi keseimbangan antara praktek Dharma dan aktifitas duniawi. Menyatakan bahwa praktek Dharma adalah yang terpenting dan mengabaikan kegiatan duniawi, juga merupakan pandangan ekstrim yang bertentangan dengan Buddhisme. Bahkan seorang rohaniwan Buddhis terkadang juga masih berkutat dalam kegiatan-kegiatan duniawi.
Sampai di sini, dapat disimpulkan bahwa tujuan seseorang mempelajari Dharma ada dua macam: sebagai penunjang praktek (spiritual) dan sebagai kajian ilmiah (skolatisisme). Mempelajari Buddhisme sebagai kajian ilmiah semata sesungguhnya juga merupakan jalan menuju Kebuddhaan, seperti yang dinyatakan dalam Sutra Saddharmapundarika bab II:

Jika terdapat seseorang dengan pikiran kalut
Memasuki stupa ataupun candi
Dan Menangis meskipun hanya mengucapkan Namah Buddha (Terpujilah Buddha)
Ia telah menapaki Jalan Kebuddhaan.

Berdasarkan kutipan di atas, seseorang yang sekalipun dengan pikiran kacau mengucapkan nama Buddha, dikatakan telah menapaki jalan menuju Kebuddhaan. Oleh karena itu, seorang sarjana yang mempelajari Buddhisme, kendati hanya demi kajian ilmiah semata, seharusnya juga dapat dianggap telah mengikat jodoh karma dengan Kebuddhaan. Dengan demikian, skolatisisme bukanlah sesuatu yang tercela atau dianggap remeh; bahkan dapat pula dianggap sebagai bagian praktek Dharma. Meskipun seorang sarjana Buddhologi belum membawa apa yang dipelajarinya ke dalam tataran praktek spiritual, tetap saja ia dapat dikatakan telah "berpraktek."

5.Teori dan praktek - Realita nan tunggal

Di dalam Sutra Samdhinirmocana dinyatakan:

Ajaran Buddha adalah terlepas dari jangkauan dari bahasa/ kata-kata, dan ia terbebas pula dari dualisme. Kedalamannya berada di luar jangkauan pemahaman orang bodoh. Di dalam pandangan salah yang mereka anut, orang-orang bodoh menyenangi dualisme serta menumpukan kepercayaan pada kata-kata [semata].

Buddhisme mengajarkan bahwa kata-kata semata tidaklah mewakili hakekat atau esensi sejati segala sesuatu. Kata-kata atau bahasa adalah semata-mata wahana yang diciptakan guna mengomunikasikan "sesuatu" pada orang lain; tetapi ia bukanlah "sesuatu" itu sendiri. Karena terbebas dari batasan kata-kata, Realita Terunggul juga terbebas dari dualisme. Dengan demikian, teori dan praktek apabila ditinjau dari sudut Realita Terunggul bukanlah sesuatu yang berbeda atau bertentangan. Mempertentangkan teori dan praktek jelas bertolak bekang dengan makna sejati Buddhisme, karena sesungguhnya kedua hal itu adalah suatu kesatuan "kedemikianan segala sesuatu" (tathata) yang tak terpisahkan dalam dharmadatu. Jadi tidak ada "teori" dan juga tidak ada "praktek," karena semuanya adalah wujud konsep-konsep atau gagasan berupa kata-kata yang bermain dalam benak seseorang. Teori adalah praktek dan praktek juga adalah teori.

CATATAN KAKI

(1) Kukai Major Works, halaman 76.
(2) Shingon Refractions, halaman 276.
(3) Lihat Sutra Dharani Penolong Hantu Kelaparan dengan Mulut Berapi yang Disabdakan Buddha (Sansekerta: Pretamukhanijvalayasarakaradharanisutra; Mandarin: Foshuojiubayankoueguituoluonijing) - Taisho Tripitaka 1313.
(4) Lihat Tirokuddha Sutta.
(5) Terjemahan dari bahasa Mendarin.
(6) Kalama Sutta.
(7) Sutra Seratus Perumpamaan, kisah pertama.
(8) Dharma Pitaka halaman 272.
(9) Mahayana Buddhism halaman 39.
(10) The Entrance to the Vinaya: Vinayamukha, volume one, halaman x - xi.

Daftar Pustaka

Dharma Pitaka, Sangha Mahayana Indonesia

Hakeda, Yoshito S. Kukai Major Works: Translated, with an Account of His Life and a Study of His Thought, Columbia University Press, New York, 1972.

Keenan, John P. The Scripture on the Explication of Underying Meaning, Numata Center, 2000 (Catatan: terjemahan bahasa Inggris bagi Sutra Samdhinirmocana)

Sadakata, Akira. Buddhist Cosmology: Philosophy and Origins, Kosei Publishing Co., Tokyo, 2004.

Tanahashi, Kazuaki & Levitt, Peter. A Flock of Fools: Ancient Buddhist Tales of Wisdom and Laughter From The One Hundred Parable Sutra, Grove Press, 2004 (Catatan: terjemahan bahasa Inggris bagi Sutra Seratus Perumpamaan).

Unno, Mark. Shingon Refractions: Myoe and the Mantra of Light, Wisdom Publications, Boston, 2004.

Vajirananavarorasa, Phra. The Entrance to The Vinaya: Vinayamukha vol. 1, Mahamakutarajavidyalaya, Bangkok, 1992.

Watson, Burton. The Lotus Sutra, Columbia University Press, New York, 1993 (Catatan: terjemahan bahasa Inggris bagi Sutra Saddharmapundarika).

William, Paul. Mahayana Buddhism: The Doctrinal Foundations, Rotledge, London, 1989.

Last edited by usnisha; 13-02-09 at 09:35.